
Wednesday, September 05, 2007
Happy Birthday, Adhi

Live up your life!
And forget your age..!
Happy Birthday..Adhi
Being single is not your fault.
kamu tau, kan...
Matahari itu bukan pasangannya bulan...
Matahari dari dulu sampai sekarang juga sendirian.
seperti halnya bumi...!
Being single is the best time that you ever had...
Trust me!
Kepada teman lamaku, Adhi Pramudya
Lelaki bawel di Sastra Arab pada zamannya...
Writer : Ayu N. Andini
Image are creatred by image chef
Monday, September 03, 2007
A Thousand Miles

Making my way downtown
Walking fast faces pass
And I'm home bound
Staring blankly ahead
Just making my way
Making a way through the crowd
And I need you
And I miss you
And now I wonder....
If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
'Cause you know I'd walk a thousand miles
If I could just see you ..
tonight !
Ilustration taken from Vanessa Carlton lyrics.
Photo Tittle : Through My Feet
Photo by Ayu N. Andini
Walking fast faces pass
And I'm home bound
Staring blankly ahead
Just making my way
Making a way through the crowd
And I need you
And I miss you
And now I wonder....
If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
'Cause you know I'd walk a thousand miles
If I could just see you ..
tonight !
Ilustration taken from Vanessa Carlton lyrics.
Photo Tittle : Through My Feet
Photo by Ayu N. Andini
Thursday, August 30, 2007
Membumi

Untuk apa manusia dikaruniai mata yang indah?
agar ia mampu melihat segala yang juga buruk.
Untuk apa manusia dikaruniai hati yang busuk?
agar nanti ada manusia lain yang disakiti olehnya.
Mengapa Tuhan membiarkan manusia disakiti?
agar manusia bisa benar-benar menghargai apa artinya bahagia...
Writer: Ayu N. Andini
Tittle image: My Earth
Photo and design image by Ayu N. Andini
Friday, August 03, 2007
Plesiran

Tahukah ketika diri disergap banyak pertanyaan,
mencari jawaban, ternyata bukan jalan keluar terbaik.Maka, bercerminlah sering-sering.
Tahukah ketika simpanan masa lalu dalam peti brankas
yang terkunci rapat dan kau tanam di tengah hutan perawan,
kau gali kembali?
Ternyata, tak akan masa depan yang kau lihat di sana.
Cuma ada carut marut luka lama yang kering dan sembuh,
dan luka, dan kering, dan sembuh...
begitu terus menerus...membuang sisa usiamu.
Tahukah kau ketika kau diserang rasa:
sauhmu menemukan laut dan samudera yang ingin kau arungi?
Maka masa depan sedang kau lukis di kedalamannya.
Jauhkan hidupmu dari rasa jengah kepada badai.
Karena badailah yang akan menjadi sahabat terdekat hati kalian berdua.
Ada tumpukan harapan dan doa terbaik saya, untuk pernikahan kalian.
(this poem is a wedding gift for my best friends : Abah Dony dan Noor)
Writer : Ayu N. Andini
Image by National Geographic
Thursday, August 02, 2007
Konyolisasi

Konyol kalau kubilang,
ketika masyarakat Indonesia kala itu menghargai para selir raja.
Konyol kalau kubilang,
ketika para Raja diijinkan punya permaisuri sekaligus selir-selir.
Konyol kalau ada yang bilang,
bahwa agama membolehkan para suami untuk berpoligami.
Konyol juga, kalau misalnya...
nasib sejarah Indonesia direpotkan oleh urusan selir, poligami, dan perceraian.
Hah!!!!!!!!
Hasrat memang sangat liar.
Tak ada tembok kokoh untuk membatasi yang satu ini.
Tak ada tirani untuk memenjarakan yang namanya birahi.
Tak ada yang bisa menahannya.
Karena yang namanya kesetiaan,
ia berwajah selembut ibu,
berperilaku semulia bidadari,
berkulit halus seperti permaisuri,
dan sedikit cengeng.
Sangat rentan dengan segala hal!
Sangat lemah di segala sisi!
Maka, akan sangat konyol kalau semua manusia,
juga masih menyalahkan setan iblis yang berbuat itu pada dirinya.
Berbuat tidak setia,
melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kecil,
dan pengingkaran terhadap keadaan-keadaan faktual dirinya.
Manusia memang konyol...
Konyol kalau kubilang,
ketika para Raja diijinkan punya permaisuri sekaligus selir-selir.
Konyol kalau ada yang bilang,
bahwa agama membolehkan para suami untuk berpoligami.
Konyol juga, kalau misalnya...
nasib sejarah Indonesia direpotkan oleh urusan selir, poligami, dan perceraian.
Hah!!!!!!!!
Hasrat memang sangat liar.
Tak ada tembok kokoh untuk membatasi yang satu ini.
Tak ada tirani untuk memenjarakan yang namanya birahi.
Tak ada yang bisa menahannya.
Karena yang namanya kesetiaan,
ia berwajah selembut ibu,
berperilaku semulia bidadari,
berkulit halus seperti permaisuri,
dan sedikit cengeng.
Sangat rentan dengan segala hal!
Sangat lemah di segala sisi!
Maka, akan sangat konyol kalau semua manusia,
juga masih menyalahkan setan iblis yang berbuat itu pada dirinya.
Berbuat tidak setia,
melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kecil,
dan pengingkaran terhadap keadaan-keadaan faktual dirinya.
Manusia memang konyol...
dan pembohong.
Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Exist
Sunday, July 29, 2007
Farewell Party
di Banjaran, Kabupaten Bandung sana. Haha..
Agak sulit menyusuri jalan pematang yang sekecil itu, dengan tubuh gempalku.
Kakiku masih mungil waktu itu. Usiaku, masih 3 tahun.
Waktu itu, ayahku memanggilku pulang,
tapi aku cengar cengir...sambil pegang-pegang ujung daun-daun padi..
Lalu ayahku berjalan mendekat...
Waaaaa..aku cepat-cepat berlari.. Kami tertawa sama-sama..
Lalu dia berhasil menangkap tubuh gempalku.
Agak sulit menyusuri jalan pematang yang sekecil itu, dengan tubuh gempalku.
Kakiku masih mungil waktu itu. Usiaku, masih 3 tahun.
Waktu itu, ayahku memanggilku pulang,
tapi aku cengar cengir...sambil pegang-pegang ujung daun-daun padi..
Lalu ayahku berjalan mendekat...
Waaaaa..aku cepat-cepat berlari.. Kami tertawa sama-sama..
Lalu dia berhasil menangkap tubuh gempalku.
Dan ibuku memotret aku dan ayahku
di tengah pematang sawah..
Rinduku pada ayahku sudah memuncak...
Tak cukup lagi hanya memandang nisannya..
Tak henti doa kuucap untuknya...
Aku ingin memeluknya..
Kepada siapa aku menuntaskannya?
Bagaimana aku menuntaskannya?
Tuhanku,...berikan cara untukku!
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Being Central
Bagaimana aku menuntaskannya?
Tuhanku,...berikan cara untukku!
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Being Central
Saturday, July 28, 2007
Pesta Untukmu, Anak Indonesia

Perayaan puncak Hari Anak Nasional 2007 yang melibatkan sekitar 6.000 anak, digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.
HAN 2007 juga diperingati di berbagai tempat secara mandiri. Satu di antaranya, oleh Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Peringatan Hari Anak Nasional 2007 dirayakan di sana tanggal 19 Juli 2007. Panitianya nota bene para aktifis di lingkungan Komnas Perlindungan Anak, Jakarta. Tamu istimewa yang ditunggu-tunggu pada hari itu, tak lain adalah anak-anak jalanan yang diundang datang dari daerah Depok, Jawa Barat dan PKBM Kurnia di Kramat Jati, Jakarta. Jumlahnya ada 100 anak. Dari mulai yang usianya masih 5 tahun s/d 18 tahun. Kedatangannya ke tempat perayaan, tak sendiri-sendiri tapi berbondong-bondong, didampingi pembina/pembimbingnya masing-masing. Komnas Perlindungan Anak mendadak ramai hari itu.
Pagi itu acara dibuka dengan Ngopi Bareng Komnas Perlindungan Anak dan rekan-rekan dari berbagai media massa. Di sana, masalah-masalah anak Indonesia dikuak dan dibahas sekilas. Komnas Perlindungan Anak meninjau ulang tema Hari Anak Nasional versi pemerintah tahun 2007 ini. Dalam lembaran siaran persnya, disebutkan : bermaknakah Hari Anak Nasional (HAN) 2007 terhadap kompleksitas persoalan anak yang melanda negeri ini?
Bagaimanapun, Komnas Perlindungan Anak dengan segera melakukan upaya refleksi dan memilih merayakan HAN 2007 bersama selingkup kecil anak-anak jalanan. Sebagian anak yang kurang beruntung dan dimarginalkan ini, hingga kini tak mampu tertangani dengan baik oleh pemerintah.
Anak-anak Indonesia sesungguhnya dirundung berbagai masalah. Namun, bagaimana pun, anak-anak tetap anak-anak. Mereka tetap melompat riang, bernyanyi, tersenyum, dan tertawa lucu ketika Kak Seto naik ke panggung, memainkan boneka-bonekanya serta mengajak anak-anak jalanan ini bergembira sama-sama. Selain dihibur, anak-anak ini juga dapat ransum makan siang, kue-kue, dan bingkisan-bingkisan dari penyelenggara acara.
Walaupun hanya sebentar saja, tapi mereka diberi hak untuk itu. Untuk bergembira sebagai anak-anak. Esok, mereka kembali pada kehidupan keras di jalan. Menjadi penyapu kereta api, menjadi pengamen jalanan, tukang ojek payung, pemulung, penjual koran, dan banyak lagi.
Yusuf, anak jalanan yang putus sekolah. Usianya kini 18 tahun. Ia datang dari Depok untuk ikut rayakan HAN 2007 di Komnas Perlindungan Anak hari itu. Sekarang ia sedang meneruskan SMAnya di Yayasan Bina Insani Mandiri (YABIM), Depok. “Disini sekolah gratis. Saya juga jadi tukang bersihin sekolah saya sendiri di SMA YABIM Depok. Dulu, saya sempat jadi tukang sapu di kereta. Sekarang saya mau nerusin sekolah. Saya juga ingin, teman-teman saya sesama anak jalanan bisa menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mau jadi polisi, mbak,” ucapnya sambil senyum malu-malu.
Ia hanya segelintir kecil anak jalanan yang punya harapan. Walau sedikit yang termotivasi, tapi ini bisa jadi modal besar untuk mengajak anak-anak lainnya emnggantungkan cita-cita setinggi langit.
Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, dan berkantor di Jakarta.
HAN 2007 juga diperingati di berbagai tempat secara mandiri. Satu di antaranya, oleh Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Peringatan Hari Anak Nasional 2007 dirayakan di sana tanggal 19 Juli 2007. Panitianya nota bene para aktifis di lingkungan Komnas Perlindungan Anak, Jakarta. Tamu istimewa yang ditunggu-tunggu pada hari itu, tak lain adalah anak-anak jalanan yang diundang datang dari daerah Depok, Jawa Barat dan PKBM Kurnia di Kramat Jati, Jakarta. Jumlahnya ada 100 anak. Dari mulai yang usianya masih 5 tahun s/d 18 tahun. Kedatangannya ke tempat perayaan, tak sendiri-sendiri tapi berbondong-bondong, didampingi pembina/pembimbingnya masing-masing. Komnas Perlindungan Anak mendadak ramai hari itu.
Pagi itu acara dibuka dengan Ngopi Bareng Komnas Perlindungan Anak dan rekan-rekan dari berbagai media massa. Di sana, masalah-masalah anak Indonesia dikuak dan dibahas sekilas. Komnas Perlindungan Anak meninjau ulang tema Hari Anak Nasional versi pemerintah tahun 2007 ini. Dalam lembaran siaran persnya, disebutkan : bermaknakah Hari Anak Nasional (HAN) 2007 terhadap kompleksitas persoalan anak yang melanda negeri ini?
Bagaimanapun, Komnas Perlindungan Anak dengan segera melakukan upaya refleksi dan memilih merayakan HAN 2007 bersama selingkup kecil anak-anak jalanan. Sebagian anak yang kurang beruntung dan dimarginalkan ini, hingga kini tak mampu tertangani dengan baik oleh pemerintah.
