Tuesday, October 30, 2007

Turun ke Bumi


Tahukah kau?
Sayap yang sedang tumbuh itu,
sekarang harus kucabut dari punggungku.
Kini aku sedang membuang sebagian dari tubuhku.

Tahukah kau?
Dahulu...

Ketika tulang-tulang sayap itu baru menjadi tunas,
ada rasa sakit yang luar biasa.

Tahukah kau?
Helai-helai bulunya tumbuh
dari semua mimpi dan harapanku.

Tahukah kau?
Telah ada sebuah peta kugambarkan untuk perjalanan ini.

Tahukah kau?
Aku tetap memutuskan untuk terbang tanpa sayap.
Terbang meluncur tak berteman peta
bukan menuju langit.
Mencapai jurang gelap.
Meninggalkan semua kegelisahan dan
Berteman akrab dengan hasrat yang carut marut.

Bagiku, diammu adalah jawaban
atas semua kesia-siaan waktu dan musim.

Baiklah..
Kini aku pergi,
untukMu.


Writer: Ayu N. Andini
Image tittle: Tears of heaven..
(Taken from Talaria website)

Monday, September 24, 2007

My Progress

Setidaknya, belalang bisa tahu
mana rumput yang rasanya lebih manis di mulut.

Setidaknya, tikus tanah juga bisa merasakan
kapan matahari akan datang.

Setidaknya, kutu-kutu busuk
juga bisa memilih kursi mana yang empuk untuk didiami.


Setidaknya, alam mengenalku
walaupun kami tidak terlalu akrab.

Aku selalu punya cara sendiri untuk bisa merasakan cintanya,
yaitu dengan memberikan semua cintaku padanya.

Kepada Tuhan,
terima kasih atas semua berkahmu.

Aku tahu,
walaupun orang lain selalu bilang aku ini beruntung,
tapi aku bisa mengerti itu.

Mereka tak terlalu mengenalku...
cuma Kau yang mengenalku dengan sangat baik.
Sejak Kau tulis namaku dalam buku kehidupan dan kematian.

Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle: Into The Gate

Monday, September 17, 2007

Jika Insting yang Menang


Karunia yang diberikan, kadang tak jadi perhitungan
untuk disadari dan patut disyukuri..

Manusia diberi otak dengan jutaan jumlah sel.
Manusia dikaruniai insting yang hingga sekarang,
tak kutahu dimana tempatnya.

Apakah insting itu ada di otak,
atau dia hanya ada di hati..?

Insting banyak muncul ketika manusia berada dalam posisi terdesak...
Apakah karena lapar maka ia harus membunuh?
Apakah karena miskin tak berharta maka ia harus menipu?
Apakah karena cinta dan hasrat maka ia harus mulai belajar berdusta?

Jika jawabannya adalah : iya,
maka insting yang menang.
Kejujuran dan kebaikan,
boleh hengkang selamanya dari sini?

Kalau itu yang terjadi, maka akulah yang mati.




Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle : The Victim

Wednesday, September 12, 2007

Great Ramadhan Greetings



Image are designed by image trailer chef
Writer: Ayu N. Andini

Monday, September 10, 2007

Musim Bercinta



Musim kemarau,
membiarkan pohon mangga berbunga lebat
membiarkan matahari menari lebih lebih lama
kerlip sinarnya menyambar memedihkan pandangan mata
hinggap di atas tanah hingga mengeras membatu
datang ke ujung-ujung daun jagung yang menguning
mengundang serta musim meranggas singgah
di pohon akasia pingiran jalan.

Tak perlu kemarau berlama-lama mengundang angin pancaroba,
ia akan menyapa daun-daun pohon jati
melibas batang-batang tua pohon sekitar pantai
juga mengantarkan sakit flu ke setiap kulit yang dibelainya.

Awan abu-abu bergulung
membungkus dan menggelapkan bumi
mengusir matahari.

Hujan datang ke celah-celah tanah,
pada daun-daun perdu,
menyiksa batu-batu di sungai,
dan merontokkan kembang-kembang rambutan
yang sedang mekar.

Tak ada musim semi yang anginnya sejuk
dengan salju yang mencair, matahari hangat,
dan mekarnya bunga-bunga tulip dan crysant.

Kita cuma bisa bercinta di dua musim.
Ketika bumi basah dan ketika matahari marah.

Semoga,
kelak anak kita akan semanis musim semi,
sehangat dan seterang matahari,
juga setegar batu yang kerap disiksa hujan.


I Love You...M !

Writer : Ayu N. Andini
Photo by : Ayu N. Andini
Photo Tittle: The Full Colour of Banyuwangi

Sunday, September 09, 2007

Slowdown Baby...
















Baru tadi pagi kau ajak ku berkenalan
Lalu siang hari kau mulai ajak ku berkencan
Hingga waktu malam tiba,
kau ucapkan yang tak kuduga
Sungguh sulit ’tuk percaya,
kau nyatakan cinta !!

No! No! No ! No! Tunggu dulu!
Cinta jangan buru-buru
Karena kurasa terlalu cepat
Ku takut semua palsu!

No! No! No! No! Tunggu dulu
Cinta jangan buru-buru
Masih ada banyak waktu
Biarkan cinta mengalir!!

