Sunday, July 29, 2007

Farewell Party


Waktu itu, aku lari-lari
di tengah pematang sawah
di belakang rumah nenekku
di Banjaran, Kabupaten Bandung sana. Haha..
Agak sulit menyusuri jalan pematang yang sekecil itu, dengan tubuh gempalku.
Kakiku masih mungil waktu itu. Usiaku, masih 3 tahun.

Waktu itu, ayahku memanggilku pulang,
tapi aku cengar cengir...sambil pegang-pegang ujung daun-daun padi..
Lalu ayahku berjalan mendekat...
Waaaaa..aku cepat-cepat berlari.. Kami tertawa sama-sama..
Lalu dia berhasil menangkap tubuh gempalku.
Dan ibuku memotret aku dan ayahku
di tengah pematang sawah..

Rinduku pada ayahku sudah memuncak...
Tak cukup lagi hanya memandang nisannya..
Tak henti doa kuucap untuknya...
Aku ingin memeluknya..
Kepada siapa aku menuntaskannya?
Bagaimana aku menuntaskannya?
Tuhanku,...berikan cara untukku!


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Being Central

Saturday, July 28, 2007

Pesta Untukmu, Anak Indonesia


Perayaan puncak Hari Anak Nasional 2007 yang melibatkan sekitar 6.000 anak, digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.

HAN 2007 juga diperingati di berbagai tempat secara mandiri. Satu di antaranya, oleh Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Peringatan Hari Anak Nasional 2007 dirayakan di sana tanggal 19 Juli 2007. Panitianya nota bene para aktifis di lingkungan Komnas Perlindungan Anak, Jakarta. Tamu istimewa yang ditunggu-tunggu pada hari itu, tak lain adalah anak-anak jalanan yang diundang datang dari daerah Depok, Jawa Barat dan PKBM Kurnia di Kramat Jati, Jakarta. Jumlahnya ada 100 anak. Dari mulai yang usianya masih 5 tahun s/d 18 tahun. Kedatangannya ke tempat perayaan, tak sendiri-sendiri tapi berbondong-bondong, didampingi pembina/pembimbingnya masing-masing. Komnas Perlindungan Anak mendadak ramai hari itu.

Pagi itu acara dibuka dengan Ngopi Bareng Komnas Perlindungan Anak dan rekan-rekan dari berbagai media massa. Di sana, masalah-masalah anak Indonesia dikuak dan dibahas sekilas. Komnas Perlindungan Anak meninjau ulang tema Hari Anak Nasional versi pemerintah tahun 2007 ini. Dalam lembaran siaran persnya, disebutkan : bermaknakah Hari Anak Nasional (HAN) 2007 terhadap kompleksitas persoalan anak yang melanda negeri ini?

Bagaimanapun, Komnas Perlindungan Anak dengan segera melakukan upaya refleksi dan memilih merayakan HAN 2007 bersama selingkup kecil anak-anak jalanan. Sebagian anak yang kurang beruntung dan dimarginalkan ini, hingga kini tak mampu tertangani dengan baik oleh pemerintah.

Anak-anak Indonesia sesungguhnya dirundung berbagai masalah. Namun, bagaimana pun, anak-anak tetap anak-anak. Mereka tetap melompat riang, bernyanyi, tersenyum, dan tertawa lucu ketika Kak Seto naik ke panggung, memainkan boneka-bonekanya serta mengajak anak-anak jalanan ini bergembira sama-sama. Selain dihibur, anak-anak ini juga dapat ransum makan siang, kue-kue, dan bingkisan-bingkisan dari penyelenggara acara.

Walaupun hanya sebentar saja, tapi mereka diberi hak untuk itu. Untuk bergembira sebagai anak-anak. Esok, mereka kembali pada kehidupan keras di jalan. Menjadi penyapu kereta api, menjadi pengamen jalanan, tukang ojek payung, pemulung, penjual koran, dan banyak lagi.

Yusuf, anak jalanan yang putus sekolah. Usianya kini 18 tahun. Ia datang dari Depok untuk ikut rayakan HAN 2007 di Komnas Perlindungan Anak hari itu. Sekarang ia sedang meneruskan SMAnya di Yayasan Bina Insani Mandiri (YABIM), Depok. “Disini sekolah gratis. Saya juga jadi tukang bersihin sekolah saya sendiri di SMA YABIM Depok. Dulu, saya sempat jadi tukang sapu di kereta. Sekarang saya mau nerusin sekolah. Saya juga ingin, teman-teman saya sesama anak jalanan bisa menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mau jadi polisi, mbak,” ucapnya sambil senyum malu-malu.

Ia hanya segelintir kecil anak jalanan yang punya harapan. Walau sedikit yang termotivasi, tapi ini bisa jadi modal besar untuk mengajak anak-anak lainnya emnggantungkan cita-cita setinggi langit.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, dan berkantor di Jakarta.
Baca juga liputan lengkap Hari Anak Nasional 2007
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Wings of Hope

Wednesday, July 25, 2007

Spektakuler tapi Tidak Terlalu Istimewa


Umurnya sudah kolot.
Sekitar 400an tahun lebih.
Udah banyak yang mati gara-gara kurang makan di sini.
Udah banyak yang kalah dan menyerah di sini.
Udah banyak yang dibunuh preman di kota ini.
Udah banyak yang diculik dan diperas di sini.
Udah banyak yang jadi korban perampokan di kota ini.

Mungkin karena keberatan nama dan status, Jakarta jadi begini.
Ibu kota negara. Tempat utama kunjungan kenegaraan, ya di sini juga.
Apakah mereka yang jadi penghuni asli Jakarta
juga bangga punya kota yang se-semrawut ini?
Nggak tau juga, aku belum pernah bikin angketnya.
Tapi kayaknya kalo ditanya betah atau nggak, mereka akan lebih banyak menjawab begini:
"Yaaaa..gimana ya? Saya lahir di sini, besar di sini, cari uang di sini.
Nyaman? yaaaa..gimana yaa?"
Haha...pasti mereka tak punya pilihan.

Apakah yang sekarang jadi penduduk Jakarta,
juga mengenal kota ini sebaik dia mengenal kota lainnya?
Jawabnya, belum tentu.
Jakarta, misterius.
Segala sesuatu bisa terjadi di sini.

Saya bisa bilang kota ini metropolis norak,
karena gayanya yang setengah-setengah.
Membuat image metropolis, tapi nanggung banget.
Jadi..mmmm..rasanya, seperti orang pacaran
yang cuman pandangan mata doang. Nggak ciuman, nggak pelukan.

Katakanlah...sepertinya kurang afdol.

Maka nya, gaya metropolisnya jadi norak.
Ya..maaf juga kepada para pendukung gerakan metropolis di kota ini.
Anda-anda ini memang pribadi yang urban.
Jadi..memang tak akan bisa jadi afdol.

Kota ini seharusnya menjadi kota tempat orang-orang pekerja keras.
Tapi budaya "anak titipan" dan sogokan untuk masuk ke sebuah perusahaan, woooo..di Jakarta, jangan di tanya. Buanyaaak...!!

Tapi buat yang masuk dan terseleksi resmi
untuk dipanggil dan bekerja di kota ini, ya..selamat!!!
Ini memang kota buat kalian. Buat kita.
Maka habiskan waktu kalian untuk jadi profesional jempolan.
Karena Jakarta sudah memanggilmu untuk datang menjelajahi tubuhnya.

Welcome to Jakarta!!!
Be Brave..!!!
Untuk Ojie dan Michael


Writer: Ayu N. Andini
Image are created by image chef

Wednesday, July 18, 2007

How can I pretend that I don't now what's going on?

Di Bandung, kota sejuk yang nyaman itu, masih juga banyak anak-anak gelandangan di setiap simpang jalan dan lampu merah pusat kotanya. Yang ngamen, yang minta-minta, yang nge-lap kaca mobil, banyak..!

Di Jakarta? Jangan tanya. Gelandangan yang kategorinya paling lengkap memang ada di sini. Dari manusia yang umur 1 hari sampai kakek nenek jompo juga ada.

Waktu hari Sabtu (14/7/2007) kemarin saya liputan di Ancol, banyak anak-anak yang tampak "bersih" penampilannya, dikawal lengkap oleh orangtua mereka, jalan-jalan di Pasar Seni. Lalu singgah buat ikutan lomba menggambar di sana. Antusiasnya bukan main! Saya tidak pernah lupa dengan binar matanya Beatrice, anak umur 3 tahun yang sibuk mewarnai waktu itu.

Sebenarnya, anak-anak gelandangan juga punya binar mata yang sama ketika mereka antusias menerima uang kertas ribuan rupiah dari tangan kita.
Kadar pola pikirnyanya sungguh seperti jurang dan pegunungan. jauuuuhhh..banget!

Penanganan pemerintah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung ini, memang terkesan terpenggal-penggal. Depsos sibuk ama kampanye hak kesejahteraan hidup bagi anak. Depdiknas sibuk sendiri dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dan program BOS nya. Departemen Kesehatan, sibuk sorangan ngurusan kebutuhan gizi anak-anak ini.

Bayangkan, ada 3 departemen yang mengurusi hak anak. Belum lagi, ditambah dengan LSM-LSM Perlindungan Anak. Hmmm..banyak ya! sayangnya, mereka sibuk sendiri-sendiri, berlomba-lomba bikin program unggulan supaya dapet perhatian presiden dan perhatian dunia. Biasaaalaahh..egoisme Departemen masing-masing kan pasti jadi motivator kuat untuk masalah ini.

Sementara itu, program bantuan yang datang luar negeri, udah pasti lebih bagus. Tapi banyak dicurigai juga mengambil keuntungan "terpendam". Jadi, mustinya cara paling jitu adalah kurangi angka kelahiran dan pikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang jadi hak anak itu. Jika belum bisa terpenuhi, jangan "bikin" anak duluuuuuu.

Jangan lagi pake semboyan ,"Banyak anak, banyak rejeki."
Kuno banget sih looo..!!! Pikirkan juga secara berimbang tentang hak anak-anak kalian nantinya. Supaya Indonesia tidak terlalu lama jadi negara konsumen dan negara produsen yang terjajah terus menerus.