Anak-anak Indonesia sesungguhnya dirundung berbagai masalah. Namun, bagaimana pun, anak-anak tetap anak-anak. Mereka tetap melompat riang, bernyanyi, tersenyum, dan tertawa lucu ketika Kak Seto naik ke panggung, memainkan boneka-bonekanya serta mengajak anak-anak jalanan ini bergembira sama-sama. Selain dihibur, anak-anak ini juga dapat ransum makan siang, kue-kue, dan bingkisan-bingkisan dari penyelenggara acara.
Walaupun hanya sebentar saja, tapi mereka diberi hak untuk itu. Untuk bergembira sebagai anak-anak. Esok, mereka kembali pada kehidupan keras di jalan. Menjadi penyapu kereta api, menjadi pengamen jalanan, tukang ojek payung, pemulung, penjual koran, dan banyak lagi.
Yusuf, anak jalanan yang putus sekolah. Usianya kini 18 tahun. Ia datang dari Depok untuk ikut rayakan HAN 2007 di Komnas Perlindungan Anak hari itu. Sekarang ia sedang meneruskan SMAnya di Yayasan Bina Insani Mandiri (YABIM), Depok. “Disini sekolah gratis. Saya juga jadi tukang bersihin sekolah saya sendiri di SMA YABIM Depok. Dulu, saya sempat jadi tukang sapu di kereta. Sekarang saya mau nerusin sekolah. Saya juga ingin, teman-teman saya sesama anak jalanan bisa menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mau jadi polisi, mbak,” ucapnya sambil senyum malu-malu.
Ia hanya segelintir kecil anak jalanan yang punya harapan. Walau sedikit yang termotivasi, tapi ini bisa jadi modal besar untuk mengajak anak-anak lainnya emnggantungkan cita-cita setinggi langit.
Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, dan berkantor di Jakarta.
Baca juga liputan lengkap Hari Anak Nasional 2007
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Wings of Hope
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Wings of Hope
Wednesday, July 25, 2007
Spektakuler tapi Tidak Terlalu Istimewa

Umurnya sudah kolot.
Sekitar 400an tahun lebih.
Udah banyak yang mati gara-gara kurang makan di sini.
Udah banyak yang kalah dan menyerah di sini.
Udah banyak yang dibunuh preman di kota ini.
Udah banyak yang diculik dan diperas di sini.
Udah banyak yang jadi korban perampokan di kota ini.
Mungkin karena keberatan nama dan status, Jakarta jadi begini.
Ibu kota negara. Tempat utama kunjungan kenegaraan, ya di sini juga.
Apakah mereka yang jadi penghuni asli Jakarta
Sekitar 400an tahun lebih.
Udah banyak yang mati gara-gara kurang makan di sini.
Udah banyak yang kalah dan menyerah di sini.
Udah banyak yang dibunuh preman di kota ini.
Udah banyak yang diculik dan diperas di sini.
Udah banyak yang jadi korban perampokan di kota ini.
Mungkin karena keberatan nama dan status, Jakarta jadi begini.
Ibu kota negara. Tempat utama kunjungan kenegaraan, ya di sini juga.
Apakah mereka yang jadi penghuni asli Jakarta
juga bangga punya kota yang se-semrawut ini?
Nggak tau juga, aku belum pernah bikin angketnya.
Tapi kayaknya kalo ditanya betah atau nggak, mereka akan lebih banyak menjawab begini:
Nggak tau juga, aku belum pernah bikin angketnya.
Tapi kayaknya kalo ditanya betah atau nggak, mereka akan lebih banyak menjawab begini:
"Yaaaa..gimana ya? Saya lahir di sini, besar di sini, cari uang di sini.
Nyaman? yaaaa..gimana yaa?"
Haha...pasti mereka tak punya pilihan.
Apakah yang sekarang jadi penduduk Jakarta,
Haha...pasti mereka tak punya pilihan.
Apakah yang sekarang jadi penduduk Jakarta,
juga mengenal kota ini sebaik dia mengenal kota lainnya?
Jawabnya, belum tentu.
Jakarta, misterius.
Segala sesuatu bisa terjadi di sini.
Saya bisa bilang kota ini metropolis norak,
Jawabnya, belum tentu.
Jakarta, misterius.
Segala sesuatu bisa terjadi di sini.
Saya bisa bilang kota ini metropolis norak,
karena gayanya yang setengah-setengah.
Membuat image metropolis, tapi nanggung banget.
Jadi..mmmm..rasanya, seperti orang pacaran
Membuat image metropolis, tapi nanggung banget.
Jadi..mmmm..rasanya, seperti orang pacaran
yang cuman pandangan mata doang. Nggak ciuman, nggak pelukan.
Katakanlah...sepertinya kurang afdol.
Maka nya, gaya metropolisnya jadi norak.
Ya..maaf juga kepada para pendukung gerakan metropolis di kota ini.
Anda-anda ini memang pribadi yang urban.
Jadi..memang tak akan bisa jadi afdol.
Kota ini seharusnya menjadi kota tempat orang-orang pekerja keras.
Tapi budaya "anak titipan" dan sogokan untuk masuk ke sebuah perusahaan, woooo..di Jakarta, jangan di tanya. Buanyaaak...!!
Tapi buat yang masuk dan terseleksi resmi
Katakanlah...sepertinya kurang afdol.
Maka nya, gaya metropolisnya jadi norak.
Ya..maaf juga kepada para pendukung gerakan metropolis di kota ini.
Anda-anda ini memang pribadi yang urban.
Jadi..memang tak akan bisa jadi afdol.
Kota ini seharusnya menjadi kota tempat orang-orang pekerja keras.
Tapi budaya "anak titipan" dan sogokan untuk masuk ke sebuah perusahaan, woooo..di Jakarta, jangan di tanya. Buanyaaak...!!
Tapi buat yang masuk dan terseleksi resmi
untuk dipanggil dan bekerja di kota ini, ya..selamat!!!
Ini memang kota buat kalian. Buat kita.
Maka habiskan waktu kalian untuk jadi profesional jempolan.
Karena Jakarta sudah memanggilmu untuk datang menjelajahi tubuhnya.
Welcome to Jakarta!!!
Be Brave..!!!
Untuk Ojie dan Michael
Writer: Ayu N. Andini
Image are created by image chef
Ini memang kota buat kalian. Buat kita.
Maka habiskan waktu kalian untuk jadi profesional jempolan.
Karena Jakarta sudah memanggilmu untuk datang menjelajahi tubuhnya.
Welcome to Jakarta!!!
Be Brave..!!!
Untuk Ojie dan Michael
Writer: Ayu N. Andini
Image are created by image chef
Wednesday, July 18, 2007
How can I pretend that I don't now what's going on?
Di Bandung, kota sejuk yang nyaman itu, masih juga banyak anak-anak gelandangan di setiap simpang jalan dan lampu merah pusat kotanya. Yang ngamen, yang minta-minta, yang nge-lap kaca mobil, banyak..!
Di Jakarta? Jangan tanya. Gelandangan yang kategorinya paling lengkap memang ada di sini. Dari manusia yang umur 1 hari sampai kakek nenek jompo juga ada.
Waktu hari Sabtu (14/7/2007) kemarin saya liputan di Ancol, banyak anak-anak yang tampak "bersih" penampilannya, dikawal lengkap oleh orangtua mereka, jalan-jalan di Pasar Seni. Lalu singgah buat ikutan lomba menggambar di sana. Antusiasnya bukan main! Saya tidak pernah lupa dengan binar matanya Beatrice, anak umur 3 tahun yang sibuk mewarnai waktu itu.
Sebenarnya, anak-anak gelandangan juga punya binar mata yang sama ketika mereka antusias menerima uang kertas ribuan rupiah dari tangan kita.
Kadar pola pikirnyanya sungguh seperti jurang dan pegunungan. jauuuuhhh..banget!
Penanganan pemerintah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung ini, memang terkesan terpenggal-penggal. Depsos sibuk ama kampanye hak kesejahteraan hidup bagi anak. Depdiknas sibuk sendiri dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dan program BOS nya. Departemen Kesehatan, sibuk sorangan ngurusan kebutuhan gizi anak-anak ini.
Bayangkan, ada 3 departemen yang mengurusi hak anak. Belum lagi, ditambah dengan LSM-LSM Perlindungan Anak. Hmmm..banyak ya! sayangnya, mereka sibuk sendiri-sendiri, berlomba-lomba bikin program unggulan supaya dapet perhatian presiden dan perhatian dunia. Biasaaalaahh..egoisme Departemen masing-masing kan pasti jadi motivator kuat untuk masalah ini.
Sementara itu, program bantuan yang datang luar negeri, udah pasti lebih bagus. Tapi banyak dicurigai juga mengambil keuntungan "terpendam". Jadi, mustinya cara paling jitu adalah kurangi angka kelahiran dan pikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang jadi hak anak itu. Jika belum bisa terpenuhi, jangan "bikin" anak duluuuuuu.
Jangan lagi pake semboyan ,"Banyak anak, banyak rejeki."
Kuno banget sih looo..!!! Pikirkan juga secara berimbang tentang hak anak-anak kalian nantinya. Supaya Indonesia tidak terlalu lama jadi negara konsumen dan negara produsen yang terjajah terus menerus.
Untuk anak-anak Indonesia, "Selamat hari Anak Nasional, semoga kalian menjadikan Indonesia lebih baik lagi, lebih trendy lagi, dan lebih berkuasa atas separuh lebih wilayah Asia Tenggara."
Catatan: yang disebut sebagai anak adalah (manusia usia 0 s/d 17 tahun).
Writer : Ayu N. Andini
Di Jakarta? Jangan tanya. Gelandangan yang kategorinya paling lengkap memang ada di sini. Dari manusia yang umur 1 hari sampai kakek nenek jompo juga ada.
Waktu hari Sabtu (14/7/2007) kemarin saya liputan di Ancol, banyak anak-anak yang tampak "bersih" penampilannya, dikawal lengkap oleh orangtua mereka, jalan-jalan di Pasar Seni. Lalu singgah buat ikutan lomba menggambar di sana. Antusiasnya bukan main! Saya tidak pernah lupa dengan binar matanya Beatrice, anak umur 3 tahun yang sibuk mewarnai waktu itu.
Sebenarnya, anak-anak gelandangan juga punya binar mata yang sama ketika mereka antusias menerima uang kertas ribuan rupiah dari tangan kita.
Kadar pola pikirnyanya sungguh seperti jurang dan pegunungan. jauuuuhhh..banget!
Penanganan pemerintah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung ini, memang terkesan terpenggal-penggal. Depsos sibuk ama kampanye hak kesejahteraan hidup bagi anak. Depdiknas sibuk sendiri dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dan program BOS nya. Departemen Kesehatan, sibuk sorangan ngurusan kebutuhan gizi anak-anak ini.
Bayangkan, ada 3 departemen yang mengurusi hak anak. Belum lagi, ditambah dengan LSM-LSM Perlindungan Anak. Hmmm..banyak ya! sayangnya, mereka sibuk sendiri-sendiri, berlomba-lomba bikin program unggulan supaya dapet perhatian presiden dan perhatian dunia. Biasaaalaahh..egoisme Departemen masing-masing kan pasti jadi motivator kuat untuk masalah ini.
Sementara itu, program bantuan yang datang luar negeri, udah pasti lebih bagus. Tapi banyak dicurigai juga mengambil keuntungan "terpendam". Jadi, mustinya cara paling jitu adalah kurangi angka kelahiran dan pikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang jadi hak anak itu. Jika belum bisa terpenuhi, jangan "bikin" anak duluuuuuu.
Jangan lagi pake semboyan ,"Banyak anak, banyak rejeki."
Kuno banget sih looo..!!! Pikirkan juga secara berimbang tentang hak anak-anak kalian nantinya. Supaya Indonesia tidak terlalu lama jadi negara konsumen dan negara produsen yang terjajah terus menerus.
Untuk anak-anak Indonesia, "Selamat hari Anak Nasional, semoga kalian menjadikan Indonesia lebih baik lagi, lebih trendy lagi, dan lebih berkuasa atas separuh lebih wilayah Asia Tenggara."
Catatan: yang disebut sebagai anak adalah (manusia usia 0 s/d 17 tahun).
Writer : Ayu N. Andini
Monday, July 16, 2007
Menjaga Diri dari Diriku Sendiri

Udah pasti kenal dengan yang namanya bahaya laten. Itu, bahaya yang datangnya dari dalam. Seperti musuh dalam selimut. Seperti duri dalam daging. Seperti cabe rawit yang ditaruh di dalam tahu goreng. Mulus dari luar, tapi sekali gigit, ah...pedas!