Slowdown baby..
Take it eazy,
Just let it flow !!!!

Ilustration text taken from SHE lyrics
Image Tittle : Slowdown baby...
Photo by Ayu N. Andini

Wednesday, September 05, 2007

Happy Birthday, Adhi


Live up your life!
And forget your age..!

Happy Birthday..Adhi
Being single is not your fault.

kamu tau, kan...
Matahari itu bukan pasangannya bulan...
Matahari dari dulu sampai sekarang juga sendirian.
seperti halnya bumi...!

Being single is the best time that you ever had...
Trust me!

Kepada teman lamaku, Adhi Pramudya
Lelaki bawel di Sastra Arab pada zamannya...


Writer : Ayu N. Andini
Image are creatred by image chef


Monday, September 03, 2007

A Thousand Miles


Making my way downtown
Walking fast faces pass
And I'm home bound
Staring blankly ahead

Just making my way
Making a way through the crowd
And I need you

And I miss you
And now I wonder....

If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
'Cause you know I'd walk a thousand miles
If I could just see you ..
tonight !

Ilustration taken from Vanessa Carlton lyrics.
Photo Tittle : Through My Feet
Photo by Ayu N. Andini

Thursday, August 30, 2007

Membumi


Untuk apa manusia dikaruniai mata yang indah?

agar ia mampu melihat segala yang juga buruk.


Untuk apa manusia dikaruniai hati yang busuk?

agar nanti ada manusia lain yang disakiti olehnya.


Mengapa Tuhan membiarkan manusia disakiti?

agar manusia bisa benar-benar menghargai apa artinya bahagia...



Writer: Ayu N. Andini
Tittle image: My Earth
Photo and design image by Ayu N. Andini

Friday, August 03, 2007

Plesiran


Tahukah ketika diri disergap banyak pertanyaan,
mencari jawaban, ternyata bukan jalan keluar terbaik.
Maka, bercerminlah sering-sering.

Tahukah ketika simpanan masa lalu dalam peti brankas
yang terkunci rapat dan kau tanam di tengah hutan perawan,
kau gali kembali?
Ternyata, tak akan masa depan yang kau lihat di sana.
Cuma ada carut marut luka lama yang kering dan sembuh,
dan luka, dan kering, dan sembuh...
begitu terus menerus...membuang sisa usiamu.

Tahukah kau ketika kau diserang rasa:
sauhmu menemukan laut dan samudera yang ingin kau arungi?
Maka masa depan sedang kau lukis di kedalamannya.

Jauhkan hidupmu dari rasa jengah kepada badai.
Karena badailah yang akan menjadi sahabat terdekat hati kalian berdua.


Ada tumpukan harapan dan doa terbaik saya, untuk pernikahan kalian.
(this poem is a wedding gift for my best friends : Abah Dony dan Noor)


Writer : Ayu N. Andini
Image by National Geographic

Thursday, August 02, 2007

Konyolisasi


Konyol kalau kubilang,
ketika masyarakat Indonesia kala itu menghargai para selir raja.

Konyol kalau kubilang,
ketika para Raja diijinkan punya permaisuri sekaligus selir-selir.

Konyol kalau ada yang bilang,
bahwa agama membolehkan para suami untuk berpoligami.

Konyol juga, kalau misalnya...
nasib sejarah Indonesia direpotkan oleh urusan selir, poligami, dan perceraian.

Hah!!!!!!!!
Hasrat memang sangat liar.
Tak ada tembok kokoh untuk membatasi yang satu ini.
Tak ada tirani untuk memenjarakan yang namanya birahi.
Tak ada yang bisa menahannya.

Karena yang namanya kesetiaan,
ia berwajah selembut ibu,
berperilaku semulia bidadari,
berkulit halus seperti permaisuri,
dan sedikit cengeng.
Sangat rentan dengan segala hal!
Sangat lemah di segala sisi!

Maka, akan sangat konyol kalau semua manusia,
juga masih menyalahkan setan iblis yang berbuat itu pada dirinya.
Berbuat tidak setia,
melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kecil,
dan pengingkaran terhadap keadaan-keadaan faktual dirinya.

Manusia memang konyol...
dan pembohong.


Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Exist

Sunday, July 29, 2007

Farewell Party


Waktu itu, aku lari-lari
di tengah pematang sawah
di belakang rumah nenekku
di Banjaran, Kabupaten Bandung sana. Haha..
Agak sulit menyusuri jalan pematang yang sekecil itu, dengan tubuh gempalku.
Kakiku masih mungil waktu itu. Usiaku, masih 3 tahun.

Waktu itu, ayahku memanggilku pulang,
tapi aku cengar cengir...sambil pegang-pegang ujung daun-daun padi..
Lalu ayahku berjalan mendekat...
Waaaaa..aku cepat-cepat berlari.. Kami tertawa sama-sama..
Lalu dia berhasil menangkap tubuh gempalku.
Dan ibuku memotret aku dan ayahku
di tengah pematang sawah..

Rinduku pada ayahku sudah memuncak...
Tak cukup lagi hanya memandang nisannya..
Tak henti doa kuucap untuknya...
Aku ingin memeluknya..
Kepada siapa aku menuntaskannya?
Bagaimana aku menuntaskannya?
Tuhanku,...berikan cara untukku!