Untuk anak-anak Indonesia, "Selamat hari Anak Nasional, semoga kalian menjadikan Indonesia lebih baik lagi, lebih trendy lagi, dan lebih berkuasa atas separuh lebih wilayah Asia Tenggara."

Catatan: yang disebut sebagai anak adalah (manusia usia 0 s/d 17 tahun).


Writer : Ayu N. Andini

Monday, July 16, 2007

Menjaga Diri dari Diriku Sendiri


Udah pasti kenal dengan yang namanya bahaya laten. Itu, bahaya yang datangnya dari dalam. Seperti musuh dalam selimut. Seperti duri dalam daging. Seperti cabe rawit yang ditaruh di dalam tahu goreng. Mulus dari luar, tapi sekali gigit, ah...pedas!

Ketika aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah membocorkan rahasia tentang potensi diri setiap manusia, aku mafhum. Karena jika semuanya terlalu sadar akan hal itu, akan terjadi perang dunia ke-3, ke-4, dan ke-5, mungkin yang ke-6 sekarang.


Iya!! Karena ketika semua manusia sangat sadar pada kelebihan-kelebihan yang ia miliki, ia akan dilahap mentah-mentah oleh instingnya sendiri. Manusia kan lekat dengan image "tak pernah puas". Ada sebagian efek positif yang akan terjadi, tapi akan terjadi peristiwa kanibalisme besar-besaran.

Lihat aja, toko-toko yang pasang tulisan besar-besar "DISKON 70%", tau kan, rekasi apa yang akan terjadi? belanja sepuasnya, sampe duitnya cekak, cuman cukup buat ongkos taksi pulang ke rumah.

Ketika setiap manusia sadar pada kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, itu letaknya seperti pada labirin tipis. Karena sesuatu yang sangat terkenal akan menjadi batas bahwa tak semua hal harus kita mengerti. Itu, namanya TAKDIR.

Ada banyak rahasia di sana. ketika kita sadar, kita bisamembaca, apa yang ada dipikiran kita? Akan ada banyak rahasia yang terungkap! Tapi tidak untuk yang satu itu. TAKDIR, jadi rahasia yang dipegang teguh Tuhan bagi semua ciptaannya. Aku percaya itu. Takdir itu penuh dengan rencana-rencana Tuhan, yang cuma diketahui Tuhan. Mungkin malaikat cuma bisa mengintip aja. Tidak benar-benar tahu persis.

Aku jadi paham, karena ternyata tak ada manusia yang diijinkan bisa membaca dan memahami dirinya sendiri. Tuhan hanya menginjinkannya sebanyak mmm... 50% kira-kira. Tidak bisa lebih. Sisanya, jadi tugas manusia lain untuk bisa membaca dan memahaminya. Itu sebabnya kita punya sahabat, teman dekat, pacar, istri, suami, ibu, ayah, anak, cucu, kakek, nenek kita sendiri. Bahkan mungkin ada sebagian kecil mmm..10% nya jadi jatah dukun-dukun dan paranormal yang dibayar utk meramal, membaca dan memahami.

Memang butuh cermin, untuk bisa paham tentang diri sendiri. Dulu, saya pernah dengar tentang Lacan, yang banyak bicara tentang mirror effect. Ah..tapi bisa gila, baca bukunya.

Masing-masing dari kita mungkin sadar potensi, setelah kita bekerja. Dan dikontrak secara profesional. Dibayar gajinya tiap bulan. Karya atau kerjaan dihargai dengan karir dan upah. Itu, pemahaman yang berjalan di sini. Di tempat yang fana ini.

Hmm...bagaimana kita bisa paham tentang kedalaman keinginan kita sendiri?
Aku merasakannya sekarang seperti menyelam ke kedalaman laut, lalu masuk ke palungnya yang entah....seperti tak pernah ada dasarnya yang bisa kuraba.

Apakah cita-cita menjadi batas dari semuanya? Lalu bagaimana dengan harapan-harapan orang yang menyayangi kita? Apakah itu juga menentukan dan membentuk keinginan-keinginan kita? Mau ditaruh dimana mereka?
Bagaimana membuat mereka mengerti aku? Bagaimana membuatku mengerti mereka? Karena ternyata, ada bahaya yang sedang mengancamku. Itu, diriku sendiri..!!! Aku butuh orang lain untuk membantuku mengendalikannya. Tapi tak ada yang kulihat menoleh padaku, saat ini. Semuanya sibuk dengan potensi dirinya masing-masing.


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Tittle : Power of Nature 01

Friday, July 13, 2007

Improvisasi Kesuburan



Air mencacah batu menjadi belah
Akar menembus dinding menjadi retak
Daun tertidur di tanah, namun tak lantas merusaknya.

Aku datang ke sini, punya janji ketemu dengan daun-daun di pelataran parkir
Aku me-lap keringatmu, lantaran hatiku berjanji pada tubuh dan otakku.
Aku mengingat semua yang pernah kulupa,
karena aku tak ingin kembali ke masa lalu.

Walau aku menanti usia seperti pohon jati
Setelah cukup umur, akan ditebang.
Walau aku menanti usia seperti pohon karet
Setelah cukup umur, baru pantas ditoreh.

Aku menantimu seperti laut.
Yang rindu angin, bunyi kapal, tebaran jala nelayan, dan datangnya ribuan ikan di dalamku.

Aku menjelma menjadi samudera kecil.
Kosong dan sepi.
Menanti alam memberi dayanya padaku.

Sekarang, aku jadi merpati yang terbang padamu.
Cuma ingin sampaikan surat.
Katanya isinya penting, buatmu.
Surat ini dari masa lalu..
Tapi aku datang dari masa depanmu.
Lalu kutaruh surat untukmu ke dalam botol.
Kularungkan ke samudera.
Maaf, sudah kubuang.
Mungkin kamu sedang menungguku,
Maaf, aku tidak bisa datang.
Ada meeting merpati pos antar negara.

Pagi ini, aku jadi demonstran
bergerombol berjalan kaki ke istana negara.
Aku memakai penutup wajah supaya tak mudah dikenali
Aku membawa spanduk bertuliskan : SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Aku juga berteriak keras-keras :HAI..SEMOGA PANJANG UMUR YA!!! AKU SELALU BERDOA, TUHAN AKAN MELINDUNGIMU!!!

Tapi tak kulihat dirimu
yang kini masih senang menyapa masa lalumu.

Happy birthday, honey..
I really don't know about what you want from me..

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Print of Nature

Thursday, July 12, 2007

Menjadi Rahasia


Aku pernah tak paham tentang rahasia.
Yang pertama kali aku tahu, ada sesuatu yang tak terpahami. Dan itu hanya dipahami orang lain di luar diri dan tubuhku.
Dan bagi yang tahu ini, tak juga ingin membaginya denganku.

Sejak itu, aku sering memuaskan pikiran-pikiranku dengan kegiatan "mencari tahu". Lalu, tiba-tiba aku menjelma menjadi anak kecil yang sangat banyak bertanya. Seperti ketika pertama kalinya aku mengintip ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar, sendirian. Kudekati dia, kupeluk dia, dan aku ikut menangis. Kutanya padanya, "Ada apa, ma?"

Tapi, tak pernah ada jawaban. Esoknya, aku tidak melihatnya menangis, tapi aku melihatnya tak bercakap-cakap lagi dengan ayahku. Wajah mereka, kecut bagiku. Tapi aku bertanya, "Kenapa, pa?
Dan tidak lama kemudian, ada bunyi piring pecah di ruang makan. Ibuku lari masuk ke kamar. Ayahku berdiri tegak, semua makanan di piringnya sudah berantakan di lantai.
Aku tidak paham, kenapa tak ada pertanyaanku yang ingin mereka jawab.

Tapi beberapa hari kemudian, kulihat mereka seperti hari-hari yang biasa. Bercakap-cakap saat makan siang dan makan malam, lalu ayahku menanyakan kegiatanku di sekolah. Dan kami tertawa bersama, waktu nonton video rekaman disko bola yang ayahku simpan di kaset VHS nya.

Akhirnya aku paham, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku hanya untuk mereka berdua saja.
Dan bukan buatku, perempuan kecil, usia sembilan tahun.

Itukah yang namanya rahasia? Apakah rahasia adalah sesuatu yang punya rasa, bau, dan dapat kurasakan halus kasar permukaannya? Bagaimana rupanya rahasia itu? Kapan aku bisa berahasia? Waktu itu, aku punya banyak pertanyaan. Tapi kusimpan saja, buatku. Apakah aku juga sudah berahasia? Apakah berahasia itu membuat dosa? Waktu itu, aku belum tahu.

Sekarang, aku menjadi si rahasia.
Yang digelapkan. Yang disembunyikan. Yang tak terkatakan.

Jangan tanya bagaimana rasanya menjadi si rahasia.
Karena aku akan menjawab:
rasanya seperti ditiup angin dingin musim kemarau.
rasanya seperti di tampar-tampar oleh gerimis.
rasanya seperti pohon karet yang ditoreh-toreh dan disadap getahnya,
lalu ditinggal jika getahnya mengering...

(karena menjadi rahasia, membuatku tak ingin melanjutkan hidupku terlalu lama..)


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle: Lonely

Thursday, July 05, 2007

Ikan, Hewan yang Menarik


Minggu kemarin, ada beberapa peristiwa yang akhirnya menarikku dan seniorku (Mang Rudi)untuk meliput ke sebuah tempat menarik di Sumedang. Sebenarnya, tempat ini cuma kolam pemancingan biasa. Tapi untuk orang-orang yang pertama kali datang kesana, goshhhh! Kalau dilukiskan sebagai manusia, tempat ini charming be'eng.

Namanya, Clomgado Indah. Bunyi bahasanya tidak terdengar lazim. Konon katanya, itu memang nama daerah tempat kolam pemancingan ini. Udaranya, nyaris mirip dengan Lembang. Untuk yang kuliah di Jatinangor tapi belum pernah dateng ke sini, huuuuu....rugi!

Letaknya diapit dua bukit kecil. Lokasinya ada di kecamatan Cimanggung, Tanjung sari. Nggak perlu bayar mahal untuk dateng kesini (kecuali untuk beli bensin atau bayar ojek) karena jarak dari jalan masuk ke Parakan Muncang cukup jauh. Sekitar 5 KM.