Ketika aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah membocorkan rahasia tentang potensi diri setiap manusia, aku mafhum. Karena jika semuanya terlalu sadar akan hal itu, akan terjadi perang dunia ke-3, ke-4, dan ke-5, mungkin yang ke-6 sekarang.
Iya!! Karena ketika semua manusia sangat sadar pada kelebihan-kelebihan yang ia miliki, ia akan dilahap mentah-mentah oleh instingnya sendiri. Manusia kan lekat dengan image "tak pernah puas". Ada sebagian efek positif yang akan terjadi, tapi akan terjadi peristiwa kanibalisme besar-besaran.
Lihat aja, toko-toko yang pasang tulisan besar-besar "DISKON 70%", tau kan, rekasi apa yang akan terjadi? belanja sepuasnya, sampe duitnya cekak, cuman cukup buat ongkos taksi pulang ke rumah.
Ketika setiap manusia sadar pada kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, itu letaknya seperti pada labirin tipis. Karena sesuatu yang sangat terkenal akan menjadi batas bahwa tak semua hal harus kita mengerti. Itu, namanya TAKDIR.
Ada banyak rahasia di sana. ketika kita sadar, kita bisamembaca, apa yang ada dipikiran kita? Akan ada banyak rahasia yang terungkap! Tapi tidak untuk yang satu itu. TAKDIR, jadi rahasia yang dipegang teguh Tuhan bagi semua ciptaannya. Aku percaya itu. Takdir itu penuh dengan rencana-rencana Tuhan, yang cuma diketahui Tuhan. Mungkin malaikat cuma bisa mengintip aja. Tidak benar-benar tahu persis.
Aku jadi paham, karena ternyata tak ada manusia yang diijinkan bisa membaca dan memahami dirinya sendiri. Tuhan hanya menginjinkannya sebanyak mmm... 50% kira-kira. Tidak bisa lebih. Sisanya, jadi tugas manusia lain untuk bisa membaca dan memahaminya. Itu sebabnya kita punya sahabat, teman dekat, pacar, istri, suami, ibu, ayah, anak, cucu, kakek, nenek kita sendiri. Bahkan mungkin ada sebagian kecil mmm..10% nya jadi jatah dukun-dukun dan paranormal yang dibayar utk meramal, membaca dan memahami.
Memang butuh cermin, untuk bisa paham tentang diri sendiri. Dulu, saya pernah dengar tentang Lacan, yang banyak bicara tentang mirror effect. Ah..tapi bisa gila, baca bukunya.
Masing-masing dari kita mungkin sadar potensi, setelah kita bekerja. Dan dikontrak secara profesional. Dibayar gajinya tiap bulan. Karya atau kerjaan dihargai dengan karir dan upah. Itu, pemahaman yang berjalan di sini. Di tempat yang fana ini.
Hmm...bagaimana kita bisa paham tentang kedalaman keinginan kita sendiri?
Aku merasakannya sekarang seperti menyelam ke kedalaman laut, lalu masuk ke palungnya yang entah....seperti tak pernah ada dasarnya yang bisa kuraba.
Apakah cita-cita menjadi batas dari semuanya? Lalu bagaimana dengan harapan-harapan orang yang menyayangi kita? Apakah itu juga menentukan dan membentuk keinginan-keinginan kita? Mau ditaruh dimana mereka?
Bagaimana membuat mereka mengerti aku? Bagaimana membuatku mengerti mereka? Karena ternyata, ada bahaya yang sedang mengancamku. Itu, diriku sendiri..!!! Aku butuh orang lain untuk membantuku mengendalikannya. Tapi tak ada yang kulihat menoleh padaku, saat ini. Semuanya sibuk dengan potensi dirinya masing-masing.
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Power of Nature 01
Friday, July 13, 2007
Improvisasi Kesuburan

Air mencacah batu menjadi belah
Akar menembus dinding menjadi retak
Daun tertidur di tanah, namun tak lantas merusaknya.
Aku datang ke sini, punya janji ketemu dengan daun-daun di pelataran parkir
Aku me-lap keringatmu, lantaran hatiku berjanji pada tubuh dan otakku.
Aku mengingat semua yang pernah kulupa,
karena aku tak ingin kembali ke masa lalu.
Walau aku menanti usia seperti pohon jati
Setelah cukup umur, akan ditebang.
Walau aku menanti usia seperti pohon karet
Setelah cukup umur, baru pantas ditoreh.
Aku menantimu seperti laut.
Yang rindu angin, bunyi kapal, tebaran jala nelayan, dan datangnya ribuan ikan di dalamku.
Aku menjelma menjadi samudera kecil.
Kosong dan sepi.
Menanti alam memberi dayanya padaku.
Sekarang, aku jadi merpati yang terbang padamu.
Cuma ingin sampaikan surat.
Katanya isinya penting, buatmu.
Surat ini dari masa lalu..
Tapi aku datang dari masa depanmu.
Lalu kutaruh surat untukmu ke dalam botol.
Kularungkan ke samudera.
Maaf, sudah kubuang.
Mungkin kamu sedang menungguku,
Maaf, aku tidak bisa datang.
Ada meeting merpati pos antar negara.
Pagi ini, aku jadi demonstran
bergerombol berjalan kaki ke istana negara.
Aku memakai penutup wajah supaya tak mudah dikenali
Aku membawa spanduk bertuliskan : SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Aku juga berteriak keras-keras :HAI..SEMOGA PANJANG UMUR YA!!! AKU SELALU BERDOA, TUHAN AKAN MELINDUNGIMU!!!
Tapi tak kulihat dirimu
yang kini masih senang menyapa masa lalumu.
Happy birthday, honey..
I really don't know about what you want from me..
Writer : Ayu N. Andini
Akar menembus dinding menjadi retak
Daun tertidur di tanah, namun tak lantas merusaknya.
Aku datang ke sini, punya janji ketemu dengan daun-daun di pelataran parkir
Aku me-lap keringatmu, lantaran hatiku berjanji pada tubuh dan otakku.
Aku mengingat semua yang pernah kulupa,
karena aku tak ingin kembali ke masa lalu.
Walau aku menanti usia seperti pohon jati
Setelah cukup umur, akan ditebang.
Walau aku menanti usia seperti pohon karet
Setelah cukup umur, baru pantas ditoreh.
Aku menantimu seperti laut.
Yang rindu angin, bunyi kapal, tebaran jala nelayan, dan datangnya ribuan ikan di dalamku.
Aku menjelma menjadi samudera kecil.
Kosong dan sepi.
Menanti alam memberi dayanya padaku.
Sekarang, aku jadi merpati yang terbang padamu.
Cuma ingin sampaikan surat.
Katanya isinya penting, buatmu.
Surat ini dari masa lalu..
Tapi aku datang dari masa depanmu.
Lalu kutaruh surat untukmu ke dalam botol.
Kularungkan ke samudera.
Maaf, sudah kubuang.
Mungkin kamu sedang menungguku,
Maaf, aku tidak bisa datang.
Ada meeting merpati pos antar negara.
Pagi ini, aku jadi demonstran
bergerombol berjalan kaki ke istana negara.
Aku memakai penutup wajah supaya tak mudah dikenali
Aku membawa spanduk bertuliskan : SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Aku juga berteriak keras-keras :HAI..SEMOGA PANJANG UMUR YA!!! AKU SELALU BERDOA, TUHAN AKAN MELINDUNGIMU!!!
Tapi tak kulihat dirimu
yang kini masih senang menyapa masa lalumu.
Happy birthday, honey..
I really don't know about what you want from me..
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Print of Nature
Thursday, July 12, 2007
Menjadi Rahasia

Aku pernah tak paham tentang rahasia.
Yang pertama kali aku tahu, ada sesuatu yang tak terpahami. Dan itu hanya dipahami orang lain di luar diri dan tubuhku.
Yang pertama kali aku tahu, ada sesuatu yang tak terpahami. Dan itu hanya dipahami orang lain di luar diri dan tubuhku.
Dan bagi yang tahu ini, tak juga ingin membaginya denganku.
Sejak itu, aku sering memuaskan pikiran-pikiranku dengan kegiatan "mencari tahu". Lalu, tiba-tiba aku menjelma menjadi anak kecil yang sangat banyak bertanya. Seperti ketika pertama kalinya aku mengintip ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar, sendirian. Kudekati dia, kupeluk dia, dan aku ikut menangis. Kutanya padanya, "Ada apa, ma?"
Tapi, tak pernah ada jawaban. Esoknya, aku tidak melihatnya menangis, tapi aku melihatnya tak bercakap-cakap lagi dengan ayahku. Wajah mereka, kecut bagiku. Tapi aku bertanya, "Kenapa, pa?
Dan tidak lama kemudian, ada bunyi piring pecah di ruang makan. Ibuku lari masuk ke kamar. Ayahku berdiri tegak, semua makanan di piringnya sudah berantakan di lantai.
Sejak itu, aku sering memuaskan pikiran-pikiranku dengan kegiatan "mencari tahu". Lalu, tiba-tiba aku menjelma menjadi anak kecil yang sangat banyak bertanya. Seperti ketika pertama kalinya aku mengintip ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar, sendirian. Kudekati dia, kupeluk dia, dan aku ikut menangis. Kutanya padanya, "Ada apa, ma?"
Tapi, tak pernah ada jawaban. Esoknya, aku tidak melihatnya menangis, tapi aku melihatnya tak bercakap-cakap lagi dengan ayahku. Wajah mereka, kecut bagiku. Tapi aku bertanya, "Kenapa, pa?
Dan tidak lama kemudian, ada bunyi piring pecah di ruang makan. Ibuku lari masuk ke kamar. Ayahku berdiri tegak, semua makanan di piringnya sudah berantakan di lantai.
Aku tidak paham, kenapa tak ada pertanyaanku yang ingin mereka jawab.
Tapi beberapa hari kemudian, kulihat mereka seperti hari-hari yang biasa. Bercakap-cakap saat makan siang dan makan malam, lalu ayahku menanyakan kegiatanku di sekolah. Dan kami tertawa bersama, waktu nonton video rekaman disko bola yang ayahku simpan di kaset VHS nya.
Akhirnya aku paham, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku hanya untuk mereka berdua saja.
Tapi beberapa hari kemudian, kulihat mereka seperti hari-hari yang biasa. Bercakap-cakap saat makan siang dan makan malam, lalu ayahku menanyakan kegiatanku di sekolah. Dan kami tertawa bersama, waktu nonton video rekaman disko bola yang ayahku simpan di kaset VHS nya.
Akhirnya aku paham, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku hanya untuk mereka berdua saja.
Dan bukan buatku, perempuan kecil, usia sembilan tahun.
Itukah yang namanya rahasia? Apakah rahasia adalah sesuatu yang punya rasa, bau, dan dapat kurasakan halus kasar permukaannya? Bagaimana rupanya rahasia itu? Kapan aku bisa berahasia? Waktu itu, aku punya banyak pertanyaan. Tapi kusimpan saja, buatku. Apakah aku juga sudah berahasia? Apakah berahasia itu membuat dosa? Waktu itu, aku belum tahu.
Sekarang, aku menjadi si rahasia.
Itukah yang namanya rahasia? Apakah rahasia adalah sesuatu yang punya rasa, bau, dan dapat kurasakan halus kasar permukaannya? Bagaimana rupanya rahasia itu? Kapan aku bisa berahasia? Waktu itu, aku punya banyak pertanyaan. Tapi kusimpan saja, buatku. Apakah aku juga sudah berahasia? Apakah berahasia itu membuat dosa? Waktu itu, aku belum tahu.
Sekarang, aku menjadi si rahasia.
Yang digelapkan. Yang disembunyikan. Yang tak terkatakan.
Jangan tanya bagaimana rasanya menjadi si rahasia.
Karena aku akan menjawab:
rasanya seperti ditiup angin dingin musim kemarau.
rasanya seperti di tampar-tampar oleh gerimis.
rasanya seperti pohon karet yang ditoreh-toreh dan disadap getahnya,
Jangan tanya bagaimana rasanya menjadi si rahasia.
Karena aku akan menjawab:
rasanya seperti ditiup angin dingin musim kemarau.
rasanya seperti di tampar-tampar oleh gerimis.
rasanya seperti pohon karet yang ditoreh-toreh dan disadap getahnya,
lalu ditinggal jika getahnya mengering...