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Being Central

Saturday, July 28, 2007

Pesta Untukmu, Anak Indonesia


Perayaan puncak Hari Anak Nasional 2007 yang melibatkan sekitar 6.000 anak, digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.

HAN 2007 juga diperingati di berbagai tempat secara mandiri. Satu di antaranya, oleh Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Peringatan Hari Anak Nasional 2007 dirayakan di sana tanggal 19 Juli 2007. Panitianya nota bene para aktifis di lingkungan Komnas Perlindungan Anak, Jakarta. Tamu istimewa yang ditunggu-tunggu pada hari itu, tak lain adalah anak-anak jalanan yang diundang datang dari daerah Depok, Jawa Barat dan PKBM Kurnia di Kramat Jati, Jakarta. Jumlahnya ada 100 anak. Dari mulai yang usianya masih 5 tahun s/d 18 tahun. Kedatangannya ke tempat perayaan, tak sendiri-sendiri tapi berbondong-bondong, didampingi pembina/pembimbingnya masing-masing. Komnas Perlindungan Anak mendadak ramai hari itu.

Pagi itu acara dibuka dengan Ngopi Bareng Komnas Perlindungan Anak dan rekan-rekan dari berbagai media massa. Di sana, masalah-masalah anak Indonesia dikuak dan dibahas sekilas. Komnas Perlindungan Anak meninjau ulang tema Hari Anak Nasional versi pemerintah tahun 2007 ini. Dalam lembaran siaran persnya, disebutkan : bermaknakah Hari Anak Nasional (HAN) 2007 terhadap kompleksitas persoalan anak yang melanda negeri ini?

Bagaimanapun, Komnas Perlindungan Anak dengan segera melakukan upaya refleksi dan memilih merayakan HAN 2007 bersama selingkup kecil anak-anak jalanan. Sebagian anak yang kurang beruntung dan dimarginalkan ini, hingga kini tak mampu tertangani dengan baik oleh pemerintah.

Anak-anak Indonesia sesungguhnya dirundung berbagai masalah. Namun, bagaimana pun, anak-anak tetap anak-anak. Mereka tetap melompat riang, bernyanyi, tersenyum, dan tertawa lucu ketika Kak Seto naik ke panggung, memainkan boneka-bonekanya serta mengajak anak-anak jalanan ini bergembira sama-sama. Selain dihibur, anak-anak ini juga dapat ransum makan siang, kue-kue, dan bingkisan-bingkisan dari penyelenggara acara.

Walaupun hanya sebentar saja, tapi mereka diberi hak untuk itu. Untuk bergembira sebagai anak-anak. Esok, mereka kembali pada kehidupan keras di jalan. Menjadi penyapu kereta api, menjadi pengamen jalanan, tukang ojek payung, pemulung, penjual koran, dan banyak lagi.

Yusuf, anak jalanan yang putus sekolah. Usianya kini 18 tahun. Ia datang dari Depok untuk ikut rayakan HAN 2007 di Komnas Perlindungan Anak hari itu. Sekarang ia sedang meneruskan SMAnya di Yayasan Bina Insani Mandiri (YABIM), Depok. “Disini sekolah gratis. Saya juga jadi tukang bersihin sekolah saya sendiri di SMA YABIM Depok. Dulu, saya sempat jadi tukang sapu di kereta. Sekarang saya mau nerusin sekolah. Saya juga ingin, teman-teman saya sesama anak jalanan bisa menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mau jadi polisi, mbak,” ucapnya sambil senyum malu-malu.

Ia hanya segelintir kecil anak jalanan yang punya harapan. Walau sedikit yang termotivasi, tapi ini bisa jadi modal besar untuk mengajak anak-anak lainnya emnggantungkan cita-cita setinggi langit.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, dan berkantor di Jakarta.
Baca juga liputan lengkap Hari Anak Nasional 2007
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Wings of Hope

Wednesday, July 25, 2007

Spektakuler tapi Tidak Terlalu Istimewa


Umurnya sudah kolot.
Sekitar 400an tahun lebih.
Udah banyak yang mati gara-gara kurang makan di sini.
Udah banyak yang kalah dan menyerah di sini.
Udah banyak yang dibunuh preman di kota ini.
Udah banyak yang diculik dan diperas di sini.
Udah banyak yang jadi korban perampokan di kota ini.

Mungkin karena keberatan nama dan status, Jakarta jadi begini.
Ibu kota negara. Tempat utama kunjungan kenegaraan, ya di sini juga.
Apakah mereka yang jadi penghuni asli Jakarta
juga bangga punya kota yang se-semrawut ini?
Nggak tau juga, aku belum pernah bikin angketnya.
Tapi kayaknya kalo ditanya betah atau nggak, mereka akan lebih banyak menjawab begini:
"Yaaaa..gimana ya? Saya lahir di sini, besar di sini, cari uang di sini.
Nyaman? yaaaa..gimana yaa?"
Haha...pasti mereka tak punya pilihan.

Apakah yang sekarang jadi penduduk Jakarta,
juga mengenal kota ini sebaik dia mengenal kota lainnya?
Jawabnya, belum tentu.
Jakarta, misterius.
Segala sesuatu bisa terjadi di sini.