Di sana, kita cuma dikenakan biaya jika telah memperoleh hasil pancingan. Jika tidak, ya nggak usah bayar. Gratis. Ikan hasil pancingan ini bisa langsung dimasak di sini. Per kilo nya dikenakan lagi biaya olahan sebesar Rp 24.000,-. Tinggal pilih menunya mau digoreng atau dibakar?

Kalau tidak punya alat pancing, di sini bisa pinjam. Umpannya juga ada. Siap memancing, kan????!


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Thursday, June 07, 2007

Hidangan Kegemaran Asli Betawi

Dahulunya, kota ini disebut Batavia. Sekarang dikenal sebagai Jakarta. Penduduk aslinya yang keturunan Betawi, kini lebih banyak menghuni daerah pinggiran-pinggiran kota. Tapi segala hal yang khas, tetap melekat diingatan setiap orang.

Jakarta dan kesibukan orang-orang di dalamnya, Jakarta dan kepadatan di jalan raya, Jakarta dan debu-debu dari asap kendaraan, Jakarta dan segala kemajuan pembangunannya, tak urung membuat banyak orang berdatangan ke kota ini. Apa saja yang mereka cari? Selain keberuntungan dan segala macam peluang usaha, ada hal-hal lain yang membuat orang tak pernah menjauh dari Jakarta.

Salah satunya, hidangan-hidangan khas dari tanah Betawi ini. Tidak sedikit orang yang kerap mencari berbagai tempat di Jakarta untuk sekedar mencicipi dan menikmati seporsi nasi uduk, soto betawi, atau sop buntut. Karena banyaknya penggemar menu-menu asli betawi ini, maka tak heran jika menu-menu ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat makan luar daerah Jakarta.

Sop Buntut Legendaris
Dari kebanyakan pengunjung Bogor Café di Hotel Borobudur Jakarta, selalu memesan menu Sop Buntut Legendaris. Sedapnya rasa Sop Buntut Legendaris telah menyebar ke segala penjuru lewat kabar berita dari mulut ke mulut. Pada awalnya, resep menu ini dibuat dengan konsep sajian yang asli Betawi. “Waktu itu, tahun 1979 saya ikut mendorong gerobak sop buntut ini di dalam restoran Hotel Borobudur Jakarta.

Menu ini sudah ada sejak tahun 1978. Kami menjualnya benar-benar seperti penjual sop buntut Jakarta yang selalu pakai gerobak dorong itu,” ujar Sugito, executive sous chef Hotel Borobudur Jakarta sambil mengenang sejarah Sop Buntut Legendaris di tempatnya bekerja selama ini. Bahkan pada saat Hotel Borobudur Jakarta di renovasi tahun 1995 s/d 1997, restorannya tetap dibuka untuk memenuhi keinginan konsumen.

Sugito menjelaskan, “Sejak hotel ini di renovasi pada awal tahun 1995, dan tidak beroperasi selama kurang lebih 2 tahun. Sebetulnya pada masa renovasi itu, restorannya tetap melayani pembeli, terutama untuk melayani tamu-tamu garden wing. Itu tamu-tamu dari apartemen yang ada di sekitar sini. Karena ruangannya belum terlalu luas, kami hanya bisa melayani 20 s/d 30 orang. Penggemar sop buntut kami tetap ada. Dan ketika selesai masa renovasi, orang-orang selalu menanyakan keberadaan menu ini.”

Pada masa-masa renovasi hotel, ada beberapa tempat makan yang berusaha meniru resep sop buntut ini. Bahkan Sugito melihat bahwa di lokasi Jakarta Pusat juga ada yang menjual menu dengan nama Sop Buntut Borobudur. Akhirnya pihak Hotel Borobudur Jakarta pun sepakat untuk menamakan menu ini menjadi Sop Buntut Legendaris. “Banyak yang menyukai menu ini. Bahkan ada yang sengaja datang ke Jakarta hanya untuk makan sop buntut di sini,” ungkap Sugito. Bayangkan saja, setiap harinya Bogor Café membutuhkan sekitar 200 kg buntut sapi segar untuk memenuhi keinginan penggemar menu ini.

Apa yang menjadikan menu ini begitu istimewa bagi para penggemarnya? Sugito berbagi rahasia resepnya kepada TC. Ia memaparkan bahwa trik-triknya ada pada awal proses perebusan buntut sapi. “Buntut sapi yang jadi bahan dasarnya, dikuliti dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan ke dalam air mendidih. Setelah kita memasaknya dengan air mendidih sebanyak tiga kali pengulangan, buntutnya sudah lunak dan agak matang. Gantikan airnya dengan mendidih yang baru. Dengan api kecil, buntut sapi direbus pelan, sambil memasukkan bumbu-bumbunya. Jahe, merica, garam, cengkeh, dan bubuk pala. Tambahkan daun bawang dan wortel. Tujuannya untuk menambah aroma,” jelasnya.

Menu Sop Buntut Legendaris disajikan hangat dengan taburan bawang goreng, daun bawang, daun seledri, dan beberapa iris tomat di dalamnya. Lebih nikmat ditemani dengan pelengkapnya. Setangkup nasi, sedikit sambal, acar ketimun, dan bubuhi juga perasan air jeruk nipis ke dalam Sop Buntut Legendaris, sesuai selera.

Soto Betawi dan Pletok Betawi
H. Rano Karno, pemiliknya yang seniman berdarah betawi ini adalah juga pemeran film Si Doel Anak Betawi pada era tahun 1979-an. Si Doel Anak Betawi, memang jadi acuan simbol bagi konsep di Waroeng Si Doel. Waroeng Si Doel yang berlokasi di kawasan Kafe Tenda Semanggi, Jakarta Pusat memberikan suasana yang serba Betawi. Mulai dari warna pada ruang-ruang makannya yang tiga lantai ini, didominasi oleh warna kuning terang dan hijau daun. Ubin ruangan pun dipilihkan dari jenis ubin yang klasik.

“Setiap pengunjung yang sudah lanjut usia menginjakkan kakinya di ubin Waroeng Si Doel, pasti langsung menyatakan bahwa mereka seperti sedang berada di dalam rumahnya pada zaman dulu,” ucap Arman, supervisor Waroeng Si Doel. Desain menu yang ada di sini sebenarnya berusaha memenuhi selera semua pengunjung. Ada menu asli Betawi, ada menu American style, Japanese style, dan Chinese style.

Dari semua deret menu, ada menu utama yang dipertahankan untuk tetap ada dan disajikan pada para tamu. Selain Sop Buntut dan Nasi Uduk, ada Soto Betawi dan Pletok Betawi yang menjadi menu utama di sana. “Karena ini konsepnya Betawi, jadi menu-menu utamanya juga dipilihkan dari menu asli Betawi,” ucap Sarno, chef di Waroeng Si Doel. Soto Betawi, menu yang banyak dijual di berbagai tempat makan di Jakarta dan di luar Jakarta.

Tapi Soto Betawi yang ada di Waroeng si Doel, punya aroma yang khas. “Secara prinsip, semuanya memang hampir sama. Cuma beberapa cara pembuatannya saja yang agak berbeda. Tentang darimana aroma khasnya, menurut saya, itu karena ketika semua bumbu yang dihaluskan di sauted hingga matang dan mengeluarkan aroma yang wangi,” ungkapnya.

Menurut penuturannya, resep Soto Betawi di sana menjadi unggul karena tambahan bumbu jinten dan beberapa helai daun jeruk didalamnya. Daging, paru-paru, dan babat sapi, sebelumnya telah cukup matang direbus di tempat terpisah. Kemudian setelah ditiriskan dari air rebusan pertama, potongan daging, babat dan paru-paru sapi ini dimasukkan ke dalam air santan kelapa yang telah dibubuhi bumbu. Jika telah mendidih dan matang, menu ini disajikan dengan beberapa pelengkap. “Konsumennya bisa punya pilihan, ingin dihidangkan dengan nasi atau dengan lontong,” ujar Sarno. Soto Betawi Waroeng si Doel juga disediakan sesuai keinginan para tamu. “Pilih saja isi sotonya. Jika tak suka dagingnya, bisa pesan isi soto pakai babat dan paru saja. Atau sebaliknya jika tidak ingin paru dan babat, kami juga bisa sediakan menu ini dengan isi daging sapinya saja,” tegas Arman.

Tak banyak berbeda dengan Sop Buntut Legendaris, menu Soto Betawi ini juga dihidangkan hangat di atas meja makan para tamunya, lengkap dengan taburan bawang goreng, daun seledri, daun bawang, dan emping. Di plat kecil terpisah, disediakan pula sambal soto dan acar ketimun.

Dari menu utama, kita beralih ke menu minuman khas Betawi dari Waroeng Si Doel. Namanya, Pletok Betawi. Sebutan ‘pletok’ diambil dari bunyi yang timbul ketika minuman ini diracik. Resepnya pun diperoleh dari hasil riset tim Waroeng Si Doel. Mereka harus menyisir ke daerah-daerah yang berpenghuni orang-orang Betawi asli, untuk menemukan resep asli minuman khas Jakarta. Risetnya dimulai pada akhir tahun 1995.

“Tidak terlalu lama, cuma butuh waktu tiga bulan saja, akhirnya kami temukan resep asli minuman Pletok Betawi ini di daerah Kampung Melayu,” tutur Dedy Karniadi, peracik minuman di Waroeng Si Doel. Konon, minuman ini adalah minuman kegemaran orang-orang Betawi. Namun sekarang sudah sangat jarang yang menjualnya. Untuk di Jakarta saja, kemungkinan besar hanya di Waroeng Si Doel yang menyediakannya. Karena nara sumber mereka untuk resep asli Pletok Betawi, telah lama meninggal dunia.

“Dulunya, beliau juga menjual minuman ini di Kampung Melayu. Disebutnya penjual ‘Aer Aus’. Salah satunya ada Pletok Betawi. Pertama kali saya minum di sana, Pletok Betawi diminum dingin dengan es batu. Waktu diracik, dikocok bersama es batu itu hingga berbunyi ‘pletok..pletok’. Namanya juga Pletok Betawi,”ungkapnya. Para tamu yang datang, banyak memuji minuman ini. Selain tak ada tempat lain yang menjualnya, rasanya pun belum punya bandingan.