(karena menjadi rahasia, membuatku tak ingin melanjutkan hidupku terlalu lama..)
Writer : Ayu N. Andini
(karena menjadi rahasia, membuatku tak ingin melanjutkan hidupku terlalu lama..)
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle: Lonely
Thursday, July 05, 2007
Ikan, Hewan yang Menarik

Minggu kemarin, ada beberapa peristiwa yang akhirnya menarikku dan seniorku (Mang Rudi)untuk meliput ke sebuah tempat menarik di Sumedang. Sebenarnya, tempat ini cuma kolam pemancingan biasa. Tapi untuk orang-orang yang pertama kali datang kesana, goshhhh! Kalau dilukiskan sebagai manusia, tempat ini charming be'eng.
Namanya, Clomgado Indah. Bunyi bahasanya tidak terdengar lazim. Konon katanya, itu memang nama daerah tempat kolam pemancingan ini. Udaranya, nyaris mirip dengan Lembang. Untuk yang kuliah di Jatinangor tapi belum pernah dateng ke sini, huuuuu....rugi!
Letaknya diapit dua bukit kecil. Lokasinya ada di kecamatan Cimanggung, Tanjung sari. Nggak perlu bayar mahal untuk dateng kesini (kecuali untuk beli bensin atau bayar ojek) karena jarak dari jalan masuk ke Parakan Muncang cukup jauh. Sekitar 5 KM.
Di sana, kita cuma dikenakan biaya jika telah memperoleh hasil pancingan. Jika tidak, ya nggak usah bayar. Gratis. Ikan hasil pancingan ini bisa langsung dimasak di sini. Per kilo nya dikenakan lagi biaya olahan sebesar Rp 24.000,-. Tinggal pilih menunya mau digoreng atau dibakar?
Kalau tidak punya alat pancing, di sini bisa pinjam. Umpannya juga ada. Siap memancing, kan????!
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Thursday, June 07, 2007
Hidangan Kegemaran Asli Betawi
Dahulunya, kota ini disebut Batavia. Sekarang dikenal sebagai Jakarta. Penduduk aslinya yang keturunan Betawi, kini lebih banyak menghuni daerah pinggiran-pinggiran kota. Tapi segala hal yang khas, tetap melekat diingatan setiap orang.
Jakarta dan kesibukan orang-orang di dalamnya, Jakarta dan kepadatan di jalan raya, Jakarta dan debu-debu dari asap kendaraan, Jakarta dan segala kemajuan pembangunannya, tak urung membuat banyak orang berdatangan ke kota ini. Apa saja yang mereka cari? Selain keberuntungan dan segala macam peluang usaha, ada hal-hal lain yang membuat orang tak pernah menjauh dari Jakarta.
Salah satunya, hidangan-hidangan khas dari tanah Betawi ini. Tidak sedikit orang yang kerap mencari berbagai tempat di Jakarta untuk sekedar mencicipi dan menikmati seporsi nasi uduk, soto betawi, atau sop buntut. Karena banyaknya penggemar menu-menu asli betawi ini, maka tak heran jika menu-menu ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat makan luar daerah Jakarta.
Sop Buntut Legendaris
Dari kebanyakan pengunjung Bogor Café di Hotel Borobudur Jakarta, selalu memesan menu Sop Buntut Legendaris. Sedapnya rasa Sop Buntut Legendaris telah menyebar ke segala penjuru lewat kabar berita dari mulut ke mulut. Pada awalnya, resep menu ini dibuat dengan konsep sajian yang asli Betawi. “Waktu itu, tahun 1979 saya ikut mendorong gerobak sop buntut ini di dalam restoran Hotel Borobudur Jakarta.
Menu ini sudah ada sejak tahun 1978. Kami menjualnya benar-benar seperti penjual sop buntut Jakarta yang selalu pakai gerobak dorong itu,” ujar Sugito, executive sous chef Hotel Borobudur Jakarta sambil mengenang sejarah Sop Buntut Legendaris di tempatnya bekerja selama ini. Bahkan pada saat Hotel Borobudur Jakarta di renovasi tahun 1995 s/d 1997, restorannya tetap dibuka untuk memenuhi keinginan konsumen.
Sugito menjelaskan, “Sejak hotel ini di renovasi pada awal tahun 1995, dan tidak beroperasi selama kurang lebih 2 tahun. Sebetulnya pada masa renovasi itu, restorannya tetap melayani pembeli, terutama untuk melayani tamu-tamu garden wing. Itu tamu-tamu dari apartemen yang ada di sekitar sini. Karena ruangannya belum terlalu luas, kami hanya bisa melayani 20 s/d 30 orang. Penggemar sop buntut kami tetap ada. Dan ketika selesai masa renovasi, orang-orang selalu menanyakan keberadaan menu ini.”
Pada masa-masa renovasi hotel, ada beberapa tempat makan yang berusaha meniru resep sop buntut ini. Bahkan Sugito melihat bahwa di lokasi Jakarta Pusat juga ada yang menjual menu dengan nama Sop Buntut Borobudur. Akhirnya pihak Hotel Borobudur Jakarta pun sepakat untuk menamakan menu ini menjadi Sop Buntut Legendaris. “Banyak yang menyukai menu ini. Bahkan ada yang sengaja datang ke Jakarta hanya untuk makan sop buntut di sini,” ungkap Sugito. Bayangkan saja, setiap harinya Bogor Café membutuhkan sekitar 200 kg buntut sapi segar untuk memenuhi keinginan penggemar menu ini.
Apa yang menjadikan menu ini begitu istimewa bagi para penggemarnya? Sugito berbagi rahasia resepnya kepada TC. Ia memaparkan bahwa trik-triknya ada pada awal proses perebusan buntut sapi. “Buntut sapi yang jadi bahan dasarnya, dikuliti dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan ke dalam air mendidih. Setelah kita memasaknya dengan air mendidih sebanyak tiga kali pengulangan, buntutnya sudah lunak dan agak matang. Gantikan airnya dengan mendidih yang baru. Dengan api kecil, buntut sapi direbus pelan, sambil memasukkan bumbu-bumbunya. Jahe, merica, garam, cengkeh, dan bubuk pala. Tambahkan daun bawang dan wortel. Tujuannya untuk menambah aroma,” jelasnya.
Menu Sop Buntut Legendaris disajikan hangat dengan taburan bawang goreng, daun bawang, daun seledri, dan beberapa iris tomat di dalamnya. Lebih nikmat ditemani dengan pelengkapnya. Setangkup nasi, sedikit sambal, acar ketimun, dan bubuhi juga perasan air jeruk nipis ke dalam Sop Buntut Legendaris, sesuai selera.
Soto Betawi dan Pletok Betawi
H. Rano Karno, pemiliknya yang seniman berdarah betawi ini adalah juga pemeran film Si Doel Anak Betawi pada era tahun 1979-an. Si Doel Anak Betawi, memang jadi acuan simbol bagi konsep di Waroeng Si Doel. Waroeng Si Doel yang berlokasi di kawasan Kafe Tenda Semanggi, Jakarta Pusat memberikan suasana yang serba Betawi. Mulai dari warna pada ruang-ruang makannya yang tiga lantai ini, didominasi oleh warna kuning terang dan hijau daun. Ubin ruangan pun dipilihkan dari jenis ubin yang klasik.
“Setiap pengunjung yang sudah lanjut usia menginjakkan kakinya di ubin Waroeng Si Doel, pasti langsung menyatakan bahwa mereka seperti sedang berada di dalam rumahnya pada zaman dulu,” ucap Arman, supervisor Waroeng Si Doel. Desain menu yang ada di sini sebenarnya berusaha memenuhi selera semua pengunjung. Ada menu asli Betawi, ada menu American style, Japanese style, dan Chinese style.
Dari semua deret menu, ada menu utama yang dipertahankan untuk tetap ada dan disajikan pada para tamu. Selain Sop Buntut dan Nasi Uduk, ada Soto Betawi dan Pletok Betawi yang menjadi menu utama di sana. “Karena ini konsepnya Betawi, jadi menu-menu utamanya juga dipilihkan dari menu asli Betawi,” ucap Sarno, chef di Waroeng Si Doel. Soto Betawi, menu yang banyak dijual di berbagai tempat makan di Jakarta dan di luar Jakarta.
Tapi Soto Betawi yang ada di Waroeng si Doel, punya aroma yang khas. “Secara prinsip, semuanya memang hampir sama. Cuma beberapa cara pembuatannya saja yang agak berbeda. Tentang darimana aroma khasnya, menurut saya, itu karena ketika semua bumbu yang dihaluskan di sauted hingga matang dan mengeluarkan aroma yang wangi,” ungkapnya.
Menurut penuturannya, resep Soto Betawi di sana menjadi unggul karena tambahan bumbu jinten dan beberapa helai daun jeruk didalamnya. Daging, paru-paru, dan babat sapi, sebelumnya telah cukup matang direbus di tempat terpisah. Kemudian setelah ditiriskan dari air rebusan pertama, potongan daging, babat dan paru-paru sapi ini dimasukkan ke dalam air santan kelapa yang telah dibubuhi bumbu. Jika telah mendidih dan matang, menu ini disajikan dengan beberapa pelengkap. “Konsumennya bisa punya pilihan, ingin dihidangkan dengan nasi atau dengan lontong,” ujar Sarno. Soto Betawi Waroeng si Doel juga disediakan sesuai keinginan para tamu. “Pilih saja isi sotonya. Jika tak suka dagingnya, bisa pesan isi soto pakai babat dan paru saja. Atau sebaliknya jika tidak ingin paru dan babat, kami juga bisa sediakan menu ini dengan isi daging sapinya saja,” tegas Arman.
Tak banyak berbeda dengan Sop Buntut Legendaris, menu Soto Betawi ini juga dihidangkan hangat di atas meja makan para tamunya, lengkap dengan taburan bawang goreng, daun seledri, daun bawang, dan emping. Di plat kecil terpisah, disediakan pula sambal soto dan acar ketimun.
Dari menu utama, kita beralih ke menu minuman khas Betawi dari Waroeng Si Doel. Namanya, Pletok Betawi. Sebutan ‘pletok’ diambil dari bunyi yang timbul ketika minuman ini diracik. Resepnya pun diperoleh dari hasil riset tim Waroeng Si Doel. Mereka harus menyisir ke daerah-daerah yang berpenghuni orang-orang Betawi asli, untuk menemukan resep asli minuman khas Jakarta. Risetnya dimulai pada akhir tahun 1995.
“Tidak terlalu lama, cuma butuh waktu tiga bulan saja, akhirnya kami temukan resep asli minuman Pletok Betawi ini di daerah Kampung Melayu,” tutur Dedy Karniadi, peracik minuman di Waroeng Si Doel. Konon, minuman ini adalah minuman kegemaran orang-orang Betawi. Namun sekarang sudah sangat jarang yang menjualnya. Untuk di Jakarta saja, kemungkinan besar hanya di Waroeng Si Doel yang menyediakannya. Karena nara sumber mereka untuk resep asli Pletok Betawi, telah lama meninggal dunia.
“Dulunya, beliau juga menjual minuman ini di Kampung Melayu. Disebutnya penjual ‘Aer Aus’. Salah satunya ada Pletok Betawi. Pertama kali saya minum di sana, Pletok Betawi diminum dingin dengan es batu. Waktu diracik, dikocok bersama es batu itu hingga berbunyi ‘pletok..pletok’. Namanya juga Pletok Betawi,”ungkapnya. Para tamu yang datang, banyak memuji minuman ini. Selain tak ada tempat lain yang menjualnya, rasanya pun belum punya bandingan.
Minuman dengan cita rasa rempah-rempah ini sudah punya tempat di hati penggemarnya. Pletok Betawi, berwarna merah dalam cangkir. Di permukaan airnya diberi taburan kacang tanah panggang. Aromanya harum rempah-rempah, rasanya manis dan hangat. Dedy memaparkan, “Campuran rempah-rempah yang ada didalamnya itu, ada kayu secang, jahe, serai, biji kapu laga, pala, cengkeh, kayu manis, dan cabe jawa.
Menurut mereka, kayu secang ini juga baik untuk mengatasi asam urat dan masuk angin pada tubuh kita.” Minuman asli Betawi ini disajikan dalam dua variasi. Dingin dan hangat. Setiap pemesan bisa meminumnya kapan pun. Nikmatnya tak dibatasi oleh cuaca. Jakarta, kota yang telah ratusan tahun berdenyut dan menghidupi jutaan orang di dalamnya. Ada banyak cara untuk menikmati kota yang berusia 479 tahun ini. Beberapa sajian makanan dan minuman asli Betawi ini, hanya sekelumit tanda yang siap membawa semua orang untuk berkenalan dan menjadi akrab dengan Jakarta.
Tulisan ini telah dimuat (tahun 2006) di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta.
Writer: Ayu N. Andini
Jakarta dan kesibukan orang-orang di dalamnya, Jakarta dan kepadatan di jalan raya, Jakarta dan debu-debu dari asap kendaraan, Jakarta dan segala kemajuan pembangunannya, tak urung membuat banyak orang berdatangan ke kota ini. Apa saja yang mereka cari? Selain keberuntungan dan segala macam peluang usaha, ada hal-hal lain yang membuat orang tak pernah menjauh dari Jakarta.
Salah satunya, hidangan-hidangan khas dari tanah Betawi ini. Tidak sedikit orang yang kerap mencari berbagai tempat di Jakarta untuk sekedar mencicipi dan menikmati seporsi nasi uduk, soto betawi, atau sop buntut. Karena banyaknya penggemar menu-menu asli betawi ini, maka tak heran jika menu-menu ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat makan luar daerah Jakarta.
Sop Buntut Legendaris
Dari kebanyakan pengunjung Bogor Café di Hotel Borobudur Jakarta, selalu memesan menu Sop Buntut Legendaris. Sedapnya rasa Sop Buntut Legendaris telah menyebar ke segala penjuru lewat kabar berita dari mulut ke mulut. Pada awalnya, resep menu ini dibuat dengan konsep sajian yang asli Betawi. “Waktu itu, tahun 1979 saya ikut mendorong gerobak sop buntut ini di dalam restoran Hotel Borobudur Jakarta.
Menu ini sudah ada sejak tahun 1978. Kami menjualnya benar-benar seperti penjual sop buntut Jakarta yang selalu pakai gerobak dorong itu,” ujar Sugito, executive sous chef Hotel Borobudur Jakarta sambil mengenang sejarah Sop Buntut Legendaris di tempatnya bekerja selama ini. Bahkan pada saat Hotel Borobudur Jakarta di renovasi tahun 1995 s/d 1997, restorannya tetap dibuka untuk memenuhi keinginan konsumen.
Sugito menjelaskan, “Sejak hotel ini di renovasi pada awal tahun 1995, dan tidak beroperasi selama kurang lebih 2 tahun. Sebetulnya pada masa renovasi itu, restorannya tetap melayani pembeli, terutama untuk melayani tamu-tamu garden wing. Itu tamu-tamu dari apartemen yang ada di sekitar sini. Karena ruangannya belum terlalu luas, kami hanya bisa melayani 20 s/d 30 orang. Penggemar sop buntut kami tetap ada. Dan ketika selesai masa renovasi, orang-orang selalu menanyakan keberadaan menu ini.”
Pada masa-masa renovasi hotel, ada beberapa tempat makan yang berusaha meniru resep sop buntut ini. Bahkan Sugito melihat bahwa di lokasi Jakarta Pusat juga ada yang menjual menu dengan nama Sop Buntut Borobudur. Akhirnya pihak Hotel Borobudur Jakarta pun sepakat untuk menamakan menu ini menjadi Sop Buntut Legendaris. “Banyak yang menyukai menu ini. Bahkan ada yang sengaja datang ke Jakarta hanya untuk makan sop buntut di sini,” ungkap Sugito. Bayangkan saja, setiap harinya Bogor Café membutuhkan sekitar 200 kg buntut sapi segar untuk memenuhi keinginan penggemar menu ini.
Apa yang menjadikan menu ini begitu istimewa bagi para penggemarnya? Sugito berbagi rahasia resepnya kepada TC. Ia memaparkan bahwa trik-triknya ada pada awal proses perebusan buntut sapi. “Buntut sapi yang jadi bahan dasarnya, dikuliti dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan ke dalam air mendidih. Setelah kita memasaknya dengan air mendidih sebanyak tiga kali pengulangan, buntutnya sudah lunak dan agak matang. Gantikan airnya dengan mendidih yang baru. Dengan api kecil, buntut sapi direbus pelan, sambil memasukkan bumbu-bumbunya. Jahe, merica, garam, cengkeh, dan bubuk pala. Tambahkan daun bawang dan wortel. Tujuannya untuk menambah aroma,” jelasnya.
Menu Sop Buntut Legendaris disajikan hangat dengan taburan bawang goreng, daun bawang, daun seledri, dan beberapa iris tomat di dalamnya. Lebih nikmat ditemani dengan pelengkapnya. Setangkup nasi, sedikit sambal, acar ketimun, dan bubuhi juga perasan air jeruk nipis ke dalam Sop Buntut Legendaris, sesuai selera.
Soto Betawi dan Pletok Betawi
H. Rano Karno, pemiliknya yang seniman berdarah betawi ini adalah juga pemeran film Si Doel Anak Betawi pada era tahun 1979-an. Si Doel Anak Betawi, memang jadi acuan simbol bagi konsep di Waroeng Si Doel. Waroeng Si Doel yang berlokasi di kawasan Kafe Tenda Semanggi, Jakarta Pusat memberikan suasana yang serba Betawi. Mulai dari warna pada ruang-ruang makannya yang tiga lantai ini, didominasi oleh warna kuning terang dan hijau daun. Ubin ruangan pun dipilihkan dari jenis ubin yang klasik.
“Setiap pengunjung yang sudah lanjut usia menginjakkan kakinya di ubin Waroeng Si Doel, pasti langsung menyatakan bahwa mereka seperti sedang berada di dalam rumahnya pada zaman dulu,” ucap Arman, supervisor Waroeng Si Doel. Desain menu yang ada di sini sebenarnya berusaha memenuhi selera semua pengunjung. Ada menu asli Betawi, ada menu American style, Japanese style, dan Chinese style.
Dari semua deret menu, ada menu utama yang dipertahankan untuk tetap ada dan disajikan pada para tamu. Selain Sop Buntut dan Nasi Uduk, ada Soto Betawi dan Pletok Betawi yang menjadi menu utama di sana. “Karena ini konsepnya Betawi, jadi menu-menu utamanya juga dipilihkan dari menu asli Betawi,” ucap Sarno, chef di Waroeng Si Doel. Soto Betawi, menu yang banyak dijual di berbagai tempat makan di Jakarta dan di luar Jakarta.
Tapi Soto Betawi yang ada di Waroeng si Doel, punya aroma yang khas. “Secara prinsip, semuanya memang hampir sama. Cuma beberapa cara pembuatannya saja yang agak berbeda. Tentang darimana aroma khasnya, menurut saya, itu karena ketika semua bumbu yang dihaluskan di sauted hingga matang dan mengeluarkan aroma yang wangi,” ungkapnya.
Menurut penuturannya, resep Soto Betawi di sana menjadi unggul karena tambahan bumbu jinten dan beberapa helai daun jeruk didalamnya. Daging, paru-paru, dan babat sapi, sebelumnya telah cukup matang direbus di tempat terpisah. Kemudian setelah ditiriskan dari air rebusan pertama, potongan daging, babat dan paru-paru sapi ini dimasukkan ke dalam air santan kelapa yang telah dibubuhi bumbu. Jika telah mendidih dan matang, menu ini disajikan dengan beberapa pelengkap. “Konsumennya bisa punya pilihan, ingin dihidangkan dengan nasi atau dengan lontong,” ujar Sarno. Soto Betawi Waroeng si Doel juga disediakan sesuai keinginan para tamu. “Pilih saja isi sotonya. Jika tak suka dagingnya, bisa pesan isi soto pakai babat dan paru saja. Atau sebaliknya jika tidak ingin paru dan babat, kami juga bisa sediakan menu ini dengan isi daging sapinya saja,” tegas Arman.
Tak banyak berbeda dengan Sop Buntut Legendaris, menu Soto Betawi ini juga dihidangkan hangat di atas meja makan para tamunya, lengkap dengan taburan bawang goreng, daun seledri, daun bawang, dan emping. Di plat kecil terpisah, disediakan pula sambal soto dan acar ketimun.
Dari menu utama, kita beralih ke menu minuman khas Betawi dari Waroeng Si Doel. Namanya, Pletok Betawi. Sebutan ‘pletok’ diambil dari bunyi yang timbul ketika minuman ini diracik. Resepnya pun diperoleh dari hasil riset tim Waroeng Si Doel. Mereka harus menyisir ke daerah-daerah yang berpenghuni orang-orang Betawi asli, untuk menemukan resep asli minuman khas Jakarta. Risetnya dimulai pada akhir tahun 1995.
“Tidak terlalu lama, cuma butuh waktu tiga bulan saja, akhirnya kami temukan resep asli minuman Pletok Betawi ini di daerah Kampung Melayu,” tutur Dedy Karniadi, peracik minuman di Waroeng Si Doel. Konon, minuman ini adalah minuman kegemaran orang-orang Betawi. Namun sekarang sudah sangat jarang yang menjualnya. Untuk di Jakarta saja, kemungkinan besar hanya di Waroeng Si Doel yang menyediakannya. Karena nara sumber mereka untuk resep asli Pletok Betawi, telah lama meninggal dunia.
“Dulunya, beliau juga menjual minuman ini di Kampung Melayu. Disebutnya penjual ‘Aer Aus’. Salah satunya ada Pletok Betawi. Pertama kali saya minum di sana, Pletok Betawi diminum dingin dengan es batu. Waktu diracik, dikocok bersama es batu itu hingga berbunyi ‘pletok..pletok’. Namanya juga Pletok Betawi,”ungkapnya. Para tamu yang datang, banyak memuji minuman ini. Selain tak ada tempat lain yang menjualnya, rasanya pun belum punya bandingan.
Minuman dengan cita rasa rempah-rempah ini sudah punya tempat di hati penggemarnya. Pletok Betawi, berwarna merah dalam cangkir. Di permukaan airnya diberi taburan kacang tanah panggang. Aromanya harum rempah-rempah, rasanya manis dan hangat. Dedy memaparkan, “Campuran rempah-rempah yang ada didalamnya itu, ada kayu secang, jahe, serai, biji kapu laga, pala, cengkeh, kayu manis, dan cabe jawa.
Menurut mereka, kayu secang ini juga baik untuk mengatasi asam urat dan masuk angin pada tubuh kita.” Minuman asli Betawi ini disajikan dalam dua variasi. Dingin dan hangat. Setiap pemesan bisa meminumnya kapan pun. Nikmatnya tak dibatasi oleh cuaca. Jakarta, kota yang telah ratusan tahun berdenyut dan menghidupi jutaan orang di dalamnya. Ada banyak cara untuk menikmati kota yang berusia 479 tahun ini. Beberapa sajian makanan dan minuman asli Betawi ini, hanya sekelumit tanda yang siap membawa semua orang untuk berkenalan dan menjadi akrab dengan Jakarta.
Tulisan ini telah dimuat (tahun 2006) di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta.
Writer: Ayu N. Andini
Monday, April 30, 2007
Petualangan Seru 10 Menit !
Siapa yang tidak kenal Ancol? Tempat rekreasi yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia ini, selalu jadi pilihan untuk mengisi waktu libur sekolah dan keluarga. Walau berlokasi di ujung utara Jakarta, Ancol tak sulit untuk dijangkau pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Dufan, Sea World, Ice World, Pantai Karnaval, dan Gelanggang Samudera, merupakan tempat-tempat favorit yang banyak dikunjungi di Ancol. Lokasi Gelanggang Samudera berada tak jauh dari areal Sea World. Di dalamnya, ada beberapa wahana yang bisa jadi pilihan menarik untuk dinikmati. Wahana Atraksi Lumba-Lumba dan Singa Laut, Pentas Aneka Satwa, Aquarium Laut, dan yang terbaru adalah Sinema 4 Dimensi. Wahana baru ini terletak di kawasan yang disebut sebagai ?The Pyramids 4D Theatre ? sesuai dengan yang tertera pada bongkahan batu besar di depan bangunan berbentuk piramida berwarna abu-abu gelap.