Saya bisa bilang kota ini metropolis norak,
karena gayanya yang setengah-setengah.
Membuat image metropolis, tapi nanggung banget.
Jadi..mmmm..rasanya, seperti orang pacaran
yang cuman pandangan mata doang. Nggak ciuman, nggak pelukan.

Katakanlah...sepertinya kurang afdol.

Maka nya, gaya metropolisnya jadi norak.
Ya..maaf juga kepada para pendukung gerakan metropolis di kota ini.
Anda-anda ini memang pribadi yang urban.
Jadi..memang tak akan bisa jadi afdol.

Kota ini seharusnya menjadi kota tempat orang-orang pekerja keras.
Tapi budaya "anak titipan" dan sogokan untuk masuk ke sebuah perusahaan, woooo..di Jakarta, jangan di tanya. Buanyaaak...!!

Tapi buat yang masuk dan terseleksi resmi
untuk dipanggil dan bekerja di kota ini, ya..selamat!!!
Ini memang kota buat kalian. Buat kita.
Maka habiskan waktu kalian untuk jadi profesional jempolan.
Karena Jakarta sudah memanggilmu untuk datang menjelajahi tubuhnya.

Welcome to Jakarta!!!
Be Brave..!!!
Untuk Ojie dan Michael


Writer: Ayu N. Andini
Image are created by image chef

Wednesday, July 18, 2007

How can I pretend that I don't now what's going on?

Di Bandung, kota sejuk yang nyaman itu, masih juga banyak anak-anak gelandangan di setiap simpang jalan dan lampu merah pusat kotanya. Yang ngamen, yang minta-minta, yang nge-lap kaca mobil, banyak..!

Di Jakarta? Jangan tanya. Gelandangan yang kategorinya paling lengkap memang ada di sini. Dari manusia yang umur 1 hari sampai kakek nenek jompo juga ada.

Waktu hari Sabtu (14/7/2007) kemarin saya liputan di Ancol, banyak anak-anak yang tampak "bersih" penampilannya, dikawal lengkap oleh orangtua mereka, jalan-jalan di Pasar Seni. Lalu singgah buat ikutan lomba menggambar di sana. Antusiasnya bukan main! Saya tidak pernah lupa dengan binar matanya Beatrice, anak umur 3 tahun yang sibuk mewarnai waktu itu.

Sebenarnya, anak-anak gelandangan juga punya binar mata yang sama ketika mereka antusias menerima uang kertas ribuan rupiah dari tangan kita.
Kadar pola pikirnyanya sungguh seperti jurang dan pegunungan. jauuuuhhh..banget!

Penanganan pemerintah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung ini, memang terkesan terpenggal-penggal. Depsos sibuk ama kampanye hak kesejahteraan hidup bagi anak. Depdiknas sibuk sendiri dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dan program BOS nya. Departemen Kesehatan, sibuk sorangan ngurusan kebutuhan gizi anak-anak ini.

Bayangkan, ada 3 departemen yang mengurusi hak anak. Belum lagi, ditambah dengan LSM-LSM Perlindungan Anak. Hmmm..banyak ya! sayangnya, mereka sibuk sendiri-sendiri, berlomba-lomba bikin program unggulan supaya dapet perhatian presiden dan perhatian dunia. Biasaaalaahh..egoisme Departemen masing-masing kan pasti jadi motivator kuat untuk masalah ini.

Sementara itu, program bantuan yang datang luar negeri, udah pasti lebih bagus. Tapi banyak dicurigai juga mengambil keuntungan "terpendam". Jadi, mustinya cara paling jitu adalah kurangi angka kelahiran dan pikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang jadi hak anak itu. Jika belum bisa terpenuhi, jangan "bikin" anak duluuuuuu.

Jangan lagi pake semboyan ,"Banyak anak, banyak rejeki."
Kuno banget sih looo..!!! Pikirkan juga secara berimbang tentang hak anak-anak kalian nantinya. Supaya Indonesia tidak terlalu lama jadi negara konsumen dan negara produsen yang terjajah terus menerus.

Untuk anak-anak Indonesia, "Selamat hari Anak Nasional, semoga kalian menjadikan Indonesia lebih baik lagi, lebih trendy lagi, dan lebih berkuasa atas separuh lebih wilayah Asia Tenggara."

Catatan: yang disebut sebagai anak adalah (manusia usia 0 s/d 17 tahun).


Writer : Ayu N. Andini

Monday, July 16, 2007

Menjaga Diri dari Diriku Sendiri


Udah pasti kenal dengan yang namanya bahaya laten. Itu, bahaya yang datangnya dari dalam. Seperti musuh dalam selimut. Seperti duri dalam daging. Seperti cabe rawit yang ditaruh di dalam tahu goreng. Mulus dari luar, tapi sekali gigit, ah...pedas!

Ketika aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah membocorkan rahasia tentang potensi diri setiap manusia, aku mafhum. Karena jika semuanya terlalu sadar akan hal itu, akan terjadi perang dunia ke-3, ke-4, dan ke-5, mungkin yang ke-6 sekarang.