Minuman dengan cita rasa rempah-rempah ini sudah punya tempat di hati penggemarnya. Pletok Betawi, berwarna merah dalam cangkir. Di permukaan airnya diberi taburan kacang tanah panggang. Aromanya harum rempah-rempah, rasanya manis dan hangat. Dedy memaparkan, “Campuran rempah-rempah yang ada didalamnya itu, ada kayu secang, jahe, serai, biji kapu laga, pala, cengkeh, kayu manis, dan cabe jawa.

Menurut mereka, kayu secang ini juga baik untuk mengatasi asam urat dan masuk angin pada tubuh kita.” Minuman asli Betawi ini disajikan dalam dua variasi. Dingin dan hangat. Setiap pemesan bisa meminumnya kapan pun. Nikmatnya tak dibatasi oleh cuaca. Jakarta, kota yang telah ratusan tahun berdenyut dan menghidupi jutaan orang di dalamnya. Ada banyak cara untuk menikmati kota yang berusia 479 tahun ini. Beberapa sajian makanan dan minuman asli Betawi ini, hanya sekelumit tanda yang siap membawa semua orang untuk berkenalan dan menjadi akrab dengan Jakarta.

Tulisan ini telah dimuat (tahun 2006) di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini

Monday, April 30, 2007

Petualangan Seru 10 Menit !

Siapa yang tidak kenal Ancol? Tempat rekreasi yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia ini, selalu jadi pilihan untuk mengisi waktu libur sekolah dan keluarga. Walau berlokasi di ujung utara Jakarta, Ancol tak sulit untuk dijangkau pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Dufan, Sea World, Ice World, Pantai Karnaval, dan Gelanggang Samudera, merupakan tempat-tempat favorit yang banyak dikunjungi di Ancol. Lokasi Gelanggang Samudera berada tak jauh dari areal Sea World. Di dalamnya, ada beberapa wahana yang bisa jadi pilihan menarik untuk dinikmati. Wahana Atraksi Lumba-Lumba dan Singa Laut, Pentas Aneka Satwa, Aquarium Laut, dan yang terbaru adalah Sinema 4 Dimensi. Wahana baru ini terletak di kawasan yang disebut sebagai ?The Pyramids 4D Theatre ? sesuai dengan yang tertera pada bongkahan batu besar di depan bangunan berbentuk piramida berwarna abu-abu gelap.

Wahana Baru di Gelanggang Samudera Ancol
Wahana Sinema 4 Dimensi ini, dibuka untuk pengunjung sejak awal April lalu. Tampak dari depan, ada beberapa bagian yang masih diperbaiki. Terutama di sisi kiri dan kanan depan, serta di tengah taman pada bagian luar lokasi bagunan utamanya, masih terlihat beberapa pohon palem yang menguning kering. Tumbuhan ini tampaknya masih beradaptasi dengan tanah di areal taman di lokasi yang sama. Tapi semuanya tak jadi penghalang. Wahana baru ini tetap dapat beroperasi tanpa terganggu. Karena rasa penasaran para pengunjungnya pun tak dapat diredam walaupun lokasi taman di depan bangunan masih terlihat kering dan menguning.

Bentuk bangunan utama The Pyramids 4D Theatre ini dibuat mirip dengan istana Kerajaan suku Aztec yang pernah hidup di benua Amerika pada abad ke- 500SM. Menempati luas area 2200 m², dengan piramid setinggi lebih dari 20 meter, bangunan istana ini tampak unik dan menonjol.

Tentang tema kawasannya, Gelanggang Samudera Ancol menggunakan konsep yang dinamakan The Lost World. Thomas Riandy Jo, Manager Gelanggang Samudera Ancol menjelaskan, “Di Gelanggang Samudera Ancol ini ada juga kawasan 1001 malam. Itu tempat atraksi lumba-lumba. Bangunannya mengambil model dari Timur Tengah dan banyak kubah-kubahnya. Untuk selanjutnya, kami akan mengangkat tema-tema kawasan dari kerajaan-kerajaan kuno yang telah lama hilang, tapi masih tetap melegenda. Seperti contohnya, kami ambil model bangunan istana suku Aztec untuk kawasan Sinema 4 Dimensi ini.”

Dengan lima jadwal pertunjukan setiap harinya, antrean penonton cukup panjang. Terutama pada hari libur dan weekend, wahana ini padat pengunjung. Ada salah satu pengunjung yang ditemui Travel Club di antrian pintu masuk ruang Sinema 4 Dimensi. Ibu Patria dengan tiga anaknya yang berusia 3, 10, dan 13 tahun, memilih datang untuk menonton di wahana baru ini. “Penasaran, ingin lihat seperti apa sih, Sinema 4 Dimensi ini. Sekaligus ajak anak-anak saya liburan juga,” ucapnya.

Dari pintu masuk pertama, pengunjung akan melintasi jalan berliku yang turun naik. Interiornya dibuat berkesan lampau. Lampu-lampu temaram dan jaring laba-laba besar, menyambut di sudut dinding. Dinding-dindingnya terlukis aneka gambar dengan warna-warni menarik. Sampai pada sebuah ruangan luas, terdapat tiga pintu gerbang utama untuk masuk ke ruang 4D Theatre. Para penonton juga diberikan kacamata khusus untuk 4 Dimensi.

Masuk ke ruangan Theatre 4 Dimensi, semua bebas menentukan tempat duduknya. Ada 304 seat untuk menampung pengunjung yang datang menonton. Diantaranya juga tersedia tempat khusus yang disiapkan untuk para penyandang tuna daksa. Bagi para penonton yang menggunakan kursi roda, tak ada hambatan untuk bisa nonton di wahana baru ini.

Terbesar di Asia Tenggara?
Ruangan gelap temaram dan dingin ber-AC ini, memiliki layar sinema sebesar 24 m x 14 m. “Ini adalah theatre sinema terbesar se-Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sudah jelas belum ada yang menyaingi,” ungkap Thomas Riandy tentang keunggulan Sinema 4 Dimensi di Gelanggang Samudera Ancol.

Tua muda, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dapat duduk nyaman dan menikmati kejutan-kejutan petualangan di wahana ini. Kualitas gambar film animasi dari Belgia ini pun didukung dengan fasilitas layar sinema dan alat pengontrolnya yang diimpor dari Austria, sound system dari Jerman, dan proyektor yang didatangkan dari Amerika.

Kerja Sama dengan Organisasi Pecinta Lingkungan Hidup
Film animasi yang diputar di Theater 4 Dimensi ini, banyak bercerita tentang kehidupan riil dari satwa-satwa liar di habitatnya. Ada sebuah realitas yang hendak diangkat ke permukaan.

Mengenai muatan edukasi dalam petualangan kali ini, Thomas Riandy berpendapat, “Kalau kita lihat di dalam film, pertama-tama akan tampak kedamaian kehidupan hewan-hewan itu dengan komunitas dan habitatnya. Mereka hidup begitu harmonis. Namun dengan adanya campur tangan manusia, kehidupan mereka jadi terganggu. Ini diperlihatkan kepada penonton agar lingkungan alam sekitar tetap terjaga keindahan dan keharmonisannya.”

Pada bagian penutup, tampak seekor Panda besar mengangkat belahan kayu dari pohon yang tumbang karena ditebang. Keterkaitannya secara simbolik menyatakan keterlibatan sebuah organisasi pecinta lingkungan hidup dalam konsep isi film animasi ini. Dikonfirmasi tentang dugaan kerja sama pengelola Gelanggang Samudera Ancol dengan WWF (World Wild Fund), Thomas menyatakan, “Kalau untuk masalah pelestarian lingkungan hidup, kan Panda juga jadi simbol. Kami memang kerja sama dengan pihak WWF. Kalau tidak salah, judulnya adalah Panda Vision.”

Petualangan Seru di Sinema 4 Dimensi
Dalam film ini ada tiga bagian besar cerita dengan tiga latar tempat yang berbeda. Mengantarkan penonton pada tiga rasa petualangan yang juga berbeda. Di Kutub Utara, di dalam samudera, dan di tengah hutan lebat. Ada banyak kejutan yang ditemui di sana. Selain getaran gerakan pada kursi, ada pula hembusan angin dan cipratan air yang akan mampir di permukaan wajah penonton, kala pertunjukan film berlangsung.

Dalam beberapa bagian cerita, penonton tampak berusaha meraih untuk menyentuh ikan-ikan dan kuda laut mungil yang melintas dekat wajah dan di atas kepala. Belum lagi, sensasi rasa ketika beruang kutub itu bangkis di hadapan wajah penonton. Selain itu, petualangan tokohnya juga membawa penonton meluncur jatuh dari gua es di Kutub Utara ke dalam samudera biru, lalu melayang berdebum menyentuh tanah ketika pohon tumbang ditebang. Tak sedikit pula yang terkejut ketika merasa dilempari buah oleh para kera lucu yang loncat kesana kemari.

Pertunjukan film jadi terasa sangat singkat. Terdengar dari ucapan salah satu penontonnya, “Wah, seru. Tapi kok cuma sebentar ya?”
Film animasi 4 dimensi berdurasi 10 menit ini bisa jadi salah satu pilihan untuk rekreasi keluarga. Menarik, menantang, dan berkesan.

(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)

Writer: Ayu N. Andini

Festival Makanan Kuba, Jamuan dari Negeri Fidel Castro

Gran Melia Jakarta bekerja sama dengan pihak Kedutaan Besar Kuba di Indonesia, mengemas acara festival makanan khas Kuba kali ini dengan cocktail reseption, salsa dance, pameran lukisan di koridor ruang lobby, dan tentu saja dengan dinner time yang ditunggu-tunggu di akhir acara.

Kuba, tempat yang terkenal dengan banyak simbol. Cerutu, Fidel Castro, gula, dan musik salsa. Dari semua itu, menu-menu makanan dan minuman pun disikapi sebagai hasil alam dan budaya Kuba. Benar-benar Kuba. Cuba Si !

Sambutan dari Cocktail Reception
Menu menarik yang disajikan Kuba malam itu, diawali di meja pertama pada ujung ruangan lobby hotel. Cuban Food Festival menyambut para tamu yang hadir dengan beberapa pilihan cocktail. Mohito, red wine Cuba, dan Si minuman tiga warna : Si Por Cuba.

Mohito dingin dengan wangi daun mint segar, aroma rum Havana, lemon juice, dan rasa manis gula Kuba. Si Por Cuba, minuman yang tampil sewarna dengan bendera negara Kuba. Lapis paling bawah dari evaporated cream dan cocoa white, lapisan kedua dari granadine syrup merah, dan lapisan teratas dari blue curacao. Mencicipi minuman penghangat tubuh khas Kuba ini, seperti menuju gerbang negaranya yang bergolak. Jamuan hangat ini menjadi rangkaian yang sekarakter dengan hentakan musik dan tarian salsa yang mengantar acara pembukaan Cuban Food Festival akhir tahun 2005 lalu di Gran Melia Jakarta.

Iklim dan Adab Bersantap di Kuba
Iklim tropis yang hangat, menghidupi Kuba selama ribuan tahun dan membuat beberapa hasil alam di sana punya kemiripan dengan Indonesia. Selain sebagai salah satu negara penghasil gula terbaik di dunia, tanah Kuba pun cocok untuk kopi, tembakau, jambu biji, pisang tanduk, nanas, mangga, dan padi.

Kuba yang berada pada garis oposisi dari negara-negara kapitalis seperti Amerika dan Inggris, memutuskan untuk membuat sistem pertanian organik. Keberhasilan sistem ini mengakibatkan Kuba tidak perlu lagi memasok pupuk dari luar negeri dan mampu memenuhi sendiri
kebutuhan pupuk di negaranya. Konsumsi pangan di Kuba menjadi khas dan sehat. Hal ini turut melatarbelakangi budaya/tradisi makan yang ada di sana. Sebagai negara agraris, bangsa Kuba juga memilih nasi sebagai menu makanan utamanya. Mirip dengan Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.

Moros y Cristianos, nama menu nasi dari Kuba. Bedanya, nasi dari beras Basmati ini berwarna lebih gelap. Warna kehitamannya ini datang dari air rendaman kacang hitam (Cuba black bean) yang digunakan untuk menanaknya. Rasanya memang lebih gurih.

Doblones Don Pedro adalah menu utama lainnya yang dihidang dengan beberapa potong jagung manis beraroma cream susu. Menu dari irisan persegi dari beef tenderloin beraroma minyak zaitun dan bawang putih ini disajikan dengan jus daging kental dengan wangi daun oregano.

Menu utama dari seafood khas Kuba dikenal dengan Pescado Gratinado Conqueso dari ikan kakap putih panggang yang dihidang dengan keju, dan condiment dari cacahan daging buah alpukat dengan aroma lemon. Tartaletas de Marsicos yang ada di pinggan terdepan dari jajaran hidangan pada central table malam itu, adalah hidangan appetizer dari irisan daging cumi matang dengan tambahan bumbu bawang putih, tomat, olive oil (minyak zaitun), daun coreander.

Hidangan-hidangan ringan dari dessert ala Kuba, datang dari parade buah-buah tropisnya. Salah satu olahan pisang tanduk di Kuba, diberi nama Platano Maduro. Ini dibuat dari pisang tanduk hijau yang digoreng dengan tambahan sedikit garam. Ada lagi, jambu biji yang dibuat setup manis dengan sejumput cinnamon (kayu manis) dan biasanya dimakan bersama dengan cream cheese. Makanan ini dikenal di Kuba dengan nama Casquito de Guayaba. Kombinasi rasanya, luar biasa. Manisnya yang tajam, seperti berhenti menusuk lidah ketika bertemu dengan rasa asin dari cream cheese. Terakhir, Duden Diplomatico. Salah satu parade buah tropis dengan menghidangkan pudding caramel yang dibuat dari campuran jus nanas dan mangga. Manis dan segar.

Uniknya, ada pada tata cara makan khas Kuba. Dalam satu pingan, selalu ada Moros y Cristianos dengan siraman kuah black bean soup, yang juga ditemani dengan beberapa potong Doblones Don Pedro dan jagung manisnya, juga Pescado Gratinado Conqueso, dan bahkan Platano Maduro. Main course dan dessert disantap dalam satu pinggan. Cita rasanya memang bisa membuat lidah kita tercengang jika tak terbiasa.

Cita rasanya, lahir dari etnis yang hidup di Kuba. Ada banyak etnis yang hidup di sana. Kebudayaan yang timbul pun menjadi multi kultural. Afrika, Spanyol, dan Asia, tinggal bersama.

Chef Yesney Lamas Ramos, Cuban guest chef , Gran Melia Jakarta menjelaskan main taste dari menu-menu Kuba ini dalam satu kalimat lugas, “We have many different colour of skin, we have many type of hair, and then it makes many taste of our food”.

(Tulisan ini telah dimuat di majalah Food and Life style yang berkantor di Jakarta)

Writer: Ayu N. Andini
Photo by www.pridesource.com
Ket. Foto: Cuba Dance

Monday, April 02, 2007

Tentang Seluruh Hidup Chrisye dan Separuh Hidupku..


Berita meninggalnya Chrisye memang lumayan bikin sedih seluruh Indonesia.Di lingkup kecil aja, di kantorku misalnya. Yang isinya cuman 15 orang bawel-bawel itu, wuaaahhhh... langsung termangu-mangu sejak kami masuk kantor, pagi-pagi buta. Tiap berita tentang Chrisye, kami melakukan "pause" utk semua kegiatan. Cuma buat nonton beritanya.

Sepertinya, semua penghuni kantorku, punya perasaan yang sama. Sedih, agak terpukul juga, begitu tahu bahwa Chrisye sudah meninggal dunia (Jumat, 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB dini hari). Lalu, untuk mengenangnya, kami makan siang di warung CEPOEK, di kawasan Kallibata. Ada tanda tangan Chrisye di dindingnya.

Sepanjang makan siang, kami juga ditemani dengan lantunan lagu-lagu Chrisye di sana. Haaaahhhh... sedih!
Tapi lapar emang tidak mengenal kompromi. Kami tetap aja semangat untuk makan. hihiiiiii...

Berita di milis media, penuh dengan ucapan duka.
Saya, bukan saudara dekat Chrisye...
Saya, bukan pula saudara jauhnya Chrisye...
Saya, juga tidak punya pertalian darah sama sekali dengan Chrisye...

Tapi saya bisa merasakan kedekatan itu sejak pertama kali saya kenal dengan lagu-lagunya. Saya mengenal Chrisye sejak saya duduk di kelas 1 SD.
Pertama kali, saya dengarkan lagu Chrisye, yang judulnya: SABDA ALAM. Seumur saya yang masih cabe rawit dan cuma kenal lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo, baru kali itu saya mendengarkan lagu dan semua bulu kuduk saya merinding...

Waktu itu, saya nggak ngerti, apa sebabnya. Sejak itu, saya selalu ingin dengarkan lagu ini, setiap sebelum tidur. Hah...! Padahal syairnya aja, saya nggak paham sama sekali...!!! ! Tapi saya nggak peduli. Ada rasa nyaman yang saya rasakan tiap dengar lagu itu.

Lalu, kami pindah ke Kalimantan Timur (ke sebuah kota kecil yang namanya: Tarakan). Saya kelas 3 SD waktu itu. Sesampainya di rumah baru, saya cari kaset Chrisye (yang entah milik siapa itu..) yang sering diputar itu. Tapi tidak kutemukan... !!! sebel!!!

Saya mulai memburu lagu-lagu Chrisye. Caranya? Merengek pada ayahku (almrhm), untuk dibelikan kaset Chrisye. Mulanya, ayahku mengernyitkan dahi. "Ah, kamu kan nggak ngerti lagu-lagunya Chrisye..," begitu katanya.

Tapi aku memang nggak mau ngerti. Tiap ayahku pulang kantor, yang kutanya cuma itu. Walaupun ia membelikanku setumpuk buku cerita Lima Sekawan dan Trio Detektif, aku tetap menanyakan, kaset Chrisye..!!! "Mana kasetnya?" berminggu-minggu aku merengek. Akhirnya, aku punya kaset barunya. Huaaaahhhh.. ..senengnya sampai ke langit..!
Waktu itu aku dibeli-in yang...(judul albumnya aku lupa). Tapi aku masih inget, di dalamnya ada lagu yang judulnya : Leny.

Sejak itu, aku tidak pernah suka lagi sama lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo yang suaranya cempreng-cempreng gepeng itu. iiiiiihhh... .!Kasetnya kusembunyikan.

Sejak itu juga, ayahku juga jadi pemburu kaset Chrisye. Tiap ada album barunya, dia belikan untukku. Selain itu, yang kutahu, ayahku memang senang mengoleksi kaset dari macam-macam musik.

Yang kuingat, dia sering beli kaset : Francis Goya...(yang kudengar cuma bunyi denting gitar doang. aku tidak terlalu suka.), ada juga kaset-kaset nya Ebiet G. ade, Iwan Fals, BIMBO, IDRIS SARDI (yang ini, lebih aneh lagi. bunyinya aneh...ngak- ngik ngok...akhirnya aku tau, itu bunyi biola...hihihi. ..), ANDY WILLIAMS, BONEY M, ABBA, dan ah...banyak.

Lalu, aku lulus SD, ada lagu Chrisye: ANAK SEKOLAH..haaahhaaa... kuputar tiap hari. Apalagi hari Minggu. Ayahku selalu pasangkan kaset ini dgn volume yang nyariiiing.. . biar aku bisa bangun pagi. hehe...(bakat malesnya udah ada sejak baheulaa...)

Lalu..ada banyak lagu Chrisye yang jadi temanku, tiap baca buku, tiap menyapu halaman, tiap kali menemani adik-adikku, tiap kali aku bangun pagi, dan pada waktu aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.... ehem...ehem. ...waktu itu, aku masih SMP. hehehe....
Lagu Chrisye yang jadi temanku waktu itu, Merpati Putih...

Ah....sampai sekarang, dirumahku masih ada CD Chrisye... album terbaiknya.Kemarin, aku pulang ke rumahku. Adik-adikku langsung mengulas berita tentang berita duka Chrisye. Ibuku juga begitu. Bahkan pada saat Ibuku tau Chrisye meningal dunia, dia menangis sedih di depan televisi.
(ini memang menggelikan. Tapi memang benar-benar terjadi...)

"Kita kan dekat sekali dengan Chrisye. Apalagi, waktu kita di Kalimantan, ya..," begitu ucapnya.

Chrisye....memang teman terbaik yang pernah dekat dengan separuh hidupku...
Chrisye, kami semua berdoa untukmu. Untuk semua perjalananmu. ..



Writer : Ayu N. Andini
Photo: downloaded from www.infoartis.com

Wednesday, March 14, 2007

Kamasutra


Mmmhhh...kalo adegan kamasutranya begini, menurutku tidak akan ada orgasme dan pertambahan jumlah penduduk ya?? hihihi...



Photo downloaded by Deny P.

Monday, March 12, 2007

Keysha Airazahra

Halooo......, Keysha Airazahra. Welcome into the world!
(Pasti banyak yang setuju ama saya, Keysha cantik! Dia lebih mirip Heny, istrinya uge.)


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Papi Uge

Wednesday, March 07, 2007

Selamat Datang



Selamat datang di dunia yang kejam ini, sayangku....
Ibu dan ayahmu siap melindungimu,
tapi kau tak dapat menggantungkan hidupmu
terlalu lama pada mereka berdua.


Kau harus kuat,
berjuang, bertahan, dan bersenang senang
mari sini, aku bisikkan telinga mungilmu dengan banyak cerita menarik....
Dunia ini ada banyak yang bisa bikin kau terpana.

Selamat Datang, Keisya Airazahra dan Indra Kusuma

(anak pertama dari pasangan Uge dan Heni, Ratna Daypek dan Yadi Akung; temanku)

Writer : Ayu N. Andini
Photo by www.michaelramaccia.com

Wednesday, February 21, 2007

Hidangan Spesial Paskah



Hari Paskah menjadi sebuah hari yang dikuduskan dan mulia. Jatuh tepat tanggal 16 April tahun 2006 lalu, Paskah diperingati sebagai Hari Kebangkitan Jesus Kristus yang dirayakan umat Kristiani di seluruh penjuru dunia dengan berbagai cara.

Telur-telur yang dilukis warna-warni, cokelat-cokelat berbentuk telur, kelinci-kelinci dari cokelat manis, serta anak-anak kecil yang sibuk berburu hadiah Paskah di balik semak dan rumpun bunga musim semi, adalah hal-hal yang sering kita temui pada perayaan Paskah. Orang-orang pun saling berkirim kartu ucapan, berkirim bunga, makanan, dan minuman. Hari Paskah, adalah juga hari dimana semua anggota keluarga berkumpul, saling bertukar bingkisan, dan makan siang bersama.

Musim semi, telur, kelinci, dan cokelat, merupakan bagian-bagian dari tradisi perayaan Hari Paskah yang terus hidup hingga sekarang dan memiliki kisah menarik dibaliknya.

Dari semua bagian tradisi ini, Vindex Tengker (seorang executive chef) membuat konsep-konsep menarik untuk hidangan spesial Paskah di Four Seasons Jakarta.

Paskah dan Musim Semi
Keceriaan warna pada perayaan Hari Paskah (Easter’s Day), ternyata punya hubungan yang erat dengan bunga-bunga yang mekar pada musim semi.
Menurut catatan sejarah, ada banyak perkiraan tentang hubungan antara nama “easter” dan kepercayaan kuno orang-orang Anglo-Saxon kepada Dewi bulan dan musim semi yang bernama “eastre, eostre, atau ostar”. Sedangkan Eostora adalah hari suci untuk memperingati Dewi bulan pada saat-saat bulan purnama di musim semi. Lalu gereja pun meletakkan perayaan Paskah (Easter’s Day) pada hari Minggu pertama atau kedua, setelah bulan purnama pertama dan gejala kosmik Vernal Equinox terhadap bumi telah terjadi (terhitung biasa terjadi pada 21 Maret setiap tahunnya, yaitu pada saat posisi matahari berseberangan dengan garis khatulistiwa).

Akhirnya, orang-orang Anglo-Saxon memakai peringatan Dewi Eostre pada bulan pernama pertama di musim semi, yaitu ketika bumi ‘dibangunkan’ memberikan pemandangan hijau serta bunga musim semi tumbuh dan berkembang.

Kemudian nama Dewi Bulan ini dalam bahasa Inggris menjadi ostern atau easter, sebuah sebutan untuk hari suci bagi para umat Kristen. Paskah dan musim semi, punya hubungan yang erat karena Hari Kebangkitan menurut agama Kristen merupakan refleksi/gambaran yang juga tampak pada gejala alam yaitu “kebangkitan alam setelah musim dingin”. Doktrinasi Kristen dan perayaannya pun berjalan bersamaan hingga akhirnya menjadi bentuk tradisi umat Kristen yang sekarang telah tersebar ke seluruh dunia.

“Karena Easter’s Day itu identik dengan musim semi, berarti juga ditandai dengan musim panen buah-buahan, dan ada banyak bunga yang mekar pada musim itu. Yang eksotik dari musim semi ini adalah warna-warnanya yang cerah. Dari segala macam hal, orang akan cenderung banyak berpatokan ke arah itu,” tutur Vindex Tengker menjelaskan latar belakang konsep pilihannya kali ini. Dalam set menu spesial Paskah di Four Season Hotel Jakarta, Vindex banyak menggunakan bahan dari buah-buahan dan sayuran untuk olahan hidangannya. Misalnya untuk menu appetizer, Vindex menyajikan Shredded Smoked Chicken with Tangerine Correander Vinegar.

“Ini dari daging ayam yang sudah diasap, kemudian di suwir, dan ditambah sayuran: wortel, tomat, dan untuk pemanis warna, dibawahnya diberikan mix salad. Disajikan dengan saus tangerine reduction dari cherry vinegar, olive oil, dan mustard. Terakhir, diberi garnish dgn alfafushcrub, sejenis kecambah kecil impor dari Eropa,” papar Vindex.

Kemudian lanjutnya, “Untuk menu utama Paskah, kami pilih hidangan dari daging ikan salmon Norwegia. Disajikan lengkap dengan sauted vegetable yang bahan-bahan dasarnya berwarna cerah. Di sini kami pakai zucchini, wortel, dan paprika. Sedangkan sausnya kami pakai buah cranberry. Ini sejenis buah bery dari Australia. Dicampur dengan buah raspberry dan sedikit white wine.”

Hidangan penutup spesial Paskah pun tak lepas dari bahan baku buah-buahan. Executive Pastry Chef - Four Seasons Hotel Jakarta, I Made Kona menyajikan Chocolate Raspberry Truffle Dome, yang dibuat dari chocolate truffle dengan tiga macam saus, rasa buah mangga, strawberry, dan sari daun mint. Desain tampilannya dibuat sangat artistik. Chocolate truffle nya berbentuk mangkuk tertelungkup dan punggung atasnya diberi garnish buah cranberry merah serta helaian daun mint. Ditepinya diberi hiasan adonan crispy berbentuk daun maple. Dan dalam plate yang sama, dilukis inisial “E” dengan tinta dari cokelat manis yang masing-masing lingkaran kecilnya terisi tiga jenis saus dengan warna kuning, merah, dan hijau.

Tiga macam hidangan spesial ini punya kombinasi warna yang mengambil banyak gambaran dari lukisan musim semi di Eropa. Selain indah dipandang, hidangan-hidangan ini punya rasa dan wangi segar layaknya buah-buahan musim semi.

Telur dan Kelinci di Hari Paskah

Tak ada yang aneh, kalau bentuk telur dan kelinci sering muncul pada hidangan Paskah di Eropa. Telur pun tak hanya menjadi bahan baku makanan saja, tapi juga menjadi hiasan dan aksesori penting pada setiap perayaan Paskah di Eropa dan Amerika.

Sedikit penjelasan yang diperoleh dari beberapa catatan sejarah, bahwa latar belakang mengapa telur dan kelinci menjadi bagian penting di Hari Paskah (Easter’s Day) adalah karena pada zaman Anglo-Saxon, simbol dari Eostre (Dewi Bulan) adalah kelinci. Anggapan ini muncul karena para pemuja Dewi Bulan (Eostre) ini melihat penampakan kelinci pada saat bulan sedang purnama. Dalam perkembangannya, menurut kepercayaan mereka kelinci menjadi lambang kesuburan dan telur adalah simbol kosmik dari sebuah penciptaan.

Telur, dihubungkan dengan istilah “estrus” dan “estrogen” (untuk sebutan hormon perempuan). Berkaitan erat dengan proses reproduksi yang terjadi pada manusia. Telur akhirnya digunakan pada perayaan Paskah karena telur merepresentasikan sebuah kejadian awal dari kehidupan.
Selain banyak dipercaya sebagai simbol kesuburan, menurut kepercayaan orang Mesir Kuno, kelinci pun melambangkan kelahiran dan kehidupan baru. Kedekatan pemahaman simbol ini menyebabkan telur dan kelinci selalu muncul bersamaan pada perayaan Paskah.

Khusus untuk perayaan Paskah tahun ini, Four Seasons Hotel Jakarta menyediakan cokelat-cokelat manis dalam aneka bentuk telur dan kelinci. Nantinya cokelat-cokelat ini akan mengisi berbagai paket hampers (parcel) Paskah di sana. Yudith Nurwulan, Director of Public Relations - Four Seasons Hotel Jakarta mengungkapkan, “Ada banyak variasi isi hampers dengan kisaran harga Rp 525.000,- (++) sampai dengan Rp 675.000,- (net). Bentuknya lebih eksklusif, dan bisa juga dibentuk menurut kreasi pemesannya sendiri. Paket hampers ini sudah tersedia mulai tanggal 10 s/d 16 April 2006.”

Perayaan Paskah di Four Seasons Hotel Jakarta
Ketika ditanyakan tentang paket perayaan Paskah, Yudith menjelaskan lebih rinci, “Utk makanan dan minuman spesial Paskah, kami sajikan di Steak House Four Seasons Hotel Jakarta pada hari Sabtu dan Minggu (15 s/d 16 April 2006). Pada malam paskah (15 april 2006) , hari Sabtu malam, ada 5 set dinner spesial Paskah di sana. Dan hari Minggu siang (16 April 2006), kami membuat acara Sunday Brunch Easter senilai Rp 285.000,- (++) per orang termasuk red/white wine. Ini cukup meriah. Karena biasanya hari Minggu kami selalu ramai pengunjung. Easter’s Day juga ramai sekali di sini. Kami anjurkan untuk melakukan reservasi seminggu sebelumnya. Pada Sunday Brunch Easter, akan ada 13 live cooking station yang berderet tersaji sampai dengan ke ruangan bar. Berbagai menu ada di sini. Ada station sushi, pasta and noodle, peking duck, rib eye, roasted turkey, dan macam-macam dessert yang menarik. Khusus untuk anak-anak, ada paket sunday brunch menu for kids seharga Rp 125.000,- (++). Biaya ini sudah termasuk paket acara egg hunt, game, dan cookies making class. Jadi, ketika orangtuanya menikmati makanan mereka, anak-anaknya kami taking care dengan aktivitas yang menghibur. Tersedia juga hadiah untuk pembuat kue terbaik hari itu. Perayaan Paskah di sini pasti meriah.”


Cookies Making Class, salah satu aktivitas unik di acara Sunday Brunch Easter di Four Seasons Hotel Jakarta. Anak-anak dengan panduan I Made Kona, Executive Pastry Chef – Four Seasons Hotel Jakarta, bebas berekspesi dalam membuat kue dan menghiasnya dengan warna-warna cerah.

“Untuk Cookies Making Class, akan ada aneka kue dengan bentuk dan warna yang bagus-bagus dengan rasa yang juga enak. Namanya, Kiddy Easter’s Cookies Decorating. Adonannya dibuat dari campuran telur, mentega, gula halus, tepung terigu, vanilla essence, dan chocolate chips. Didekor dengan glaze royal icing (dari putih telur dan lemon juice) yang diberi aneka warna. Kalau melihat warna-warni adonan penghias kue ini, anak-anak akan senang membuatnya,” ungkap I Made Kona.

Dan kita tidak perlu cemas karena semua bahannya aman untuk dimakan. “Tak ada bahan campuran yang tak bisa di makan, untuk menu makanan di sini. Untuk acara Cookies Making Class, kami memilih untuk memakai bahan cokelat murni,” tegas Yudith.

Kebahagiaan dan keceriaan di Hari Paskah akan selalu memberi warna-warni pada hidup manusia di dunia. Perbedaan iklim, tempat, dan tradisi, tidak menjadi halangan untuk memilih Hari Paskah sebagai hari istimewa bagi Anda dan keluarga yang ingin merayakannya.



Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Ket. Foto : Shredded Smoked Chicken with Tangerine Coreander Vinegar

Thursday, January 25, 2007

Menikmati Setiap Sudut Pangkalpinang




Menurut dinas pariwisata setempat, kota Pangkalpinang sejak ratusan tahun ditempati oleh etnis Tionghoa. Oleh sebab itu objek wisata yang ada disana juga tak lepas dari sejarah dan budaya Tionghoa. Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1848 penduduk etnis ini berjumlah sekitar 1.867 jiwa dan pada 1920 bertambah menjadi 15.666 orang, artinya 68,9 % dari seluruh penduduk kota pada waktu itu.

Dengan latar belakang sejarah demikian, wajar kalau Pangkalpinang dan peduduknya juga kental bernuansa tradisi peninggalan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur. Disana tersebar aneka bangunan khas pecinan, seperti kelenteng yang menjadi tanda bahwa tradisi lokal masih melekat hingga sekarang. Berbagai upacara adat pun hingga kini masih lestari dan diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. Kondisi ini membuktikan bahwa sejak berabad silam, pembauran antara etnis Tionghoa dengan Melayu berlangsung baik di kota ini khususnya dan Pulau Bangka secara keseluruhan.

Salah satu tempat yang kerap dikunjungi para wisatawan di Pangkalpinang adalah Kelenteng Kwan Tie Miaw. Kelenteng tertua di Bangka ini, berada masih di pusat Kota Pangkalpinang. Pada setiap perayaan Imlek, kelenteng ini penuh sesak oleh orang-orang yang hendak memanjatkan doa seraya membawa berbagai barang persembahan.

Beberapa upacara adat lokal, juga menarik perhatian wisatawan, antara lain “Peh Cun”, yaitu sebuah tradisi masyarakat Tionghoa untuk menghormati mendiang seorang bangsawan yang amat dicintai rakyat, bernama Qu Yuan. Upacara ini biasanya dilaksanakan di Pantai Pasir Padi setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Tempat lainnya yang juga sering dijambangi sekaligus mengingatkan kita pada abad ke-18 adalah Museum Timah Bangka. Di dalam museum ini terpapar catatan sejarah pertambangan timah Bangka dari awal ditemukan hingga perkembangan industrinya sekarang.


Pantai Favorit
Selain objek wisata sejarah dan budaya, Pangkalpinang juga memiliki objek wisata pantai yakni Pantai Pasir Padi yang terletak di Kecamatan Bukit Intan. Pantai ini mudah dijangkau, cuma butuh 30 menit dengan kendaraan bermotor dari pusah kota.

Kelebihan pantai ini antra lain pantainya landai dan cukup panjang sehingga pengunjungnya bisa puas bermain di sepanjang pantainya hingga jauh. Bentangan pantainya ke laut mencapai lebih-kurang 7 meter. Oleh karena itu ombaknya yang sampai ke tepi pantai hanya berupa riak kecil dan pelan. Sedangkan angin lautnya bertiup kencang ke arah daratan, sehingga kerap dimanfaatkan oleh para penggemar layang-layang.

Pantai berpasir coklat dan bersih ini menjadi lokasi favorit bagi semua umur. Disana kerap terlihat sejumlah anak asyik bermain di bibir pantai, berlarian, membangun istana pasir dan sebagainya. Kawula muda disana juga menjadikan pantai ini sebagai salah satu tempat tongkrongan. Pada akhir pekan atau hari libur, pantai ini semakin ramai pengunjungnya. Jangan heran kalau sampai ada mobil atau sepeda motor yang bebas mondar-mandir di tepian pantainya.

Di sekitar pantai tepatnya di tepi jalan beraspal, terdapat deretan saung kecil yang digunakan pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman ringan. Salah satu minuman favorit di sana adalah air kelapa muda segar.

Kalau ingin menikmati keramaian Kota Pangkalpinang, datang saja ke seputar wilayah Pasar Pembangunan yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan sebutan “Pasar Besar”. Di tempat ini segala jenis barang kebutuhan diperjualbelikan, ada aneka sayur mayur, ikan segar, pakaian hingga barang elektronik. Di lokasi ini juga terdapat deretan penjaja makanan khas Bangka.


Pusat Niaga
Letak Pangkalpinang yang sangat strategis di bagian timur Pulau Bangka, membuatnya selalu ramai dikunjungi orang baik wisatawan, pebisnis, dan sebagainya dari berbagai penjuru. Sarana angkutan masal di kota ini cukup memadai, misalnya Bandara Depati Amir yang terletak di ujung paling timur Kota Pangkalpinang, memiliki jangkauan jalur transportasi pesawat terbang yang didukung lebih dari 4 maskapai penerbangan se-Indonesia. Dengan luas wilayah 89,40 km2, kota ini berfungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan yang meliputi pusat pemerintahan, kegiatan politik, perniagaan, industri, pendistribusian barang, jasa, pelayanan kesehatan, pusat pendidikan, dan lain-lain.

Jalan-jalan di seputar Kota Pangkalpinang cukup menyenangkan. Kondisi lalu-lintasnya lancar, boleh dibilang tak pernah macet. Didukung oleh sarana transportasi umum dengan terminal kota di dekat "Pasar Besar" yang melayani beberapa rute angkutan dalam kota. TC Ayu/Berbagai sumber


Tips Perjalanan:
Pulau Bangka berada di jalur strategis dan internasional antara Singapura dan Jakarta. Mudah mencapainya. Lewat laut dari Jakarta ke Pelabuhan Belinyu dan Pangkal Balam. Via udara dengan pesawat udara, antara lain Sriwijaya Air yang terbang setiap hari ke bandara Depati Amir yang berjarak sekitar 40 km dari Kota Sungailiat. Dari Bandara Depati Amir menuju pusat Kota Pangkalpinang, dapat ditempuh dengan kendaraan umum sekitar 30 menit. Kalau ingin ke Pantai Pasir Padi, ambil jalur yang menuju ke Air Itam. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota.

Angkutan umum dalam kota yang tersedia, ada 5 jalur. Pangkalpinang-Air Itam dengan angkutan kota (angkot) berwarna hitam, Pangkalpinang-Mentok angkot hijau, Pangkalpinang-Pangkalbalam angkot merah, Pangkalpinang-Bandara Depati Amir angkot kuning, dan Pangkalpinang-Selindung dengan angkot warna biru. Tarif penumpang hanya berkisar Rp 2.000-Rp 3.000 per orang.

Untuk pergi ke daerah Sungailiat atau Koba, penumpang bisa memilih kendaraan umum yang disebut “Pownis” atau mobil colt. Jarak tempuhnya sekitar 2-3 jam dari terminal Pangkalpinang. Tarifnya cukup murah, hanya Rp 5.000, pengunjung bisa diantar sampai ke tempat tujuan. Pownis adalah salah satu kendaraan umum milik penduduk di Bangka. Kapasitas Pownis bisa menampung 31 orang. Selain itu ada bentor atau becak motor yang biasa digunakan untuk mengakut orang dan barang. Harganya bervariasi sesuai jarak tempuhnya. Tarif dalam kota biasanya berkisar antaraa Rp 3.000,- s/d Rp 5.000,-per orang.