Wahana Baru di Gelanggang Samudera Ancol
Wahana Sinema 4 Dimensi ini, dibuka untuk pengunjung sejak awal April lalu. Tampak dari depan, ada beberapa bagian yang masih diperbaiki. Terutama di sisi kiri dan kanan depan, serta di tengah taman pada bagian luar lokasi bagunan utamanya, masih terlihat beberapa pohon palem yang menguning kering. Tumbuhan ini tampaknya masih beradaptasi dengan tanah di areal taman di lokasi yang sama. Tapi semuanya tak jadi penghalang. Wahana baru ini tetap dapat beroperasi tanpa terganggu. Karena rasa penasaran para pengunjungnya pun tak dapat diredam walaupun lokasi taman di depan bangunan masih terlihat kering dan menguning.
Bentuk bangunan utama The Pyramids 4D Theatre ini dibuat mirip dengan istana Kerajaan suku Aztec yang pernah hidup di benua Amerika pada abad ke- 500SM. Menempati luas area 2200 m², dengan piramid setinggi lebih dari 20 meter, bangunan istana ini tampak unik dan menonjol.
Tentang tema kawasannya, Gelanggang Samudera Ancol menggunakan konsep yang dinamakan The Lost World. Thomas Riandy Jo, Manager Gelanggang Samudera Ancol menjelaskan, “Di Gelanggang Samudera Ancol ini ada juga kawasan 1001 malam. Itu tempat atraksi lumba-lumba. Bangunannya mengambil model dari Timur Tengah dan banyak kubah-kubahnya. Untuk selanjutnya, kami akan mengangkat tema-tema kawasan dari kerajaan-kerajaan kuno yang telah lama hilang, tapi masih tetap melegenda. Seperti contohnya, kami ambil model bangunan istana suku Aztec untuk kawasan Sinema 4 Dimensi ini.”
Dengan lima jadwal pertunjukan setiap harinya, antrean penonton cukup panjang. Terutama pada hari libur dan weekend, wahana ini padat pengunjung. Ada salah satu pengunjung yang ditemui Travel Club di antrian pintu masuk ruang Sinema 4 Dimensi. Ibu Patria dengan tiga anaknya yang berusia 3, 10, dan 13 tahun, memilih datang untuk menonton di wahana baru ini. “Penasaran, ingin lihat seperti apa sih, Sinema 4 Dimensi ini. Sekaligus ajak anak-anak saya liburan juga,” ucapnya.
Dari pintu masuk pertama, pengunjung akan melintasi jalan berliku yang turun naik. Interiornya dibuat berkesan lampau. Lampu-lampu temaram dan jaring laba-laba besar, menyambut di sudut dinding. Dinding-dindingnya terlukis aneka gambar dengan warna-warni menarik. Sampai pada sebuah ruangan luas, terdapat tiga pintu gerbang utama untuk masuk ke ruang 4D Theatre. Para penonton juga diberikan kacamata khusus untuk 4 Dimensi.
Masuk ke ruangan Theatre 4 Dimensi, semua bebas menentukan tempat duduknya. Ada 304 seat untuk menampung pengunjung yang datang menonton. Diantaranya juga tersedia tempat khusus yang disiapkan untuk para penyandang tuna daksa. Bagi para penonton yang menggunakan kursi roda, tak ada hambatan untuk bisa nonton di wahana baru ini.
Terbesar di Asia Tenggara?
Ruangan gelap temaram dan dingin ber-AC ini, memiliki layar sinema sebesar 24 m x 14 m. “Ini adalah theatre sinema terbesar se-Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sudah jelas belum ada yang menyaingi,” ungkap Thomas Riandy tentang keunggulan Sinema 4 Dimensi di Gelanggang Samudera Ancol.
Tua muda, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dapat duduk nyaman dan menikmati kejutan-kejutan petualangan di wahana ini. Kualitas gambar film animasi dari Belgia ini pun didukung dengan fasilitas layar sinema dan alat pengontrolnya yang diimpor dari Austria, sound system dari Jerman, dan proyektor yang didatangkan dari Amerika.
Kerja Sama dengan Organisasi Pecinta Lingkungan Hidup
Film animasi yang diputar di Theater 4 Dimensi ini, banyak bercerita tentang kehidupan riil dari satwa-satwa liar di habitatnya. Ada sebuah realitas yang hendak diangkat ke permukaan.
Mengenai muatan edukasi dalam petualangan kali ini, Thomas Riandy berpendapat, “Kalau kita lihat di dalam film, pertama-tama akan tampak kedamaian kehidupan hewan-hewan itu dengan komunitas dan habitatnya. Mereka hidup begitu harmonis. Namun dengan adanya campur tangan manusia, kehidupan mereka jadi terganggu. Ini diperlihatkan kepada penonton agar lingkungan alam sekitar tetap terjaga keindahan dan keharmonisannya.”
Pada bagian penutup, tampak seekor Panda besar mengangkat belahan kayu dari pohon yang tumbang karena ditebang. Keterkaitannya secara simbolik menyatakan keterlibatan sebuah organisasi pecinta lingkungan hidup dalam konsep isi film animasi ini. Dikonfirmasi tentang dugaan kerja sama pengelola Gelanggang Samudera Ancol dengan WWF (World Wild Fund), Thomas menyatakan, “Kalau untuk masalah pelestarian lingkungan hidup, kan Panda juga jadi simbol. Kami memang kerja sama dengan pihak WWF. Kalau tidak salah, judulnya adalah Panda Vision.”
Petualangan Seru di Sinema 4 Dimensi
Dalam film ini ada tiga bagian besar cerita dengan tiga latar tempat yang berbeda. Mengantarkan penonton pada tiga rasa petualangan yang juga berbeda. Di Kutub Utara, di dalam samudera, dan di tengah hutan lebat. Ada banyak kejutan yang ditemui di sana. Selain getaran gerakan pada kursi, ada pula hembusan angin dan cipratan air yang akan mampir di permukaan wajah penonton, kala pertunjukan film berlangsung.
Dalam beberapa bagian cerita, penonton tampak berusaha meraih untuk menyentuh ikan-ikan dan kuda laut mungil yang melintas dekat wajah dan di atas kepala. Belum lagi, sensasi rasa ketika beruang kutub itu bangkis di hadapan wajah penonton. Selain itu, petualangan tokohnya juga membawa penonton meluncur jatuh dari gua es di Kutub Utara ke dalam samudera biru, lalu melayang berdebum menyentuh tanah ketika pohon tumbang ditebang. Tak sedikit pula yang terkejut ketika merasa dilempari buah oleh para kera lucu yang loncat kesana kemari.
Pertunjukan film jadi terasa sangat singkat. Terdengar dari ucapan salah satu penontonnya, “Wah, seru. Tapi kok cuma sebentar ya?”
Film animasi 4 dimensi berdurasi 10 menit ini bisa jadi salah satu pilihan untuk rekreasi keluarga. Menarik, menantang, dan berkesan.
(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)
Writer: Ayu N. Andini
Dufan, Sea World, Ice World, Pantai Karnaval, dan Gelanggang Samudera, merupakan tempat-tempat favorit yang banyak dikunjungi di Ancol. Lokasi Gelanggang Samudera berada tak jauh dari areal Sea World. Di dalamnya, ada beberapa wahana yang bisa jadi pilihan menarik untuk dinikmati. Wahana Atraksi Lumba-Lumba dan Singa Laut, Pentas Aneka Satwa, Aquarium Laut, dan yang terbaru adalah Sinema 4 Dimensi. Wahana baru ini terletak di kawasan yang disebut sebagai ?The Pyramids 4D Theatre ? sesuai dengan yang tertera pada bongkahan batu besar di depan bangunan berbentuk piramida berwarna abu-abu gelap.
Wahana Baru di Gelanggang Samudera Ancol
Wahana Sinema 4 Dimensi ini, dibuka untuk pengunjung sejak awal April lalu. Tampak dari depan, ada beberapa bagian yang masih diperbaiki. Terutama di sisi kiri dan kanan depan, serta di tengah taman pada bagian luar lokasi bagunan utamanya, masih terlihat beberapa pohon palem yang menguning kering. Tumbuhan ini tampaknya masih beradaptasi dengan tanah di areal taman di lokasi yang sama. Tapi semuanya tak jadi penghalang. Wahana baru ini tetap dapat beroperasi tanpa terganggu. Karena rasa penasaran para pengunjungnya pun tak dapat diredam walaupun lokasi taman di depan bangunan masih terlihat kering dan menguning.
Bentuk bangunan utama The Pyramids 4D Theatre ini dibuat mirip dengan istana Kerajaan suku Aztec yang pernah hidup di benua Amerika pada abad ke- 500SM. Menempati luas area 2200 m², dengan piramid setinggi lebih dari 20 meter, bangunan istana ini tampak unik dan menonjol.
Tentang tema kawasannya, Gelanggang Samudera Ancol menggunakan konsep yang dinamakan The Lost World. Thomas Riandy Jo, Manager Gelanggang Samudera Ancol menjelaskan, “Di Gelanggang Samudera Ancol ini ada juga kawasan 1001 malam. Itu tempat atraksi lumba-lumba. Bangunannya mengambil model dari Timur Tengah dan banyak kubah-kubahnya. Untuk selanjutnya, kami akan mengangkat tema-tema kawasan dari kerajaan-kerajaan kuno yang telah lama hilang, tapi masih tetap melegenda. Seperti contohnya, kami ambil model bangunan istana suku Aztec untuk kawasan Sinema 4 Dimensi ini.”
Dengan lima jadwal pertunjukan setiap harinya, antrean penonton cukup panjang. Terutama pada hari libur dan weekend, wahana ini padat pengunjung. Ada salah satu pengunjung yang ditemui Travel Club di antrian pintu masuk ruang Sinema 4 Dimensi. Ibu Patria dengan tiga anaknya yang berusia 3, 10, dan 13 tahun, memilih datang untuk menonton di wahana baru ini. “Penasaran, ingin lihat seperti apa sih, Sinema 4 Dimensi ini. Sekaligus ajak anak-anak saya liburan juga,” ucapnya.
Dari pintu masuk pertama, pengunjung akan melintasi jalan berliku yang turun naik. Interiornya dibuat berkesan lampau. Lampu-lampu temaram dan jaring laba-laba besar, menyambut di sudut dinding. Dinding-dindingnya terlukis aneka gambar dengan warna-warni menarik. Sampai pada sebuah ruangan luas, terdapat tiga pintu gerbang utama untuk masuk ke ruang 4D Theatre. Para penonton juga diberikan kacamata khusus untuk 4 Dimensi.
Masuk ke ruangan Theatre 4 Dimensi, semua bebas menentukan tempat duduknya. Ada 304 seat untuk menampung pengunjung yang datang menonton. Diantaranya juga tersedia tempat khusus yang disiapkan untuk para penyandang tuna daksa. Bagi para penonton yang menggunakan kursi roda, tak ada hambatan untuk bisa nonton di wahana baru ini.
Terbesar di Asia Tenggara?
Ruangan gelap temaram dan dingin ber-AC ini, memiliki layar sinema sebesar 24 m x 14 m. “Ini adalah theatre sinema terbesar se-Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, sudah jelas belum ada yang menyaingi,” ungkap Thomas Riandy tentang keunggulan Sinema 4 Dimensi di Gelanggang Samudera Ancol.
Tua muda, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dapat duduk nyaman dan menikmati kejutan-kejutan petualangan di wahana ini. Kualitas gambar film animasi dari Belgia ini pun didukung dengan fasilitas layar sinema dan alat pengontrolnya yang diimpor dari Austria, sound system dari Jerman, dan proyektor yang didatangkan dari Amerika.
Kerja Sama dengan Organisasi Pecinta Lingkungan Hidup
Film animasi yang diputar di Theater 4 Dimensi ini, banyak bercerita tentang kehidupan riil dari satwa-satwa liar di habitatnya. Ada sebuah realitas yang hendak diangkat ke permukaan.
Mengenai muatan edukasi dalam petualangan kali ini, Thomas Riandy berpendapat, “Kalau kita lihat di dalam film, pertama-tama akan tampak kedamaian kehidupan hewan-hewan itu dengan komunitas dan habitatnya. Mereka hidup begitu harmonis. Namun dengan adanya campur tangan manusia, kehidupan mereka jadi terganggu. Ini diperlihatkan kepada penonton agar lingkungan alam sekitar tetap terjaga keindahan dan keharmonisannya.”
Pada bagian penutup, tampak seekor Panda besar mengangkat belahan kayu dari pohon yang tumbang karena ditebang. Keterkaitannya secara simbolik menyatakan keterlibatan sebuah organisasi pecinta lingkungan hidup dalam konsep isi film animasi ini. Dikonfirmasi tentang dugaan kerja sama pengelola Gelanggang Samudera Ancol dengan WWF (World Wild Fund), Thomas menyatakan, “Kalau untuk masalah pelestarian lingkungan hidup, kan Panda juga jadi simbol. Kami memang kerja sama dengan pihak WWF. Kalau tidak salah, judulnya adalah Panda Vision.”
Petualangan Seru di Sinema 4 Dimensi
Dalam film ini ada tiga bagian besar cerita dengan tiga latar tempat yang berbeda. Mengantarkan penonton pada tiga rasa petualangan yang juga berbeda. Di Kutub Utara, di dalam samudera, dan di tengah hutan lebat. Ada banyak kejutan yang ditemui di sana. Selain getaran gerakan pada kursi, ada pula hembusan angin dan cipratan air yang akan mampir di permukaan wajah penonton, kala pertunjukan film berlangsung.
Dalam beberapa bagian cerita, penonton tampak berusaha meraih untuk menyentuh ikan-ikan dan kuda laut mungil yang melintas dekat wajah dan di atas kepala. Belum lagi, sensasi rasa ketika beruang kutub itu bangkis di hadapan wajah penonton. Selain itu, petualangan tokohnya juga membawa penonton meluncur jatuh dari gua es di Kutub Utara ke dalam samudera biru, lalu melayang berdebum menyentuh tanah ketika pohon tumbang ditebang. Tak sedikit pula yang terkejut ketika merasa dilempari buah oleh para kera lucu yang loncat kesana kemari.
Pertunjukan film jadi terasa sangat singkat. Terdengar dari ucapan salah satu penontonnya, “Wah, seru. Tapi kok cuma sebentar ya?”
Film animasi 4 dimensi berdurasi 10 menit ini bisa jadi salah satu pilihan untuk rekreasi keluarga. Menarik, menantang, dan berkesan.
(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)
Writer: Ayu N. Andini
Festival Makanan Kuba, Jamuan dari Negeri Fidel Castro
Gran Melia Jakarta bekerja sama dengan pihak Kedutaan Besar Kuba di Indonesia, mengemas acara festival makanan khas Kuba kali ini dengan cocktail reseption, salsa dance, pameran lukisan di koridor ruang lobby, dan tentu saja dengan dinner time yang ditunggu-tunggu di akhir acara.
Kuba, tempat yang terkenal dengan banyak simbol. Cerutu, Fidel Castro, gula, dan musik salsa. Dari semua itu, menu-menu makanan dan minuman pun disikapi sebagai hasil alam dan budaya Kuba. Benar-benar Kuba. Cuba Si !
Sambutan dari Cocktail Reception
Menu menarik yang disajikan Kuba malam itu, diawali di meja pertama pada ujung ruangan lobby hotel. Cuban Food Festival menyambut para tamu yang hadir dengan beberapa pilihan cocktail. Mohito, red wine Cuba, dan Si minuman tiga warna : Si Por Cuba.
Mohito dingin dengan wangi daun mint segar, aroma rum Havana, lemon juice, dan rasa manis gula Kuba. Si Por Cuba, minuman yang tampil sewarna dengan bendera negara Kuba. Lapis paling bawah dari evaporated cream dan cocoa white, lapisan kedua dari granadine syrup merah, dan lapisan teratas dari blue curacao. Mencicipi minuman penghangat tubuh khas Kuba ini, seperti menuju gerbang negaranya yang bergolak. Jamuan hangat ini menjadi rangkaian yang sekarakter dengan hentakan musik dan tarian salsa yang mengantar acara pembukaan Cuban Food Festival akhir tahun 2005 lalu di Gran Melia Jakarta.
Iklim dan Adab Bersantap di Kuba
Iklim tropis yang hangat, menghidupi Kuba selama ribuan tahun dan membuat beberapa hasil alam di sana punya kemiripan dengan Indonesia. Selain sebagai salah satu negara penghasil gula terbaik di dunia, tanah Kuba pun cocok untuk kopi, tembakau, jambu biji, pisang tanduk, nanas, mangga, dan padi.
Kuba yang berada pada garis oposisi dari negara-negara kapitalis seperti Amerika dan Inggris, memutuskan untuk membuat sistem pertanian organik. Keberhasilan sistem ini mengakibatkan Kuba tidak perlu lagi memasok pupuk dari luar negeri dan mampu memenuhi sendiri
kebutuhan pupuk di negaranya. Konsumsi pangan di Kuba menjadi khas dan sehat. Hal ini turut melatarbelakangi budaya/tradisi makan yang ada di sana. Sebagai negara agraris, bangsa Kuba juga memilih nasi sebagai menu makanan utamanya. Mirip dengan Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.
Moros y Cristianos, nama menu nasi dari Kuba. Bedanya, nasi dari beras Basmati ini berwarna lebih gelap. Warna kehitamannya ini datang dari air rendaman kacang hitam (Cuba black bean) yang digunakan untuk menanaknya. Rasanya memang lebih gurih.
Doblones Don Pedro adalah menu utama lainnya yang dihidang dengan beberapa potong jagung manis beraroma cream susu. Menu dari irisan persegi dari beef tenderloin beraroma minyak zaitun dan bawang putih ini disajikan dengan jus daging kental dengan wangi daun oregano.
Menu utama dari seafood khas Kuba dikenal dengan Pescado Gratinado Conqueso dari ikan kakap putih panggang yang dihidang dengan keju, dan condiment dari cacahan daging buah alpukat dengan aroma lemon. Tartaletas de Marsicos yang ada di pinggan terdepan dari jajaran hidangan pada central table malam itu, adalah hidangan appetizer dari irisan daging cumi matang dengan tambahan bumbu bawang putih, tomat, olive oil (minyak zaitun), daun coreander.
Hidangan-hidangan ringan dari dessert ala Kuba, datang dari parade buah-buah tropisnya. Salah satu olahan pisang tanduk di Kuba, diberi nama Platano Maduro. Ini dibuat dari pisang tanduk hijau yang digoreng dengan tambahan sedikit garam. Ada lagi, jambu biji yang dibuat setup manis dengan sejumput cinnamon (kayu manis) dan biasanya dimakan bersama dengan cream cheese. Makanan ini dikenal di Kuba dengan nama Casquito de Guayaba. Kombinasi rasanya, luar biasa. Manisnya yang tajam, seperti berhenti menusuk lidah ketika bertemu dengan rasa asin dari cream cheese. Terakhir, Duden Diplomatico. Salah satu parade buah tropis dengan menghidangkan pudding caramel yang dibuat dari campuran jus nanas dan mangga. Manis dan segar.
Uniknya, ada pada tata cara makan khas Kuba. Dalam satu pingan, selalu ada Moros y Cristianos dengan siraman kuah black bean soup, yang juga ditemani dengan beberapa potong Doblones Don Pedro dan jagung manisnya, juga Pescado Gratinado Conqueso, dan bahkan Platano Maduro. Main course dan dessert disantap dalam satu pinggan. Cita rasanya memang bisa membuat lidah kita tercengang jika tak terbiasa.
Cita rasanya, lahir dari etnis yang hidup di Kuba. Ada banyak etnis yang hidup di sana. Kebudayaan yang timbul pun menjadi multi kultural. Afrika, Spanyol, dan Asia, tinggal bersama.
Chef Yesney Lamas Ramos, Cuban guest chef , Gran Melia Jakarta menjelaskan main taste dari menu-menu Kuba ini dalam satu kalimat lugas, “We have many different colour of skin, we have many type of hair, and then it makes many taste of our food”.
(Tulisan ini telah dimuat di majalah Food and Life style yang berkantor di Jakarta)
Writer: Ayu N. Andini
Photo by www.pridesource.com
Ket. Foto: Cuba Dance
Kuba, tempat yang terkenal dengan banyak simbol. Cerutu, Fidel Castro, gula, dan musik salsa. Dari semua itu, menu-menu makanan dan minuman pun disikapi sebagai hasil alam dan budaya Kuba. Benar-benar Kuba. Cuba Si !
Sambutan dari Cocktail Reception
Menu menarik yang disajikan Kuba malam itu, diawali di meja pertama pada ujung ruangan lobby hotel. Cuban Food Festival menyambut para tamu yang hadir dengan beberapa pilihan cocktail. Mohito, red wine Cuba, dan Si minuman tiga warna : Si Por Cuba.
Mohito dingin dengan wangi daun mint segar, aroma rum Havana, lemon juice, dan rasa manis gula Kuba. Si Por Cuba, minuman yang tampil sewarna dengan bendera negara Kuba. Lapis paling bawah dari evaporated cream dan cocoa white, lapisan kedua dari granadine syrup merah, dan lapisan teratas dari blue curacao. Mencicipi minuman penghangat tubuh khas Kuba ini, seperti menuju gerbang negaranya yang bergolak. Jamuan hangat ini menjadi rangkaian yang sekarakter dengan hentakan musik dan tarian salsa yang mengantar acara pembukaan Cuban Food Festival akhir tahun 2005 lalu di Gran Melia Jakarta.
Iklim dan Adab Bersantap di Kuba
Iklim tropis yang hangat, menghidupi Kuba selama ribuan tahun dan membuat beberapa hasil alam di sana punya kemiripan dengan Indonesia. Selain sebagai salah satu negara penghasil gula terbaik di dunia, tanah Kuba pun cocok untuk kopi, tembakau, jambu biji, pisang tanduk, nanas, mangga, dan padi.
Kuba yang berada pada garis oposisi dari negara-negara kapitalis seperti Amerika dan Inggris, memutuskan untuk membuat sistem pertanian organik. Keberhasilan sistem ini mengakibatkan Kuba tidak perlu lagi memasok pupuk dari luar negeri dan mampu memenuhi sendiri
kebutuhan pupuk di negaranya. Konsumsi pangan di Kuba menjadi khas dan sehat. Hal ini turut melatarbelakangi budaya/tradisi makan yang ada di sana. Sebagai negara agraris, bangsa Kuba juga memilih nasi sebagai menu makanan utamanya. Mirip dengan Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.
Moros y Cristianos, nama menu nasi dari Kuba. Bedanya, nasi dari beras Basmati ini berwarna lebih gelap. Warna kehitamannya ini datang dari air rendaman kacang hitam (Cuba black bean) yang digunakan untuk menanaknya. Rasanya memang lebih gurih.
Doblones Don Pedro adalah menu utama lainnya yang dihidang dengan beberapa potong jagung manis beraroma cream susu. Menu dari irisan persegi dari beef tenderloin beraroma minyak zaitun dan bawang putih ini disajikan dengan jus daging kental dengan wangi daun oregano.
Menu utama dari seafood khas Kuba dikenal dengan Pescado Gratinado Conqueso dari ikan kakap putih panggang yang dihidang dengan keju, dan condiment dari cacahan daging buah alpukat dengan aroma lemon. Tartaletas de Marsicos yang ada di pinggan terdepan dari jajaran hidangan pada central table malam itu, adalah hidangan appetizer dari irisan daging cumi matang dengan tambahan bumbu bawang putih, tomat, olive oil (minyak zaitun), daun coreander.
Hidangan-hidangan ringan dari dessert ala Kuba, datang dari parade buah-buah tropisnya. Salah satu olahan pisang tanduk di Kuba, diberi nama Platano Maduro. Ini dibuat dari pisang tanduk hijau yang digoreng dengan tambahan sedikit garam. Ada lagi, jambu biji yang dibuat setup manis dengan sejumput cinnamon (kayu manis) dan biasanya dimakan bersama dengan cream cheese. Makanan ini dikenal di Kuba dengan nama Casquito de Guayaba. Kombinasi rasanya, luar biasa. Manisnya yang tajam, seperti berhenti menusuk lidah ketika bertemu dengan rasa asin dari cream cheese. Terakhir, Duden Diplomatico. Salah satu parade buah tropis dengan menghidangkan pudding caramel yang dibuat dari campuran jus nanas dan mangga. Manis dan segar.
Uniknya, ada pada tata cara makan khas Kuba. Dalam satu pingan, selalu ada Moros y Cristianos dengan siraman kuah black bean soup, yang juga ditemani dengan beberapa potong Doblones Don Pedro dan jagung manisnya, juga Pescado Gratinado Conqueso, dan bahkan Platano Maduro. Main course dan dessert disantap dalam satu pinggan. Cita rasanya memang bisa membuat lidah kita tercengang jika tak terbiasa.
Cita rasanya, lahir dari etnis yang hidup di Kuba. Ada banyak etnis yang hidup di sana. Kebudayaan yang timbul pun menjadi multi kultural. Afrika, Spanyol, dan Asia, tinggal bersama.
Chef Yesney Lamas Ramos, Cuban guest chef , Gran Melia Jakarta menjelaskan main taste dari menu-menu Kuba ini dalam satu kalimat lugas, “We have many different colour of skin, we have many type of hair, and then it makes many taste of our food”.
(Tulisan ini telah dimuat di majalah Food and Life style yang berkantor di Jakarta)
Writer: Ayu N. Andini
Photo by www.pridesource.com
Ket. Foto: Cuba Dance
Monday, April 02, 2007
Tentang Seluruh Hidup Chrisye dan Separuh Hidupku..

Berita meninggalnya Chrisye memang lumayan bikin sedih seluruh Indonesia.Di lingkup kecil aja, di kantorku misalnya. Yang isinya cuman 15 orang bawel-bawel itu, wuaaahhhh... langsung termangu-mangu sejak kami masuk kantor, pagi-pagi buta. Tiap berita tentang Chrisye, kami melakukan "pause" utk semua kegiatan. Cuma buat nonton beritanya.
Sepertinya, semua penghuni kantorku, punya perasaan yang sama. Sedih, agak terpukul juga, begitu tahu bahwa Chrisye sudah meninggal dunia (Jumat, 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB dini hari). Lalu, untuk mengenangnya, kami makan siang di warung CEPOEK, di kawasan Kallibata. Ada tanda tangan Chrisye di dindingnya.
Sepanjang makan siang, kami juga ditemani dengan lantunan lagu-lagu Chrisye di sana. Haaaahhhh... sedih!
Tapi lapar emang tidak mengenal kompromi. Kami tetap aja semangat untuk makan. hihiiiiii...
Berita di milis media, penuh dengan ucapan duka.
Saya, bukan saudara dekat Chrisye...
Saya, bukan pula saudara jauhnya Chrisye...
Saya, juga tidak punya pertalian darah sama sekali dengan Chrisye...
Tapi saya bisa merasakan kedekatan itu sejak pertama kali saya kenal dengan lagu-lagunya. Saya mengenal Chrisye sejak saya duduk di kelas 1 SD.
Pertama kali, saya dengarkan lagu Chrisye, yang judulnya: SABDA ALAM. Seumur saya yang masih cabe rawit dan cuma kenal lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo, baru kali itu saya mendengarkan lagu dan semua bulu kuduk saya merinding...
Waktu itu, saya nggak ngerti, apa sebabnya. Sejak itu, saya selalu ingin dengarkan lagu ini, setiap sebelum tidur. Hah...! Padahal syairnya aja, saya nggak paham sama sekali...!!! ! Tapi saya nggak peduli. Ada rasa nyaman yang saya rasakan tiap dengar lagu itu.
Lalu, kami pindah ke Kalimantan Timur (ke sebuah kota kecil yang namanya: Tarakan). Saya kelas 3 SD waktu itu. Sesampainya di rumah baru, saya cari kaset Chrisye (yang entah milik siapa itu..) yang sering diputar itu. Tapi tidak kutemukan... !!! sebel!!!
Saya mulai memburu lagu-lagu Chrisye. Caranya? Merengek pada ayahku (almrhm), untuk dibelikan kaset Chrisye. Mulanya, ayahku mengernyitkan dahi. "Ah, kamu kan nggak ngerti lagu-lagunya Chrisye..," begitu katanya.
Tapi aku memang nggak mau ngerti. Tiap ayahku pulang kantor, yang kutanya cuma itu. Walaupun ia membelikanku setumpuk buku cerita Lima Sekawan dan Trio Detektif, aku tetap menanyakan, kaset Chrisye..!!! "Mana kasetnya?" berminggu-minggu aku merengek. Akhirnya, aku punya kaset barunya. Huaaaahhhh.. ..senengnya sampai ke langit..!
Waktu itu aku dibeli-in yang...(judul albumnya aku lupa). Tapi aku masih inget, di dalamnya ada lagu yang judulnya : Leny.
Sejak itu, aku tidak pernah suka lagi sama lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo yang suaranya cempreng-cempreng gepeng itu. iiiiiihhh... .!Kasetnya kusembunyikan.
Sejak itu juga, ayahku juga jadi pemburu kaset Chrisye. Tiap ada album barunya, dia belikan untukku. Selain itu, yang kutahu, ayahku memang senang mengoleksi kaset dari macam-macam musik.
Yang kuingat, dia sering beli kaset : Francis Goya...(yang kudengar cuma bunyi denting gitar doang. aku tidak terlalu suka.), ada juga kaset-kaset nya Ebiet G. ade, Iwan Fals, BIMBO, IDRIS SARDI (yang ini, lebih aneh lagi. bunyinya aneh...ngak- ngik ngok...akhirnya aku tau, itu bunyi biola...hihihi. ..), ANDY WILLIAMS, BONEY M, ABBA, dan ah...banyak.
Lalu, aku lulus SD, ada lagu Chrisye: ANAK SEKOLAH..haaahhaaa... kuputar tiap hari. Apalagi hari Minggu. Ayahku selalu pasangkan kaset ini dgn volume yang nyariiiing.. . biar aku bisa bangun pagi. hehe...(bakat malesnya udah ada sejak baheulaa...)
Lalu..ada banyak lagu Chrisye yang jadi temanku, tiap baca buku, tiap menyapu halaman, tiap kali menemani adik-adikku, tiap kali aku bangun pagi, dan pada waktu aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.... ehem...ehem. ...waktu itu, aku masih SMP. hehehe....
Lagu Chrisye yang jadi temanku waktu itu, Merpati Putih...
Ah....sampai sekarang, dirumahku masih ada CD Chrisye... album terbaiknya.Kemarin, aku pulang ke rumahku. Adik-adikku langsung mengulas berita tentang berita duka Chrisye. Ibuku juga begitu. Bahkan pada saat Ibuku tau Chrisye meningal dunia, dia menangis sedih di depan televisi.
(ini memang menggelikan. Tapi memang benar-benar terjadi...)
"Kita kan dekat sekali dengan Chrisye. Apalagi, waktu kita di Kalimantan, ya..," begitu ucapnya.
Chrisye....memang teman terbaik yang pernah dekat dengan separuh hidupku...
Chrisye, kami semua berdoa untukmu. Untuk semua perjalananmu. ..
Writer : Ayu N. Andini
Sepertinya, semua penghuni kantorku, punya perasaan yang sama. Sedih, agak terpukul juga, begitu tahu bahwa Chrisye sudah meninggal dunia (Jumat, 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB dini hari). Lalu, untuk mengenangnya, kami makan siang di warung CEPOEK, di kawasan Kallibata. Ada tanda tangan Chrisye di dindingnya.
Sepanjang makan siang, kami juga ditemani dengan lantunan lagu-lagu Chrisye di sana. Haaaahhhh... sedih!
Tapi lapar emang tidak mengenal kompromi. Kami tetap aja semangat untuk makan. hihiiiiii...
Berita di milis media, penuh dengan ucapan duka.
Saya, bukan saudara dekat Chrisye...
Saya, bukan pula saudara jauhnya Chrisye...
Saya, juga tidak punya pertalian darah sama sekali dengan Chrisye...
Tapi saya bisa merasakan kedekatan itu sejak pertama kali saya kenal dengan lagu-lagunya. Saya mengenal Chrisye sejak saya duduk di kelas 1 SD.
Pertama kali, saya dengarkan lagu Chrisye, yang judulnya: SABDA ALAM. Seumur saya yang masih cabe rawit dan cuma kenal lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo, baru kali itu saya mendengarkan lagu dan semua bulu kuduk saya merinding...
Waktu itu, saya nggak ngerti, apa sebabnya. Sejak itu, saya selalu ingin dengarkan lagu ini, setiap sebelum tidur. Hah...! Padahal syairnya aja, saya nggak paham sama sekali...!!! ! Tapi saya nggak peduli. Ada rasa nyaman yang saya rasakan tiap dengar lagu itu.
Lalu, kami pindah ke Kalimantan Timur (ke sebuah kota kecil yang namanya: Tarakan). Saya kelas 3 SD waktu itu. Sesampainya di rumah baru, saya cari kaset Chrisye (yang entah milik siapa itu..) yang sering diputar itu. Tapi tidak kutemukan... !!! sebel!!!
Saya mulai memburu lagu-lagu Chrisye. Caranya? Merengek pada ayahku (almrhm), untuk dibelikan kaset Chrisye. Mulanya, ayahku mengernyitkan dahi. "Ah, kamu kan nggak ngerti lagu-lagunya Chrisye..," begitu katanya.
Tapi aku memang nggak mau ngerti. Tiap ayahku pulang kantor, yang kutanya cuma itu. Walaupun ia membelikanku setumpuk buku cerita Lima Sekawan dan Trio Detektif, aku tetap menanyakan, kaset Chrisye..!!! "Mana kasetnya?" berminggu-minggu aku merengek. Akhirnya, aku punya kaset barunya. Huaaaahhhh.. ..senengnya sampai ke langit..!
Waktu itu aku dibeli-in yang...(judul albumnya aku lupa). Tapi aku masih inget, di dalamnya ada lagu yang judulnya : Leny.
Sejak itu, aku tidak pernah suka lagi sama lagu-lagunya Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo yang suaranya cempreng-cempreng gepeng itu. iiiiiihhh... .!Kasetnya kusembunyikan.
Sejak itu juga, ayahku juga jadi pemburu kaset Chrisye. Tiap ada album barunya, dia belikan untukku. Selain itu, yang kutahu, ayahku memang senang mengoleksi kaset dari macam-macam musik.
Yang kuingat, dia sering beli kaset : Francis Goya...(yang kudengar cuma bunyi denting gitar doang. aku tidak terlalu suka.), ada juga kaset-kaset nya Ebiet G. ade, Iwan Fals, BIMBO, IDRIS SARDI (yang ini, lebih aneh lagi. bunyinya aneh...ngak- ngik ngok...akhirnya aku tau, itu bunyi biola...hihihi. ..), ANDY WILLIAMS, BONEY M, ABBA, dan ah...banyak.
Lalu, aku lulus SD, ada lagu Chrisye: ANAK SEKOLAH..haaahhaaa... kuputar tiap hari. Apalagi hari Minggu. Ayahku selalu pasangkan kaset ini dgn volume yang nyariiiing.. . biar aku bisa bangun pagi. hehe...(bakat malesnya udah ada sejak baheulaa...)
Lalu..ada banyak lagu Chrisye yang jadi temanku, tiap baca buku, tiap menyapu halaman, tiap kali menemani adik-adikku, tiap kali aku bangun pagi, dan pada waktu aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.... ehem...ehem. ...waktu itu, aku masih SMP. hehehe....
Lagu Chrisye yang jadi temanku waktu itu, Merpati Putih...
Ah....sampai sekarang, dirumahku masih ada CD Chrisye... album terbaiknya.Kemarin, aku pulang ke rumahku. Adik-adikku langsung mengulas berita tentang berita duka Chrisye. Ibuku juga begitu. Bahkan pada saat Ibuku tau Chrisye meningal dunia, dia menangis sedih di depan televisi.
(ini memang menggelikan. Tapi memang benar-benar terjadi...)
"Kita kan dekat sekali dengan Chrisye. Apalagi, waktu kita di Kalimantan, ya..," begitu ucapnya.
Chrisye....memang teman terbaik yang pernah dekat dengan separuh hidupku...
Chrisye, kami semua berdoa untukmu. Untuk semua perjalananmu. ..
Writer : Ayu N. Andini
Photo: downloaded from www.infoartis.com
Wednesday, March 14, 2007
Kamasutra
Monday, March 12, 2007
Wednesday, March 07, 2007
Selamat Datang

Selamat datang di dunia yang kejam ini, sayangku....
Ibu dan ayahmu siap melindungimu,
tapi kau tak dapat menggantungkan hidupmu
terlalu lama pada mereka berdua.
Kau harus kuat,
berjuang, bertahan, dan bersenang senang
mari sini, aku bisikkan telinga mungilmu dengan banyak cerita menarik....
Dunia ini ada banyak yang bisa bikin kau terpana.
Selamat Datang, Keisya Airazahra dan Indra Kusuma
(anak pertama dari pasangan Uge dan Heni, Ratna Daypek dan Yadi Akung; temanku)
Writer : Ayu N. Andini
Photo by www.michaelramaccia.com
Subscribe to:
Posts (Atom)