Iya!! Karena ketika semua manusia sangat sadar pada kelebihan-kelebihan yang ia miliki, ia akan dilahap mentah-mentah oleh instingnya sendiri. Manusia kan lekat dengan image "tak pernah puas". Ada sebagian efek positif yang akan terjadi, tapi akan terjadi peristiwa kanibalisme besar-besaran.

Lihat aja, toko-toko yang pasang tulisan besar-besar "DISKON 70%", tau kan, rekasi apa yang akan terjadi? belanja sepuasnya, sampe duitnya cekak, cuman cukup buat ongkos taksi pulang ke rumah.

Ketika setiap manusia sadar pada kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, itu letaknya seperti pada labirin tipis. Karena sesuatu yang sangat terkenal akan menjadi batas bahwa tak semua hal harus kita mengerti. Itu, namanya TAKDIR.

Ada banyak rahasia di sana. ketika kita sadar, kita bisamembaca, apa yang ada dipikiran kita? Akan ada banyak rahasia yang terungkap! Tapi tidak untuk yang satu itu. TAKDIR, jadi rahasia yang dipegang teguh Tuhan bagi semua ciptaannya. Aku percaya itu. Takdir itu penuh dengan rencana-rencana Tuhan, yang cuma diketahui Tuhan. Mungkin malaikat cuma bisa mengintip aja. Tidak benar-benar tahu persis.

Aku jadi paham, karena ternyata tak ada manusia yang diijinkan bisa membaca dan memahami dirinya sendiri. Tuhan hanya menginjinkannya sebanyak mmm... 50% kira-kira. Tidak bisa lebih. Sisanya, jadi tugas manusia lain untuk bisa membaca dan memahaminya. Itu sebabnya kita punya sahabat, teman dekat, pacar, istri, suami, ibu, ayah, anak, cucu, kakek, nenek kita sendiri. Bahkan mungkin ada sebagian kecil mmm..10% nya jadi jatah dukun-dukun dan paranormal yang dibayar utk meramal, membaca dan memahami.

Memang butuh cermin, untuk bisa paham tentang diri sendiri. Dulu, saya pernah dengar tentang Lacan, yang banyak bicara tentang mirror effect. Ah..tapi bisa gila, baca bukunya.

Masing-masing dari kita mungkin sadar potensi, setelah kita bekerja. Dan dikontrak secara profesional. Dibayar gajinya tiap bulan. Karya atau kerjaan dihargai dengan karir dan upah. Itu, pemahaman yang berjalan di sini. Di tempat yang fana ini.

Hmm...bagaimana kita bisa paham tentang kedalaman keinginan kita sendiri?
Aku merasakannya sekarang seperti menyelam ke kedalaman laut, lalu masuk ke palungnya yang entah....seperti tak pernah ada dasarnya yang bisa kuraba.

Apakah cita-cita menjadi batas dari semuanya? Lalu bagaimana dengan harapan-harapan orang yang menyayangi kita? Apakah itu juga menentukan dan membentuk keinginan-keinginan kita? Mau ditaruh dimana mereka?
Bagaimana membuat mereka mengerti aku? Bagaimana membuatku mengerti mereka? Karena ternyata, ada bahaya yang sedang mengancamku. Itu, diriku sendiri..!!! Aku butuh orang lain untuk membantuku mengendalikannya. Tapi tak ada yang kulihat menoleh padaku, saat ini. Semuanya sibuk dengan potensi dirinya masing-masing.


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Tittle : Power of Nature 01

Friday, July 13, 2007

Improvisasi Kesuburan



Air mencacah batu menjadi belah
Akar menembus dinding menjadi retak
Daun tertidur di tanah, namun tak lantas merusaknya.

Aku datang ke sini, punya janji ketemu dengan daun-daun di pelataran parkir
Aku me-lap keringatmu, lantaran hatiku berjanji pada tubuh dan otakku.
Aku mengingat semua yang pernah kulupa,
karena aku tak ingin kembali ke masa lalu.

Walau aku menanti usia seperti pohon jati
Setelah cukup umur, akan ditebang.
Walau aku menanti usia seperti pohon karet
Setelah cukup umur, baru pantas ditoreh.

Aku menantimu seperti laut.
Yang rindu angin, bunyi kapal, tebaran jala nelayan, dan datangnya ribuan ikan di dalamku.

Aku menjelma menjadi samudera kecil.
Kosong dan sepi.
Menanti alam memberi dayanya padaku.

Sekarang, aku jadi merpati yang terbang padamu.
Cuma ingin sampaikan surat.
Katanya isinya penting, buatmu.
Surat ini dari masa lalu..
Tapi aku datang dari masa depanmu.
Lalu kutaruh surat untukmu ke dalam botol.
Kularungkan ke samudera.
Maaf, sudah kubuang.
Mungkin kamu sedang menungguku,
Maaf, aku tidak bisa datang.
Ada meeting merpati pos antar negara.

Pagi ini, aku jadi demonstran
bergerombol berjalan kaki ke istana negara.
Aku memakai penutup wajah supaya tak mudah dikenali
Aku membawa spanduk bertuliskan : SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Aku juga berteriak keras-keras :HAI..SEMOGA PANJANG UMUR YA!!! AKU SELALU BERDOA, TUHAN AKAN MELINDUNGIMU!!!

Tapi tak kulihat dirimu
yang kini masih senang menyapa masa lalumu.