(Tulisan ini telah dimuat di majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)


Writer: Ayu N.Andini
Photo by Ayu N. Andini
Ket. Foto: Judul "digging" --kawasan wisata Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Bangka.



Monday, January 22, 2007

Melongok Kampung Melayu Tuatunu



Sejarah mencatat, pembentukan kampung-kampung di Pulau Bangka telah dimulai sejak diberlakukan kebijakan pemerintah Kolonial Belanda pada awal abad ke-18, tentang pembukaan jalur-jalur jalan yang menghubungkan beberapa distrik pertambangan timah. Bentuk perkampungannya mirip dengan perkampungan yang kita jumpai sekarang.

Rumah-rumah penduduk dibangun berderet di tepi-tepi jalan yang menghubungkan antara distrik pertambangan timah yang satu dengan yang lain. Hal itu dimaksudkan agar pengawasan terhadap aktivitas penduduk oleh pihak Kolonial Belanda menjadi lebih mudah.

Ketika terjadi perlawanan yang dipimpin Depati Amir, tentara belanda membentuk kampung-kampung yang serupa dengan Kampung Tuatunu. Pihak penjajah sengaja membuat perkampungan yang letak rumah-rumahnya tak menyebar terlalu jauh. Tujuannya agar para pribumi sulit melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Drs. Akhmad Elvian, Kampung Melayu Tuatunu termasuk dalam Simpul C, yakni sebuah rancangan program pengembangan dan pelestarian wisata sejarah dan budaya di Kota Pangkalpinang.

Bentuk Khas
Sesungguhnya, rumah adat khas Kampung Tuatunu tampak seperti rumah panggung biasa. Pondasinya berupa tiang kayu yang terpancang dan disemen pada tiap dasarnya. Seluruh dindingnya terbuat dari kayu Nyatoh atau Meranti Merah yang pohonnya banyak tumbuh di wilayah kampung ini. Dulu, atapnya terbuat dari daun rumbia, tapi belakangan banyak yang menggunakan genteng. Hanya bagian atap depan rumah saja yang ditambah dengan tumpukan daun rumbia.

Yang membedakannya dengan rumah kebanyakan adalah “pintu penanggung malu” yang ada hampir di setiap rumah. Disebut demikian, karena pintu itu dapat menyelamatkan penghuninya dari rasa malu. Pintu itu digunakan oleh penghuni rumah, ketika ada tamu datang sementara tuan rumah tak punya suguhan yang layak. Lewat pintu yang letaknya di bagian belakang rumah itulah sang tuan rumah keluar untuk meminjam atau membeli suguhan bagi tamunya. Ini dilakukan agar tamunya tidak tahu bahwa sesungguhnya sang tuan rumah sedang kesulitan memberi suguhan di rumah sendiri.

Tradisi Mandi di Sungai
Selain bentuk rumah yang unik, penduduk asli di Kampung Tuatunu juga punya kebiasaan atau tradisi yang beda, yakni mandi bersama di sungai. Dan menurut beberapa warganya, mereka memang lebih senang mandi bersama di sungai daripada di rumah. Oleh karenanya setiap pagi warganya berbondong-bondong berjalan menuju ke sungai kecil yang mengalir di dekat kampung. Tradisi ini mengingatkan kita akan kondisi beberapa tempat di Bali pada era tahun-70-an, dimana ketika itu warganya juga biasa melakukan mandi bersama di sungai berair jernih.

Tradisi mandi bersama di sungai menjadi saat-saat menyenangkan bagi warga Kampung Tuatunu. Di tempat pemandaian alami itulah tali persaudaraan dan persahabatan mereka sebagai sesama warga menjadi semakin kuat. Bagi para ibu, mandi bersama di sungai sekaligus menjadi tempat untuk saling bercengkerama dan berbicara tentang apa saja. Sementara bagi anak-anak, menjadi tempat bermain yang menyenangkan. Sungai kecil itu kiranya menjadi saksi bisu segala macam proses komunikasi dan sosialisasi bagi penduduk Kampung Tuatunu.

Tips Perjalanan:
Kampung Tuatunu terletak di bagian barat Kota Pangkalpinang (Pulau Bangka), menempati wilayah sekitar 2.500 hektar. Di sekitarnya masih terdapat rawa. Dari hasil penelitian, didapati bahwa kondisi tanah di perkampungan Tuatunu mempunyai Ph rata-rata dibawah 5 sehingga cocok untuk ditanami pohon karet, lada, dan palawija.

Jaraknya dari pusat Kota Pangkalpinang sekitar 15 menit dengan angkutan umum. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Buah nanas merupakan salah satu hasil perkebunan warga Kampung Tuatunu yang kerap dijadikan buah tangan oleh pengunjung usai menjambanginya.

Di perkampungan yang dihuni oleh etnis Melayu dengan mayoritas muslim, terdapat mesjid tua yang bangun tahun 1928. Masjid Al-Mukarrom ini masih menjadi tempat ibadah yang ramai didatangi hingga sekarang.


(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah wisata yang berkantor di Jakarta)



Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Ket. Foto: Judul "Sendiri" di Pantai Pasir Padi, Pangkalp Pinang, Pulau Bangka.

Wednesday, January 17, 2007

Nikmati Lempah Kuning dan Jongkong Selagi di Bangka


"Ambi’ belacen, garam, cabe kecit, Kite ngelempah, kite ngelempah, lempah darat.Pucuk ided, alar keladi, Hai lempah darat.”

Itulah lirik lagu Lempah Darat yang ditembangkan Zikri, second chef Pelangi Restaurant, Parai Beach Resort & Spa saat membuat salah satu makanan khas Bangka ini. “Kalau ingin tahu resep menu Lempah Darat, coba saja dengar lagunya. Lagu Lempah Darat,” ujarnya.

Resep original Lempah Darat terdiri dari beberapa sayuran seperti pucuk ided (daun-daun muda dari sejenis pohon liar yang tumbuh di hutan Pulau Bangka), dan alar keladi (tunas keladi). Tapi masyarakat di sana kadang menggunakan jenis sayuran lain seperti kacang panjang, kacang butur (sejenis kecipir), terong kancing, dan kerupuk ikan mentah yang dimasukkan ke dalam air rebusan berbumbu. Yang menjadi kekhasan makanan berkuah ini selain asam Jawa adalah bumbunya yang disebut belacan atau yang dikenal dengan terasi Bangka. Belacan ini terbuat dari udang laut segar. Kualitasnya tak perlu diragukan lagi sebagai terasi yang paling sedap untuk dijadikan bumbu masakan. Rasa dan aromanya tajam dan akan lebih sedap kalau dicampur dengan bumbu lain. Menurut tradisi masyarakat disana, Lempah Darat sebagai main course (menu utama) khas Bangka biasanya disantap dengan lauk ikan asin dan nasi putih hangat.

Selain itu ada Lempah Kuning. Kalau Lempah Darat menggunakan banyak bahan yang terdapat di daratan, sebaliknya Lempah Kuning memakai bahan yang datang dari kekayaan laut Bangka-Belitung. Ikan kakap merah yang jadi bahan utamanya, menjadikannya menu ini disebut Lempah Kuning Kakap Merah. Rasa sop ikan ini asam segar dan gurih. Lebih enak disantap selagi masih hangat. "Bumbunya terdiri dari laos, kunyit, bawang putih, bawang merah, cabe, terasi, dan asam," ungkap Zikri.

Ada lagi Ikan Tenggiri Bakar yang disajikan lengkap dengan sambal kecap dan sambal belacannya. Menu ini dibuat dari bahan dasar ikan tenggiri segar yang diberi perasan air jeruk nipis dan diolesi beberapa campuran bumbu sebelum nantinya dipanggang di atas bara. “Ini diambil dari resep asli Bangka. Aslinya, ikan ini hanya diolesi garam dan merica. Tapi di restoran kami ditambah beberapa bumbu lain seperti jahe, daun jeruk, dan daun bawang yang semuanya dicincang tipis lalu campurkan dengan minyak sayur agar lebih sedap. Setelah ikan diberi perasan air jeruk nipis, lalu ditaburi merica dan garam. Terakhir, daging ikan diolesi dengan campuran bumbu cincang,” terang Zikri.

Sambal belacannya menggunakan bahan cabe kecit (cabe rawit), bawang merah, bawang putih, dan sedikit belacan. Semua bahan itu dipanggang lalu ditumbuk jadi satu dan ditambahkan sedikit gula pasir. Ikan tenggiri berdaging putih tebal yang gurih, berpadu dengan sambal belacan yang pedas dan setangkup nasi hangat, tentu jadi santapan utama yang patut dicoba.

Setelah menyantap menu utama, coba cicipi Jongkong sebagai penutup. Penganan manis asli Bangka ini terbuat dari campuran tepung beras yang diberi sedikit air, kapur sirih, dan garam. Adonan tepung beras ini kemudian dimasak hingga matang dan mengental. Pada permukaannya yang terasa manis, tampak butiran bening gula pasir dan lelehan palm sugar. Jongkong bisa dinikmati sebagai makanan tak kenal waktu dan cuaca. Dengan segelas minum teh pahit atau kopi hangat, kenikmatan jongkong lebih terasa. TC Ayu

Tips Perjalanan :
Mau menikmati Lempah Darat, Lempah Kuning Kakap Merah, Ikan Tenggiri Bakar, dan Jongkong saat berada di Bangka? Tak usah bingung! Datang saja ke Pelangi Restaurant yang berada di Kawasan Parai Beach Resort & Spa, Sungailiat, Bangka. Lempah Kuning Ikan Kakap dan Ikan Tenggiri Bakar yang ada disana, masing-masing per porsinya cuma Rp 55 ribu. Kenikmatan dan kekhasannya yang didapat pasti membuat kunjungan anda di Bangka jauh lebih lengkap. Coba saja!


(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)


Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Ket.Foto: Senja di Pantai Matras, Bangka.

Tuesday, January 16, 2007

Please Come Into My Culinary World !!


Antusias! Itu yang saya tangkap dari keceriaan anak-anak di Le Petit Chef (intensive class) -- Chezlely Culinary School. "Please come into my culinary world !!!" ucap mereka.


Photo by Ayu N. Andini