Happy birthday, honey..
I really don't know about what you want from me..

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Print of Nature

Thursday, July 12, 2007

Menjadi Rahasia


Aku pernah tak paham tentang rahasia.
Yang pertama kali aku tahu, ada sesuatu yang tak terpahami. Dan itu hanya dipahami orang lain di luar diri dan tubuhku.
Dan bagi yang tahu ini, tak juga ingin membaginya denganku.

Sejak itu, aku sering memuaskan pikiran-pikiranku dengan kegiatan "mencari tahu". Lalu, tiba-tiba aku menjelma menjadi anak kecil yang sangat banyak bertanya. Seperti ketika pertama kalinya aku mengintip ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar, sendirian. Kudekati dia, kupeluk dia, dan aku ikut menangis. Kutanya padanya, "Ada apa, ma?"

Tapi, tak pernah ada jawaban. Esoknya, aku tidak melihatnya menangis, tapi aku melihatnya tak bercakap-cakap lagi dengan ayahku. Wajah mereka, kecut bagiku. Tapi aku bertanya, "Kenapa, pa?
Dan tidak lama kemudian, ada bunyi piring pecah di ruang makan. Ibuku lari masuk ke kamar. Ayahku berdiri tegak, semua makanan di piringnya sudah berantakan di lantai.
Aku tidak paham, kenapa tak ada pertanyaanku yang ingin mereka jawab.

Tapi beberapa hari kemudian, kulihat mereka seperti hari-hari yang biasa. Bercakap-cakap saat makan siang dan makan malam, lalu ayahku menanyakan kegiatanku di sekolah. Dan kami tertawa bersama, waktu nonton video rekaman disko bola yang ayahku simpan di kaset VHS nya.

Akhirnya aku paham, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku hanya untuk mereka berdua saja.
Dan bukan buatku, perempuan kecil, usia sembilan tahun.

Itukah yang namanya rahasia? Apakah rahasia adalah sesuatu yang punya rasa, bau, dan dapat kurasakan halus kasar permukaannya? Bagaimana rupanya rahasia itu? Kapan aku bisa berahasia? Waktu itu, aku punya banyak pertanyaan. Tapi kusimpan saja, buatku. Apakah aku juga sudah berahasia? Apakah berahasia itu membuat dosa? Waktu itu, aku belum tahu.

Sekarang, aku menjadi si rahasia.
Yang digelapkan. Yang disembunyikan. Yang tak terkatakan.

Jangan tanya bagaimana rasanya menjadi si rahasia.
Karena aku akan menjawab:
rasanya seperti ditiup angin dingin musim kemarau.
rasanya seperti di tampar-tampar oleh gerimis.
rasanya seperti pohon karet yang ditoreh-toreh dan disadap getahnya,
lalu ditinggal jika getahnya mengering...

(karena menjadi rahasia, membuatku tak ingin melanjutkan hidupku terlalu lama..)


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle: Lonely

Thursday, July 05, 2007

Ikan, Hewan yang Menarik


Minggu kemarin, ada beberapa peristiwa yang akhirnya menarikku dan seniorku (Mang Rudi)untuk meliput ke sebuah tempat menarik di Sumedang. Sebenarnya, tempat ini cuma kolam pemancingan biasa. Tapi untuk orang-orang yang pertama kali datang kesana, goshhhh! Kalau dilukiskan sebagai manusia, tempat ini charming be'eng.

Namanya, Clomgado Indah. Bunyi bahasanya tidak terdengar lazim. Konon katanya, itu memang nama daerah tempat kolam pemancingan ini. Udaranya, nyaris mirip dengan Lembang. Untuk yang kuliah di Jatinangor tapi belum pernah dateng ke sini, huuuuu....rugi!

Letaknya diapit dua bukit kecil. Lokasinya ada di kecamatan Cimanggung, Tanjung sari. Nggak perlu bayar mahal untuk dateng kesini (kecuali untuk beli bensin atau bayar ojek) karena jarak dari jalan masuk ke Parakan Muncang cukup jauh. Sekitar 5 KM.

Di sana, kita cuma dikenakan biaya jika telah memperoleh hasil pancingan. Jika tidak, ya nggak usah bayar. Gratis. Ikan hasil pancingan ini bisa langsung dimasak di sini. Per kilo nya dikenakan lagi biaya olahan sebesar Rp 24.000,-. Tinggal pilih menunya mau digoreng atau dibakar?

Kalau tidak punya alat pancing, di sini bisa pinjam. Umpannya juga ada. Siap memancing, kan????!


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Thursday, June 07, 2007

Hidangan Kegemaran Asli Betawi

Dahulunya, kota ini disebut Batavia. Sekarang dikenal sebagai Jakarta. Penduduk aslinya yang keturunan Betawi, kini lebih banyak menghuni daerah pinggiran-pinggiran kota. Tapi segala hal yang khas, tetap melekat diingatan setiap orang.

Jakarta dan kesibukan orang-orang di dalamnya, Jakarta dan kepadatan di jalan raya, Jakarta dan debu-debu dari asap kendaraan, Jakarta dan segala kemajuan pembangunannya, tak urung membuat banyak orang berdatangan ke kota ini. Apa saja yang mereka cari? Selain keberuntungan dan segala macam peluang usaha, ada hal-hal lain yang membuat orang tak pernah menjauh dari Jakarta.

Salah satunya, hidangan-hidangan khas dari tanah Betawi ini. Tidak sedikit orang yang kerap mencari berbagai tempat di Jakarta untuk sekedar mencicipi dan menikmati seporsi nasi uduk, soto betawi, atau sop buntut. Karena banyaknya penggemar menu-menu asli betawi ini, maka tak heran jika menu-menu ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat makan luar daerah Jakarta.

Sop Buntut Legendaris
Dari kebanyakan pengunjung Bogor Café di Hotel Borobudur Jakarta, selalu memesan menu Sop Buntut Legendaris. Sedapnya rasa Sop Buntut Legendaris telah menyebar ke segala penjuru lewat kabar berita dari mulut ke mulut. Pada awalnya, resep menu ini dibuat dengan konsep sajian yang asli Betawi. “Waktu itu, tahun 1979 saya ikut mendorong gerobak sop buntut ini di dalam restoran Hotel Borobudur Jakarta.

Menu ini sudah ada sejak tahun 1978. Kami menjualnya benar-benar seperti penjual sop buntut Jakarta yang selalu pakai gerobak dorong itu,” ujar Sugito, executive sous chef Hotel Borobudur Jakarta sambil mengenang sejarah Sop Buntut Legendaris di tempatnya bekerja selama ini. Bahkan pada saat Hotel Borobudur Jakarta di renovasi tahun 1995 s/d 1997, restorannya tetap dibuka untuk memenuhi keinginan konsumen.

Sugito menjelaskan, “Sejak hotel ini di renovasi pada awal tahun 1995, dan tidak beroperasi selama kurang lebih 2 tahun. Sebetulnya pada masa renovasi itu, restorannya tetap melayani pembeli, terutama untuk melayani tamu-tamu garden wing. Itu tamu-tamu dari apartemen yang ada di sekitar sini. Karena ruangannya belum terlalu luas, kami hanya bisa melayani 20 s/d 30 orang. Penggemar sop buntut kami tetap ada. Dan ketika selesai masa renovasi, orang-orang selalu menanyakan keberadaan menu ini.”

Pada masa-masa renovasi hotel, ada beberapa tempat makan yang berusaha meniru resep sop buntut ini. Bahkan Sugito melihat bahwa di lokasi Jakarta Pusat juga ada yang menjual menu dengan nama Sop Buntut Borobudur. Akhirnya pihak Hotel Borobudur Jakarta pun sepakat untuk menamakan menu ini menjadi Sop Buntut Legendaris. “Banyak yang menyukai menu ini. Bahkan ada yang sengaja datang ke Jakarta hanya untuk makan sop buntut di sini,” ungkap Sugito. Bayangkan saja, setiap harinya Bogor Café membutuhkan sekitar 200 kg buntut sapi segar untuk memenuhi keinginan penggemar menu ini.

Apa yang menjadikan menu ini begitu istimewa bagi para penggemarnya? Sugito berbagi rahasia resepnya kepada TC. Ia memaparkan bahwa trik-triknya ada pada awal proses perebusan buntut sapi. “Buntut sapi yang jadi bahan dasarnya, dikuliti dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan ke dalam air mendidih. Setelah kita memasaknya dengan air mendidih sebanyak tiga kali pengulangan, buntutnya sudah lunak dan agak matang. Gantikan airnya dengan mendidih yang baru. Dengan api kecil, buntut sapi direbus pelan, sambil memasukkan bumbu-bumbunya. Jahe, merica, garam, cengkeh, dan bubuk pala. Tambahkan daun bawang dan wortel. Tujuannya untuk menambah aroma,” jelasnya.

Menu Sop Buntut Legendaris disajikan hangat dengan taburan bawang goreng, daun bawang, daun seledri, dan beberapa iris tomat di dalamnya. Lebih nikmat ditemani dengan pelengkapnya. Setangkup nasi, sedikit sambal, acar ketimun, dan bubuhi juga perasan air jeruk nipis ke dalam Sop Buntut Legendaris, sesuai selera.

Soto Betawi dan Pletok Betawi
H. Rano Karno, pemiliknya yang seniman berdarah betawi ini adalah juga pemeran film Si Doel Anak Betawi pada era tahun 1979-an. Si Doel Anak Betawi, memang jadi acuan simbol bagi konsep di Waroeng Si Doel. Waroeng Si Doel yang berlokasi di kawasan Kafe Tenda Semanggi, Jakarta Pusat memberikan suasana yang serba Betawi. Mulai dari warna pada ruang-ruang makannya yang tiga lantai ini, didominasi oleh warna kuning terang dan hijau daun. Ubin ruangan pun dipilihkan dari jenis ubin yang klasik.

“Setiap pengunjung yang sudah lanjut usia menginjakkan kakinya di ubin Waroeng Si Doel, pasti langsung menyatakan bahwa mereka seperti sedang berada di dalam rumahnya pada zaman dulu,” ucap Arman, supervisor Waroeng Si Doel. Desain menu yang ada di sini sebenarnya berusaha memenuhi selera semua pengunjung. Ada menu asli Betawi, ada menu American style, Japanese style, dan Chinese style.

Dari semua deret menu, ada menu utama yang dipertahankan untuk tetap ada dan disajikan pada para tamu. Selain Sop Buntut dan Nasi Uduk, ada Soto Betawi dan Pletok Betawi yang menjadi menu utama di sana. “Karena ini konsepnya Betawi, jadi menu-menu utamanya juga dipilihkan dari menu asli Betawi,” ucap Sarno, chef di Waroeng Si Doel. Soto Betawi, menu yang banyak dijual di berbagai tempat makan di Jakarta dan di luar Jakarta.

Tapi Soto Betawi yang ada di Waroeng si Doel, punya aroma yang khas. “Secara prinsip, semuanya memang hampir sama. Cuma beberapa cara pembuatannya saja yang agak berbeda. Tentang darimana aroma khasnya, menurut saya, itu karena ketika semua bumbu yang dihaluskan di sauted hingga matang dan mengeluarkan aroma yang wangi,” ungkapnya.

Menurut penuturannya, resep Soto Betawi di sana menjadi unggul karena tambahan bumbu jinten dan beberapa helai daun jeruk didalamnya. Daging, paru-paru, dan babat sapi, sebelumnya telah cukup matang direbus di tempat terpisah. Kemudian setelah ditiriskan dari air rebusan pertama, potongan daging, babat dan paru-paru sapi ini dimasukkan ke dalam air santan kelapa yang telah dibubuhi bumbu. Jika telah mendidih dan matang, menu ini disajikan dengan beberapa pelengkap. “Konsumennya bisa punya pilihan, ingin dihidangkan dengan nasi atau dengan lontong,” ujar Sarno. Soto Betawi Waroeng si Doel juga disediakan sesuai keinginan para tamu. “Pilih saja isi sotonya. Jika tak suka dagingnya, bisa pesan isi soto pakai babat dan paru saja. Atau sebaliknya jika tidak ingin paru dan babat, kami juga bisa sediakan menu ini dengan isi daging sapinya saja,” tegas Arman.

Tak banyak berbeda dengan Sop Buntut Legendaris, menu Soto Betawi ini juga dihidangkan hangat di atas meja makan para tamunya, lengkap dengan taburan bawang goreng, daun seledri, daun bawang, dan emping. Di plat kecil terpisah, disediakan pula sambal soto dan acar ketimun.

Dari menu utama, kita beralih ke menu minuman khas Betawi dari Waroeng Si Doel. Namanya, Pletok Betawi. Sebutan ‘pletok’ diambil dari bunyi yang timbul ketika minuman ini diracik. Resepnya pun diperoleh dari hasil riset tim Waroeng Si Doel. Mereka harus menyisir ke daerah-daerah yang berpenghuni orang-orang Betawi asli, untuk menemukan resep asli minuman khas Jakarta. Risetnya dimulai pada akhir tahun 1995.

“Tidak terlalu lama, cuma butuh waktu tiga bulan saja, akhirnya kami temukan resep asli minuman Pletok Betawi ini di daerah Kampung Melayu,” tutur Dedy Karniadi, peracik minuman di Waroeng Si Doel. Konon, minuman ini adalah minuman kegemaran orang-orang Betawi. Namun sekarang sudah sangat jarang yang menjualnya. Untuk di Jakarta saja, kemungkinan besar hanya di Waroeng Si Doel yang menyediakannya. Karena nara sumber mereka untuk resep asli Pletok Betawi, telah lama meninggal dunia.

“Dulunya, beliau juga menjual minuman ini di Kampung Melayu. Disebutnya penjual ‘Aer Aus’. Salah satunya ada Pletok Betawi. Pertama kali saya minum di sana, Pletok Betawi diminum dingin dengan es batu. Waktu diracik, dikocok bersama es batu itu hingga berbunyi ‘pletok..pletok’. Namanya juga Pletok Betawi,”ungkapnya. Para tamu yang datang, banyak memuji minuman ini. Selain tak ada tempat lain yang menjualnya, rasanya pun belum punya bandingan.

Minuman dengan cita rasa rempah-rempah ini sudah punya tempat di hati penggemarnya. Pletok Betawi, berwarna merah dalam cangkir. Di permukaan airnya diberi taburan kacang tanah panggang. Aromanya harum rempah-rempah, rasanya manis dan hangat. Dedy memaparkan, “Campuran rempah-rempah yang ada didalamnya itu, ada kayu secang, jahe, serai, biji kapu laga, pala, cengkeh, kayu manis, dan cabe jawa.

Menurut mereka, kayu secang ini juga baik untuk mengatasi asam urat dan masuk angin pada tubuh kita.” Minuman asli Betawi ini disajikan dalam dua variasi. Dingin dan hangat. Setiap pemesan bisa meminumnya kapan pun. Nikmatnya tak dibatasi oleh cuaca. Jakarta, kota yang telah ratusan tahun berdenyut dan menghidupi jutaan orang di dalamnya. Ada banyak cara untuk menikmati kota yang berusia 479 tahun ini. Beberapa sajian makanan dan minuman asli Betawi ini, hanya sekelumit tanda yang siap membawa semua orang untuk berkenalan dan menjadi akrab dengan Jakarta.

Tulisan ini telah dimuat (tahun 2006) di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini