Thursday, September 14, 2006

Latihan Kesabaran dan Ketelitian


Caranya? Dengan membatik, semuanya bisa dilatih. Bukan iklan, bukan sihir. Di Museum Tekstil Jakarta, ada workshop membatik. Untuk kursus kilat sehari, biayanya Rp 40.000,-. Kita bisa bikin saputangan dengan desain sesuka hati, sakarep dewe'. Atau, pilih yang Rp 150.000,- untuk termin sebulan. Output nya, selembar kain batik cantik karya pribadi yang limited edition. Di seluruh dunia, cuma kita sendiri yang punya. whuaaahahaha...tertarik nggak? Bulan depan, saya akan mulai latihan di sana.

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Nasib Batik Indonesia

Sebagian koleksi kain batik asli Madura, dipamerkan awal September 2006 lalu di Museum Tekstil Jakarta. Kain-kain ini dijual. Harganya variatif, mulai dari Rp 100.000,- s/d 3 juta rupiah. Mahal? Ah....lebih mahal lagi, kalau 10 tahun kemudian kain-kain batik ini hanya boleh diproduksi di Malaysia. Karena hak cipta kain batik telah diklaim oleh negara tetangga kita ini, sebagai milik mereka. Sekali lagi, kita kecolongan...!


Writer : Ayu N. Andini

Wednesday, September 13, 2006

Kain Batik yang Berumur Lebih dari 300 tahun

Menurut penuturan Pak Bayu, Museum Tekstil Jakarta menyimpan dan merawat kain yang usianya sudah sangat tua. Kain ini adalah bendera kirab Kerajaan dari Cirebon (Istana Kasepuhan). Bendera ini multiguna. Sebagai lambang kekuasaan sekaligus sebagai pengusir wabah penyakit yang menimpa suatu daerah. Fungsi yang terakhir ini memang bekerja secara gaib dan dipercaya mujarab sebagai pemusnah epidemi pada zaman itu. Karenanya, bendera ini sempat singgah di beberapa tempat hingga ke daerah kekuasaan Kerajaan Banten. Sampai sekarang, diakui, bendera kirab Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon, punya desain yang sama bentuk. Lebar dan panjangnya sekitar 2 m X 3,5 m. Bayangkan saja, ukuran ini hampir sebesar sprei tempat tidur ukuran double.
Sekarang, duplikatnya sering dipamerkan di seluruh Indonesia. Motif-motif yang ada pada kain ini adalah hasil tulis tangan dengan tinta dan pewarna indigo (sejenis tumbuhan). Warna dasarnya hitam agak kebiruan dan di sepanjang tepi kainnya dituliskan ayat suci Al-Qur'an (surat Al-Ikhlas).
Gambar yang tampil di halaman ini, adalah ikon Kerajaan Cirebon yang dituliskan pada sudut-sudut kain tersebut.



Writer : Ayu N. Andini
Photo by doc.Museum Tekstil Jakarta

Pempek di Warung Mariana


Dalam perjalanan pulang setelah liputan (13/8), saya mendesak kawan saya untuk singgah di warung kecil tepi jalan menuju Parai Beach Resort. Saya bilang, kalau pempek yang dijual di warung-warung kecil tepi jalan, rasanya lebih enak dan unik daripada yang ada di restoran-restoran besar di sana. Lalu, kawan saya jadi percaya. Mobil kami menepi di sana. Tadinya hanya icip-icip, eeeh..dia malah makan hingga 5 potong ludas tandas. Pemilik warungnya, ramah. Namanya, Mariana.


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N Andini

Monday, September 11, 2006

Kejujuran yang Senilai dengan Nyawa


Kejujuran itu sama dengan harga diri. Semakin sering Anda berbohong, semakin rendahlah harga diri yang Anda taruh untuk diri Anda sendiri. Kejujuran itu senilai dengan nyawa. Jika kejujuran sudah tidak dihargai lagi, maka ia senilai dengan nyawa. Jika Anda masih merasa takut untuk mati, sudah waktunya bagi Anda untuk belajar jujur. Setidaknya terhadap diri Anda sendiri.

"Kejujuran itu seperti es krim. Harus cepat dilahap sebelum ia meleleh kena hawa panas."
(dikutip dari salah satu dialog film Andai Ia Tau)



Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Sunday, September 10, 2006

Menikmati Setiap Sudut Pangkalpinang


Menurut dinas pariwisata setempat, kota Pangkalpinang sejak ratusan tahun ditempati oleh etnis Tionghoa. Oleh sebab itu objek wisata yang ada disana juga tak lepas dari sejarah dan budaya Tionghoa. Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1848 penduduk etnis ini berjumlah sekitar 1.867 jiwa dan pada 1920 bertambah menjadi 15.666 orang, artinya 68,9 % dari seluruh penduduk kota pada waktu itu.

Dengan latar belakang sejarah demikian, wajar kalau Pangkalpinang dan peduduknya juga kental bernuansa tradisi peninggalan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur. Disana tersebar aneka bangunan khas pecinan, seperti kelenteng yang menjadi tanda bahwa tradisi lokal masih melekat hingga sekarang. Berbagai upacara adat pun hingga kini masih lestari dan diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. Kondisi ini membuktikan bahwa sejak berabad silam, pembauran antara etnis Tionghoa dengan Melayu berlangsung baik di kota ini khususnya dan Pulau Bangka secara keseluruhan.

Salah satu tempat yang kerap dikunjungi para wisatawan di Pangkalpinang adalah Kelenteng Kwan Tie Miaw. Kelenteng tertua di Bangka ini, berada masih di pusat Kota Pangkalpinang. Pada setiap perayaan Imlek, kelenteng ini penuh sesak oleh orang-orang yang hendak memanjatkan doa seraya membawa berbagai barang persembahan.

Beberapa upacara adat lokal, juga menarik perhatian wisatawan, antara lain “Peh Cun”, yaitu sebuah tradisi masyarakat Tionghoa untuk menghormati mendiang seorang bangsawan yang amat dicintai rakyat, bernama Qu Yuan. Upacara ini biasanya dilaksanakan di Pantai Pasir Padi setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Tempat lainnya yang juga sering dijambangi sekaligus mengingatkan kita pada abad ke-18 adalah Museum Timah Bangka. Di dalam museum ini terpapar catatan sejarah pertambangan timah Bangka dari awal ditemukan hingga perkembangan industrinya sekarang.

Pantai Favorit
Selain objek wisata sejarah dan budaya, Pangkalpinang juga memiliki objek wisata pantai yakni Pantai Pasir Padi yang terletak di Kecamatan Bukit Intan. Pantai ini mudah dijangkau, cuma butuh 30 menit dengan kendaraan bermotor dari pusah kota.

Kelebihan pantai ini antra lain pantainya landai dan cukup panjang sehingga pengunjungnya bisa puas bermain di sepanjang pantainya hingga jauh. Bentangan pantainya ke laut mencapai lebih-kurang 7 meter. Oleh karena itu ombaknya yang sampai ke tepi pantai hanya berupa riak kecil dan pelan. Sedangkan angin lautnya bertiup kencang ke arah daratan, sehingga kerap dimanfaatkan oleh para penggemar layang-layang.

Pantai berpasir coklat dan bersih ini menjadi lokasi favorit bagi semua umur. Disana kerap terlihat sejumlah anak asyik bermain di bibir pantai, berlarian, membangun istana pasir dan sebagainya. Kawula muda disana juga menjadikan pantai ini sebagai salah satu tempat tongkrongan. Pada akhir pekan atau hari libur, pantai ini semakin ramai pengunjungnya. Jangan heran kalau sampai ada mobil atau sepeda motor yang bebas mondar-mandir di tepian pantainya.

Di sekitar pantai tepatnya di tepi jalan beraspal, terdapat deretan saung kecil yang digunakan pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman ringan. Salah satu minuman favorit di sana adalah air kelapa muda segar.

Kalau ingin menikmati keramaian Kota Pangkalpinang, datang saja ke seputar wilayah Pasar Pembangunan yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan sebutan “Pasar Besar”. Di tempat ini segala jenis barang kebutuhan diperjualbelikan, ada aneka sayur mayur, ikan segar, pakaian hingga barang elektronik. Di lokasi ini juga terdapat deretan penjaja makanan khas Bangka.

Pusat Niaga
Letak Pangkalpinang yang sangat strategis di bagian timur Pulau Bangka, membuatnya selalu ramai dikunjungi orang baik wisatawan, pebisnis, dan sebagainya dari berbagai penjuru. Sarana angkutan masal di kota ini cukup memadai, misalnya Bandara Depati Amir yang terletak di ujung paling timur Kota Pangkalpinang, memiliki jangkauan jalur transportasi pesawat terbang yang didukung lebih dari 4 maskapai penerbangan se-Indonesia. Dengan luas wilayah 89,40 km2, kota ini berfungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan yang meliputi pusat pemerintahan, kegiatan politik, perniagaan, industri, pendistribusian barang, jasa, pelayanan kesehatan, pusat pendidikan, dan lain-lain.

Jalan-jalan di seputar Kota Pangkalpinang cukup menyenangkan. Kondisi lalu-lintasnya lancar, boleh dibilang tak pernah macet. Didukung oleh sarana transportasi umum dengan terminal kota di dekat "Pasar Besar" yang melayani beberapa rute angkutan dalam kota.

Tips Perjalanan:
Pulau Bangka berada di jalur strategis dan internasional antara Singapura dan Jakarta. Mudah mencapainya. Lewat laut dari Jakarta ke Pelabuhan Belinyu dan Pangkal Balam. Via udara dengan pesawat udara, antara lain Sriwijaya Air yang terbang setiap hari ke bandara Depati Amir yang berjarak sekitar 40 km dari Kota Sungailiat. Dari Bandara Depati Amir menuju pusat Kota Pangkalpinang, dapat ditempuh dengan kendaraan umum sekitar 30 menit. Kalau ingin ke Pantai Pasir Padi, ambil jalur yang menuju ke Air Itam. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota.
(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pariwisata, perjalanan, seni dan budaya, yang berkantor di Jakarta)

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Friday, September 08, 2006

Tarian Kentang


Dari Dieng, hasil perkebunan yang cukup dikenal adalah kentang. Di pasar ini, hampir seluruh ruangan los depannya terisi dengan kentang berkarung-karung. Lalu di tengah hiruk pikuk pasar, saya melihat buruh-buruh angkut ini seperti sedang menari. Ini diaaa....Tarian Kentang.


Photo by Ayu N. Andini

Rokok Kemenyan dan Sekarung Kentang


Pria ini salah satu buruh angkut di Pasar Wringin Anom, Wonosobo. Dibibirnya terselip rokok kemenyan. Pagi itu, jam masih menunjukkan pukul 06.00. Tapi punggungnya sudah mengusung berkarung-karung kentang dari tanah Dieng.


Photo by Ayu N. Andini

Thursday, September 07, 2006

Dieng, Pesona Negeri Kabut


Dieng, cukup populer sebagai salah satu tempat wisata yang banyak diminati turis-turis lokal dan manca negara. Sebuah tempat dengan kondisi demografis yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan pegunungan, menyuguhkan panorama yang tak habis meninggalkan decak kagum. Udaranya yang sejuk, dan kabutnya yang turun di hampir setiap waktu, telah memberikan daya tarik tersendiri.

Dari atas Menara Pandang, selain dapat menikmati golden sunrise dari timur Gunung Sindoro dan pegunungan Tlerep, kita juga bisa menatap sebagian besar pesona Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu). Dataran Tinggi Dieng, tercatat berada pada ketinggian yang berkisar antara 1200 s/d 2550 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tepat terletak di antara dua daerah kabupaten: Banjarnegara dan Wonosobo, juga termasuk dalam dua wilayah kecamatan: Batur dan Pejajar.

Agrowisata di Dieng
Jika sinar matahari cerah mengalahkan kabut yang pergi menyingkir, maka akan terlihat pemandangan gunung dan pegunungan di sekitarnya yang menampakkan denyut kehidupan. Lekuk-lekuk Sungai Serayu, kebun-kebun kentang, perumahan penduduk, dan lahan-lahan tembakau terhampar.
Iklim dan suhu yang mendukung kesuburan tanahnya, menjadi sumber penghidupan penduduk di sana. Dingin yang menggigit tulang, tak jadi aral rintangan bagi penduduk di sana untuk melakukan aktivitasnya setiap hari. Daerah ini bertemperatur rata-rata 18 derajat Celcius pada siang hari, dan 12 s/d 16 derajat Celcius pada malam atau pagi hari. Bahkan menurut penuturan masyarakat asli Kabupaten Wonosobo, pada pagi hari di musim kemarau suhunya bisa mencapai -2 s/d -4 derajat Celcius.
Rendahnya temperatur ini, dapat membuat beberapa jenis tanaman tumbuh subur di sana. Sebagian kecil lahan tembakau yang subur, tampak lebih jelas bila dipandang dari sebuah penginapan yang diapit oleh keindahan pemandangan dari dua Gunung, Sindoro dan Sumbing.
Begitu pula halnya dengan Perkebunan Teh Tambi yang berada di lereng pegunungan Sindoro dan Sumbing di ketinggian 800 s/d 2000mdpl. Perkebunan Teh Tambi ini telah tumbuh subur sejak tahun 1865 hingga sekarang. Kabut yang kerap turun di sana, malah menjadi nilai tambah bagi pesonanya.
Tak sedikit turis yang betah berlama-lama memandangi hamparan hijau kebun teh sambil sekaligus berkunjung ke pabrik pengolahannya yang terletak tak jauh dari sana. Jika semua aktivitas telah usai, para turis dapat menikmati secangkir hangat teh Tambi.

Pesona Alam yang Lahir dari Legenda
Dieng dan pesonanya, juga menyimpan legenda yang menjadi cerita asal mulanya. Menurut Pak Salim, salah seorang penduduk Wonosobo dan memahami legenda yang hidup dan dipercaya penduduk disana, mengungkapkan, “Dieng itu dari bahasa Jawa,yaitu dhi dan hyang yang artinya gunung, dan hyang diambil dari kata para hyang, yang artinya para dewa dewi. Jadi, Dieng itu artinya gunung tempat para dewa dewi. Bisa dilihat, di sini juga ada banyak situs-situs candi peninggalan agama Hindu.”
Perjalanan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor (motor atau mobil) dari kota Wonosobo menuju Dieng. Jaraknya kurang lebih hanya 26 km. Jika telah tiba di kompleks candi Arjuna, pengunjung dapat melihat deretan candi yang berdiri tegak di sana. Ada Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Dari hasil penelitian para ahli sejarah, kelompok candi Arjuna ini dibuat pada pertengahan abad ke-8. Diperkirakan candi peninggalan agama Hindu Civa (Hindu Shiwa) ini, usianya lebih tua daripada Candi Borobudur yang ada di Yogyakarta.
Selain itu, masih ada beberapa kelompok candi lainnya yang terletak terpisah beberapa kilometer dari kelompok candi Arjuna. Kelompok candi lainnya itu adalah Candi Gatotkaca dan Candi Bima.
Situs-situs bersejarah tersebut berada dalam area cagar budaya yang terawat baik. Letaknya dikelilingi oleh pegunungan Pangonan. Tak jauh dari kawasan candi Arjuna, terdapat tempat wisata lain yang juga ramai dikunjungi. Telaga Warna dan Kawah Sikidang.
Telaga Warna dengan latar belakang dua gunung besar, yaitu Gunung Sindoro yang berketinggian mencapai 3151 meter dan di sebelahnya, yaitu Gunung Sumbing dengan ketinggian 3371 meter. Telaga yang tampak berwarna hijau kebiruan dan bening berkilauan ditimpa sinar matahari, adalah sebuah telaga yang dibuatkan oleh Pangeran calon menantu sang Ratu. Konon pada saat itu ada dua calon yang akan diangkat menjadi menantunya. Oleh karena itu, diadakanlah sayembara adu cepat membuat telaga. Salah satu Pangeran, jadi pemenangnya. Namun saat sang Ratu sedang berjalan-jalan dan melihat telaga dengan airnya yang begitu tenang, Ratu menjadi tertarik dan mencari tahu tentang siapa pembuatnya. Akhirnya keputusan tentang pemenang sayembara tersebut, dicabut. Pangeran pembuat telaga beriak tenang dengan airnya yang bening berkilauanlah yang menjadi pemenangnya. Ketika Ratu tengah mandi di telaga ini bersama anak perempuannya yang cantik, baju-baju mereka diterbangkan angin dan jatuh ke dalam telaga. Baju-baju mereka melunturi air telaga, hingga air telaga menjadi berwarna. Sejak itulah, telaga ini disebut sebagai Telaga Warna. Legenda Telaga Warna ini, masih tetap hidup dan dipercaya oleh penduduk di kawasan Dieng.
Pada bagian lereng bukit dekat dengan Telaga Warna, ada sebuah kawah yang disebut dengan nama Kawah Sikidang. Kawah ini berkadar belerang rendah, hingga pengunjungnya tetap banyak yang datang mendekat ke Kawah Sikidang. L. Agus. Tjugianto, seorang penduduk asli Kabupaten Wonosobo sekaligus pemilik Kledung Pass Hotel dan Restaurant yang berlokasi tak jauh dari Telaga Warna dan Kawah Sikidang, menuturkan kepada para peserta tour Panorama Leisure bahwa Kawah Sikidang berasal dari sebuah legenda rakyat Wonosobo. “Dipercaya, bahwa di dalam kawah tersebut dulunya ada sebuah istana milik seorang ratu yang cantik. Namanya Shinta Dewi. Pada suatu masa, ia dilamar lengsung oleh pangeran yang menurut kabar, adalah pangeran yang tampan dan kaya raya. Namun ternyata Shinta Dewi kecewa. Pangeran ini bertubuh manusia dan berkepala kijang. Namanya, Kidang Garungan. Maka untuk mempersulit proses lamarannya, Shinta Dewi bersiasat dan meminta syarat untuk dibuatkan sumur yang sangat besar dan sangat dalam di sana. Ketika sumur tersebut hampir selesai, Shinta Dewi dan para pengawalnya mengurug sumur itu. Kidang Garungan ikut tertimbun di dalamnya. Dengan mengerahkan segala kesaktiannya untuk keluar dari sana, sumur itu meledak. Permukaannya menjadi panas dan bergetar. Namun setiap kali Kidang Garungan ingin keluar dari sumur ini, sumur ini terus menerus diurug. Akhirnya Kidang Garungan sangat marah hingga mengutuk bahwa seluruh keturunan Shinta Dewi akan berambut gembel.”
Setelah menikmati indahnya Kawah Sikidang yang terus mengepulkan asap belerang ini, pengunjung dapat menengok aneka ‘buah tangan’ yang dijual para penduduk di los-los terbuka dekat area parkir dan gerbang masuk kawasan wisata Kawah Sikidang. Ada aneka bentuk dan kreasi kerajinan perak, buah dan manisan Carica Dieng dalam kemasan, cabe Dieng, keripik jamur, hingga jamu purwaceng. Setelah diteliti, ternyata tumbuhan yang disebut purwaceng ini termasuk jenis tanaman ginseng yang tumbuh juga di Korea dan Tiongkok.
Kemudian, tak jauh dari lokasi ini juga ada Bimolukar (Bima Belukar). Sebuah tempat mata air Sungai Serayu yang berasal dari Gunung Perahu (2596mdpl), dan dianggap sebagai air suci bagi umat Hindu. Di sekitarnya rimbun dengan pepohonan. Menuju gerbang masuknya, seringkali beberapa ekor monyet yang telah jinak, muncul dan diam berlama-lama di sana. Sebuah suguhan pemandangan yang unik.
Ketika hari telah gelap, suguhan gelar budaya mengundang semua mata pengunjung terpukau. Bunyi tabuhan gamelan mengalun menghentak pelan. Tarian-tarian rakyat dipertunjukkan. Tari Lengger, Tari Topeng, dan pertunjukan unik dari upacara makan beling, jadi kejutan yang luar biasa. Lalu, semuanya ditutup dengan pemberian cindera mata. Ada banyak kenang-kenangan yang datang dari Dieng, Negeri Kabut tempat legenda tersimpan dengan harta pesona yang tak ternilai harganya.

(Tulisan ini telah dimuat di salah satu majalah wisata yang berkantor di Jakarta)

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Thursday, August 31, 2006

My Blue Day


Kemarin malam, perasaan saya hancur berantakan.
Hari ini, yang berantakan itu menjadi serpihan-serpihan.
Sakitnya jadi lebih sakit dari segala rasa sakit yang sudah pernah singgah sebelumnya.
Rasanya ingin pergi saja.
Ke sebuah tempat yang tak pernah ada rasa sedih, dan tak pernah ada rasa sakit.

"Jadi salah gue? Salah temen-temen gue, kalau elo merasa aneh di tengah lapangan seperti ini? Sakit jiwa !!!"
(dikutip dari sebagian kecil dialog film AADC)

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Friday, August 25, 2006

Setelah Dua Tahun Kepergiannya

Besok, ada yang bahagia, ada juga yang menangis. Besok, ada banyak bayi yang lahir dan ada banyak lengking kematian. Besok, adalah saat saya berbahagia karena sahabat saya akhirnya lulus dan diwisuda. Saya juga teringat bahwa tepat esok hari, pada dua tahun yang lalu ayah saya meninggalkan kami untuk pergi ke sebuah tempat yang bisa membuatnya terbebas dari semua rasa sedih dan semua rasa sakit. Selama dua tahun kepergiannya, kami sekeluarga merasakan banyak hal yang tak sempat kami bagi dengannya. Sewaktu pertamakali saya diterima bekerja sebagai reporter di salah satu media cetak di Jakarta, saya juga sudah tidak dapat berbagi bahagia dengannya. Sewaktu saya merasa sedang berdiri tegak di sebuah horison yang panjang, datar, dan sepi, saya juga tidak bisa berbagi sepi dengannya. Setiap kali saya bahagia dan setiap kali ditimpa kesedihan, saya cuma bisa berbisik di depan nisannya.
Sekarang, saya juga berbisik pada Tuhan, "Berikan tempat yang terbaik baginya, disisiMu."


Writer : Ayu N. Andini

Thursday, August 24, 2006

Tourist Memang Konyol

Pantai Tanjung Pesona, memang bagus. Pasirnya masih halus dan bersih. Air lautnya juga biru bening. Kerang-kerang kecil warna warni menyembul di permukaan pasir pantainya. Batu-batu yang setinggi rumah dua lantai ini, menumpuk dan menyebar di beberapa sisi pantai hingga membentuk banyak lekukan di sepanjang tepiannya. Jika ingin menyentuh air lautnya, kita harus menuruni anak-anak tangga yang dibuat di atas batu-batu ini. Di tempat ini ada banyak sisi-sisi tersembunyi. Ada banyak kelokan tangga di situ. Sewaktu saya masih kagum dengan tumpukan-tumpukan batu besar di tepi-tepi Pantai Tanjung Pesona (Bangka), ada sedikit gangguan dari sepasang tamu yang berkunjung ke tempat itu.
Dari sudut kelokan tangga, tanpa sengaja saya melihat mereka sedang ehm...ehm...bercumbu !
Waaaah....! Ada niat nakal untuk motret, tapi jadi urung lantaran keburu sadar.
Apakah batu-batu dan kelokan tangga ini memang dulunya dibuat untuk menyembunyikan perbuatan konyol mereka? Sudah pasti, jawabannya: TIDAK !!!
Karena jika batu-batu itu bersuara, mereka pasti sudah mengirimkan berita kepada semua orang yang datang ke sana, "Kami sudah tertanam di sini sejak ribuan tahun, tapi jika hanya jadi sudut-sudut mesum, baru beberapa abad ini saja."


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Lusa, Ada Acara Wisuda


"Kenapa?"
Sebuah kata tanya yang ada sampai sekarang. Untuk berbagai hal, semua orang tak pernah bosan dengan pertanyaan yang satu ini. Saya juga begitu.
Lusa, salah satu sahabat saya akan diwisuda. Dia agak telat, memang. Skripsinya detail sekali.
Yang daftar wisuda sudah ratusan. Yang tidak daftar, ada banyak alasan. Dari mulai tidak punya biaya, sampai dengan yang malas repot ikut wisuda. Sahabat saya ini, akhirnya mendaftar juga. Mau tau alasannya? Dia bilang, "Aku harus ikutan wisuda karena sudah janji bakal jadi objek foto teman-teman kampus."
Dulu, saya ikut wisuda juga dengan alasan, "Orangtuaku ingin punya foto wisuda sarjanaku."
Dan ini, foto diri saya waktu wisuda tahun 2002 lalu.
Lusa, saya tidak termasuk yang ikut motret acara wisuda. Saya juga tidak termasuk sebagai orang yang diundang untuk datang ke sana. Jadi, yaaa...saya cuma bisa berbagi bahagia dan mengingat saat-saat wisuda, lewat foto ini saja.


Writer : Ayu N. Andini
Photo by "Someplace" Photo Studio

Wednesday, August 23, 2006

Ayo Tebak !


Sejak sepuluh tahun yang lalu, saya tinggalkan Bangka. Baru bulan Agustus ini saya rasakan lagi, jemari kaki saya menyentuh pasir-pasir cokelat muda di Pantai Pasir Padi. Siang itu, langitnya tidak terlalu biru. Mata saya jadi tersita untuk perhatikan butiran-butiran pasir di sana. Ada yang sedang membangun rumah di situ. Ada yang sedang menimbun makanan di bawah permukaan pasir yang saya injak. Ada banyak garis-garis berpola di sana. Ayo tebak, apa yang sedang bergerak di antara butiran-butiran pasir ini? Ada berapa ekor ayoooo?


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Happy Birthday, Indonesia





Menengok sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ada beberapa peristiwa penting yang menasional dan terjadi di beberapa bagian kota di Indonesia. Jalur napak tilas kali ini melangkah mundur, ke 61 tahun yang lalu.

Perumusan Naskah Proklamasi
Saat itu, 16 Agustus 1945, pukul 04.30 WIB. Sebuah peristiwa terjadi di rumah kepala Negara RI. Orang nomor satu di Indonesia beserta wakilnya, telah diculik oleh sekelompok pemuda dokuritsu zunbi kosasai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang beberapa waktu sebelumnya. Soekarno kemudian dibawa ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok. Di sana terjadi proses kompromi tentang rencana pernyataan kemerdekaan. Banyak di antara para pemuda yang tidak menyetujui hal itu, mengingat PPKI adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Jepang. Dari proses perundingan di Rengasdengklok, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatan penting. Presiden Soekarno dan wakilnya, Muhammad Hatta kemudian diboyong ke Jakarta.

Pada pukul 22.00 WIB rombongan ini tiba di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di tempat inilah naskah proklamasi dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo, lalu diketik oleh Sayuti Melik. Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI ini ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada saat menjelang waktu Shubuh, tanggal 17 Agustus 1945.

Tempat peristiwa bersejarah ini sampai sekarang masih berada pada lokasi yang sama. Bentuk bangunannya pun tetap sama seperti bentuk ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1920 dengan rancang bangun arsitektur bergaya Eropa.

Beberapa isi ruangan dipertahankan dalam keadaan yang sama dengan kondisinya waktu dulu. Hampir sama persis seperti ketika proses perumusan naskah proklamasi disusun di sana, 61 tahun yang lalu. Kursi dan meja yang sama, serta ruangan-ruangan dengan jendela dan pintu dalam kondisi yang tak diubah bentuk. Ada beberapa dokumen penting yang diletakkan di dalam lemari kaca, misalnya pemutar piringan hitam kuno, kaset VHS yang berisi rekaman acara pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, dua lembar pecahan uang kuno, replika naskah proklamasi tulisan tangan, dan berbagai catatan sejarah proklamasi kemerdekaan RI di berbagai kota.

Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi pada aksi nasionalisasi terhadap milik-milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1992, atas inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof Dr. Nugroho Notosusanto melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992 tanggal 24 November 1992, gedung ini ditetapkan menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi hingga sekarang.

Museum ini dibuka untuk umum setiap harinya, kecuali hari Senin dan Hari Besar. Hari Selasa s/d Minggu, museum dibuka sejak pukul 08.30 s/d 14.30 WIB dengan harga karcis masuk yang sangat murah. Hanya dengan biaya masuk Rp750,- untuk dewasa perorangan, dan Rp250,- untuk anak-anak. Bahkan untuk pengunjung rombongan, harga tiket masuknya lebih murah. Hanya berkisar Rp100,- s/d Rp250,- per orang.

Gedung museum dan isinya yang terawat baik, kini banyak memberikan nilai-nilai edukatif, khususnya tentang sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Pengunjung yang datang, umumnya adalah para murid, pelajar, siswa, para mahasiswa serta turis-turis mancanegara. Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga sering menerima tamu dari Kedutaan Jepang.

Menurut Yuwono, salah satu pegawai Tata Usaha di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, pihaknya bahkan sering menerima tamu dalam jumlah yang banyak. Satu rombongan bisa mencapai 500 orang.

Selain menerima kunjungan para tamu, di tempat ini juga sering dilakukan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan pihak pengelolanya sekarang Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat program acara yang diadakan setiap tahun, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI.

Berdasarkan penuturan Yuwono, Biasanya acara spesial ini digelar dengan tema napak tilas proklamasi kemerdekaan RI. Acara puncaknya dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus seiap tahun. Menurut rencana, akan ada karnaval dengan rute Jl. Imam Bonjol No.1 s/d ke Gedung Pola (Gedung Perintis Kemerdekaan di Jl. Proklamasi). Selain dihadiri oleh beberapa orang penting dari jajaran Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, acara ini juga akan diramaikan dengan karnaval menarik. Beberapa pihak yang pernah terlibat adalah klub motor-motor kuno, mobil-mobil kuno, kelompok sepeda-sepeda antik, dan kelompok drum band dari SMA YAPENAS Jakarta.

Sejarah Dimulai dari Pegangsaan Timur
Sejarah kemerdekaan RI sebenarnya dimulai dari sebuah rumah yang terletak di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Di sanalah naskah Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan untuk pertama kalinya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus pada pukul 09.52 WIB. Namun pada kenyataannya, rumah bersejarah ini sudah tidak ada lagi sejak tahun 1960. Sejak Soekarno bersepakat dengan Pemerintah Jakarta (masa pemerintahan Henk Ngantung) untuk merenovasinya, maka sejak itu bangunan ini dipugar rata dengan tanah, dan tak sedikitpun bangunan yang tersisa darinya.

Hingga pada tahun 1961, Presiden Soekarno meresmikan pembuatan Tugu Petir di lokasi yang sama. Tugu berbentuk silinder mencapai tinggi yang lebih dari 8 meter dengan simbol petir yang ada di puncaknya itu, kini berdiri di depan sebuah gambar Soekarno dalam siluet hitam putih yang menjulang tinggi menjadi latar belakangnya.

Kemudian, pelataran sebelah baratnya, dibuatkan dua patung Sekarno-Hatta yang berdiri berdampingan. Mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator setinggi 3 meter-an ini, ada naskah proklamasi yang dicetak besar-besar di atas lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya. Semua ini, disebut sebagai Tugu Proklamasi, termasuk Tugu Petir yang ada di sebelah kiri patung proklamator.

Tugu Proklamasi yang kini berdiri di tanah lapang kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dahulunya disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat menjadi simbol. Penanda bahwa di tempat patung itu berdiri, di sana pernah terjadi peristiwa bernilai historis panjang hingga kini.

Pada perkembangannya sekarang, lokasi ini pun menjadi tempat pilihan bagi berkumpulnya para demonstran untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya. Lain halnya ketika sore menjelang. Pada hari-hari yang biasa, para penduduk yang tinggal tak jauh dari lingkungan taman ini kerap berkunjung ke Tugu Proklamasi untuk berbagai aktivitas.

Tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak bermain, karena arealnya yang luas dan bersih. Bahkan terkadang dijadikan arena berolahraga, tempat berkumpul dan bertemu, atau hanya untuk duduk-duduk saja menghabiskan sore hingga senja datang. Karena banyaknya pengunjung setiap sore, khususnya setiap Sabtu dan Minggu, para pedagang pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menangguk keuntungan. Ada pedagang bakso, makanan-makanan gorengan, bahkan penjual balon. Namun, Tugu Proklamasi tetap menjadi tempat yang spesial untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI tiap tahunnya.

(Tulisan ini telah dimuat di majalah pariwisata yang berkantor di Jakarta)

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Ket.Foto: Judul "Happy Birthday, Indonesia" 2006, lokasi di Tugu Proklamasi,
Jakarta Pusat

The Gotheborg


Ini, sebagian kecil dari Kapal Gotheborg.
Photo by Ayu N. Andini

Kunjungan dari Gotheborg

Sejak kedatangannya di Jakarta, Kapal Götheborg telah menarik perhatian segenap masyarakat Indonesia. Pelayaran napak tilas ini mengundang banyak wisatawan datang untuk memandangi dari dekat, replika kapal Götheborg yang berusia 250 tahun lebih. Momen yang tidak setiap tahun bisa dinikmati di Indonesia.
Sebagai bagian dari hubungan sejarah Indonesia dan Swedia, Kapal Götheborg merapat di pelabuhan Tanjung Priok sejak tanggal 18 Juni 2006 dalam rangka peringatan napak tilas jalur sejarah perjalanannya. Kapal yang sudah mengarungi seluruh Afrika dan Asia ini, pernah singgah di pelabuhan Sunda Kelapa-Batavia (sekarang disebut sebagai pelabuhan Tanjung Priok). Persinggahannya pada awal abad ke-19 di Sunda Kelapa, merupakan rangkaian perjalanan niaganya ke Tiongkok. Kapal ini merapat di pelabuhan Göthenburgers di Swedia. Lalu kemudian orang-orang di sana menyebutnya dengan nama Götheborg. Setelah berlayar ke beberapa samudera selama 2 tahun, kapal ini mengalami kerusakan hingga akhirnya tenggelam sebelum bisa merapat di pelabuhan Skandinavia. Kini, yang merapat di pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta adalah replika dari kapal Götheborg, dengan desain modern dan bentuk yang mirip dengan yang asli.

Kapal Götheborg, Dulu dan Sekarang
Menurut beberapa catatan sejarah, kapal Götheborg yang pertama, dibuat pada tahun 1738 di Terra Nova, sebuah tempat pembuatan kapal di Stockholm-Inggris. Kapal ini diberi nama East Indiaman Götheborg. Napak tilas yang akan ditempuh dalam perjalanannya tahun ini, dibuat berdasarkan jalur perjalanan niaga yang pernah dilewati selama awal abad ke-19. Dalam perjalanannya, kapal ini telah singgah di Cadiz- Spanyol pada pertengahan November tahun lalu. Pelabuhan-pelabuhan berikutnya yang termasuk dalam jalur napak tilasnya adalah Recife di Brazil, Cape Town dan Port Elizabeth di Afrika timur. Pada pelayarannya menuju ke Canton (Guangzhou) di Tiongkok, kapal ini singgah di Sunda Kelapa- Jakarta dan di pelabuhan Fremantle di Austalia. Mengulangi jalur pelayarannya, Götheborg yang telah pernah merapat di Batavia, pada bulan Juli 2006 lalu, berkunjung ke Jakarta selama sepekan penuh sebelum menuju ke Guangzhou. Kapal Götheborg ini, dibuat dengan desain bentuk yang dibuat sangat mirip dengan desain yang asli. Joakim Severinson, salah seorang pakar pembuat kapal di Swedia, telah terlibat dalam proses pencarian artefak kapal Götheborg dan menyusun riset serta penelitiannya selama hampir delapan belas tahun hingga akhirnya ia membuat drawing kapal ini secara lengkap dan utuh selama dua tahun penuh dan rampung pada tahun 1995. Joakim pula yang bertanggungjawab dalam proses pembuatan replika kapal Götheborg yang kini berlayar ke lebih dari lima negara. Kapal yang berbahan utama kayu dari pohon oak dan pinus ini, membutuhkan waktu 10 tahun untuk proses pembuatan. Hingga akhirnya pada tanggal 2 Oktober 2005 lalu, kapal ini berlayar dari pelabuhan Swedia untuk melakukan perjalanan napak tilasnya ke Tiongkok. Momen ini disaksikan oleh seluruh keluarga Kerajaan Swedia dan ribuan orang. Berlabuhnya East Indiaman Götheborg di pulau Jawa tempo dulu, mengangkut banyak hasil bumi dari Indonesia. Selain rempah-rempah, beberapa galon air tawar bersih, berbagai buah-buahan dan sayuran-sayuran segar pun masuk ke dalam kargo kapal. Sedangkan dari Tiongkok, mereka mengangkut banyak sutra, perangkat makan dari keramik, dan teh. Namun sekarang, kapal Götheborg memuat 80 orang kru yang terdiri dari 20 orang awak kapal tetap, 50 relawan, dan 10 orang ilmuwan dan wartawan dari beberapa negara termasuk dari Indonesia. Jika pada sejarah lampaunya kapal ini berfungsi sebagai kapal perang dan kapal dagang, kini fungsinya telah beralih. “For now, we didn’t brought any cargo, because this ship is a friend-ships,” ucap Peter Kaalin, Kapten Kapal Götheborg yang siang itu (22/6) menemani TC berwisata di Kapal Götheborg. Kali ini, Kapal Götheborg menjadi simbol tradisi dan budaya Swedia, sekaligus media untuk mempererat jalinan persahabatan Swedia dengan seluruh dunia.

Berwisata di Kapal Götheborg
Kapal Götheborg yang asli memang telah tenggelam ratusan tahun yang lalu, tapi sejarah tentangnya tak pernah ikut mati. Ketika para penyelam menemukan beberapa peninggalan kapal ini di bawah kedalaman laut di perairan Skandinavia pada bulan Desember 1984 lalu, maka sejak itulah proyek penelitian sejarah kapal ini dilakukan. Fisik kapal yang dominan terbuat dari kayu, bentuknya tetap dipertahankan hingga sekarang. Tinggi permukaan badan kapal yang tampak, mencapai lebih dari 5 meter. Dari data yang diperoleh, badan kapal yang sebagian lagi berada sejauh 5,25 meter di bawah permukaan air. Pada setiap dek, ada nama yang berbeda. Dek yang menjadi area wisata pengunjung adalah sun deck, weather deck, dan gun deck. Pertama kali, kaki akan menapak pada bagian weather deck. Karena dek ini adalah dek yang pertama dijangkau tangga dari tepi pelabuhan. Pada weather deck, terdapat tiga tiang utama yang besar dan kokoh. Tingginya mencapai 47 meter dari permukaan air. Menurut penuturan salah satu awak kapal, tiang ini terbuat dari kayu-kayu pinus. Ukurannya dibuat sesuai dengan desain aslinya. Kapal ini juga membentangkan layar-layar yang ukurannya mencapai 2000m². Layar-layar yang berwarna putih gading ini terbuat dari kain linen tebal tahan sobek yang dibentuk dengan jahitan manual (tangan). Pada dek yang sama, diapit diantara ruang kapten dan ruang navigasi, terdapat ruang terbuka untuk kemudi kapal. Di sana, ada satu alat kemudi yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari dari kayu berukir. Disebut steering wheel. Desainnya dibuat sangat sederhana, tanpa sistem hidrolyc. Jika cuaca sedang buruk, butuh empat orang kru kapal untuk memegang kemudi ini.
Martin Wallin, salah satu awak kapal latih, menuturkan bahwa mengendalikan steering wheel ini juga berpedoman pada arah angin. Juru kemudinya akan selalu melihat angka yang tertera pada mesin digital yang terpasang di palang kayu, dan melihat penunjuk arah angin dan cuaca pada sebuah papan kuno di dinding kiri dekat kemudi. Alat penunjuk cuaca dan arah angin ini, memang tampak sangat kuno. Di papannya tertera angka-angka romawi dan beberapa jejak lubang paku yang kosong. Konon, ini peninggalan dari budaya orang-orang Indian yang telah lama dipakai juga di atas kapal Götheborg. Berjalan ke arah hulu kapal, selain terdapat dua sekoci kayu, ada sebuah palang yang setiap pinnya telah membelit utas-utas tali layar yang tebal. Ini disebut, pin rail. Tempat tali-tali layar kapal diikatkan. Semakin ke ujung pangkal kapal, terdapat bel yang digantung dipalang kayu berwarna merah. Bel ini disebut, ship’s bell. Akan dibunyikan sebagai tanda kapal mulai berlayar dan tiba di pelabuhan. Agak naik ke sun deck yang terletak paling atas, di sana terdapat kompas berdiameter 30 cm. Sesuai dengan sebutannya, di dek ini sinar matahari dan angin laut akan segera menerpa siapa pun yang berdiri di sana. Perjalanan menengok kapal berusia 250 tahun ini, tidak terhenti sampai di sana. Pengunjung diajak menengok 10 buah meriam di ruang gun deck. Meriam dengan berat masing-masing 700 kg ini tidak digunakan sesuai fungsinya. Hanya untuk ditengok saja. Ruangan ini lebih banyak berfungsi sebagai ruang duduk dan ruang makan para awak kapal. Dari salah satu bilik kayu yang ada di dalamnya, terdapat mesin kapal dengan desain modern. Didukung oleh 2 Volvo penta diesel engine (with out put 1100hp), kapal ini mampu melaju dengan kecepatan hingga 17 knots. Area wisata ini dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu (pukul 10.00 WIB s/d 18.00 WIB) semenjak sepekan kedatangannya di Tanjung Priok – Jakarta. Sebelum memasuki kapal Götheborg, masih ada yang patut dikunjungi semacam acara pengantar. Acara pameran ini memampang sejarah kapal Götheborg di papan berderet panjang lengkap dengan lukisan dan foto-foto klasik abad ke-18. Semuanya bisa dinikmati dengan GRATIS. Momen yang tidak setiap tahun bisa dikunjungi ini, telah menjadi peristiwa pariwisata yang unik bagi perayaaan ulang tahun ke-479 kota Jakarta yang telah lalu.
(Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah wisata yang berkantor di Jakarta)

Writer: Ayu N.Andini

Tuesday, August 22, 2006

Catatan Rindu Milik Hanung

Mata Hanung terpejam lama.
Ingatannya mencoba menarik garis-garis.
Membuat gambar wajah seseorang yang belakangan ini membuatnya gelisah, terhempas, dan melayang.
Hanung masih enggan mengakui, ia jatuh cinta.
Ia lebih sering menyebutnya, “Ah, aku cuma sedang rindu saja.”
Rindu yang tak pernah berujung. Beberapa minggu ini ia cukup cemas dengan keadaan perasaannya sekarang. Hanung tak pernah berhasil melukis ujung rindunya pada lelaki itu. Setiap kali ia bertemu dengan rindu, selalu ada ajakan yang sama. Berjalan di sebuah padang rumput, dengan bunga-bunga lili dan sedap malam yang mekar segar. Wangi mawar dan tanah basah, jadi teman sepanjang jalan. Warna biru pada langit, seperti pendamping setia yang mengiringi setiap detik perjalanan yang disusurinya. Hanung berjalan di tengah padang dengan kain batik dan kebaya putih. Bau melati ada di dekat untaian rambutnya.
Padang itu begitu landai. Padang itu begitu indah. Wangi dan sunyi, ada di sana. Tapi Hanung tak pernah ingin berhenti berjalan. Padang itu seperti tak punya tepi.
Lalu wajah lelaki itu muncul pada setiap malam-malam sepinya. Muncul pada setiap hari-hari sibuknya. Muncul pada setiap sudut ingatannya. Lalu, perjalanan rindunya tak pernah Hanung cegah. Tubuhnya mulai didera pedih.
Ada kedalaman yang datang tanpa diundang. Hanung panik dibuatnya. Hanung bingung atasnya. Akan disimpan dimana semuanya?Apakah masih ada ruang untuk perjalanan ini? Apakah sang waktu akan berhenti untukku? Akan kemana aku pergi, jika tak pernah mengenal tepi? Tepian yang curam dan terjal. Berisi segala hal yang gelap dan dingin. Hanung benci pada gelap dan dingin.
Dan malam itu, tubuhnya melawan dingin dan gelap yang muncul di sekitarnya. Sudah pukul 2 dini hari. Ia baru tiba di kota itu. “Hah ! Bahkan dingin dan gelap ini, kini tak terasa.”
Hanung baru menyadari, malam itu ia tengah memburu rindunya. Gelap dan dingin, muncul menjadi padang rumput yang penuh dengan bunga lili dan sedap malam yang mekar segar. Ia melakukan perjalanan tak bertepi.
Lelaki itu membukakan pintunya untuk Hanung. Tubuhnya yang menggigil, merangsek masuk kamar, tergesa-gesa.Tangan lelaki itu kekar memeluknya.
“Bukan. Ini bukan tepinya.” Lalu lelaki itu menciumnya.“Ini juga bukan tepian yang kucari.”
Lalu mereka bercinta sampai pagi.“Bukan ini, tepinya.”
Ketika mereka bertengkar kecil di tempat tidur, Hanung berpikir, “Inilah tepian yang curam dan terjal itu.” Tapi ia tak kunjung sampai ke sana.
Bahkan ketika Hanung pulang tinggalkan lelaki itu, Hanung tak merasa tiba pada tepian padang rindunya.“Dimana ya?”
Hatinya telah terbeli. Cintanya telah mengutus pesan kepada seribu malaikat yang terbang di udara.“Demi Tuhan, biarkan aku dan dia tak pernah sampai ke tepi padang rindu milik kami.”
Lalu Hanung menatap pada terang bintang dan mulai menulis pada langit biru, “Ah, aku cuma sedang rindu saja.”
Ketika semua telah lelap, dan rinduku padamu tak pernah tertidur…
Bekasi, 20 Agustus 2006
Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Wednesday, August 02, 2006

Sisi Lain Jakarta Fair 2006


Tong sampah yang tingginya sekitar 1 meter ini, bisa penuh hanya dalam waktu 10 menit saja. Mudah-mudahan saja kru cleaning service ini tidak cepat lelah karena lauk pauk dari jatah konsumsinya lebih sering hanya tahu dan tempe saja. Jika mereka lelah, haduuuuh....Jakarta Fair yang penuh dengan pengunjung ini, bisa penuh juga dengan sampah yang kotor dan bau berserakan dimana-mana. Can U imagine that?


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Tuesday, August 01, 2006

Cerita Pak Yasin

Malam itu, tanggal 16 Juli 2006 ada acara penutupan Jakarta Fair di Arena PRJ. Ketika sudah tiba waktunya, masih banyak teman-teman wartawan yang berdiri di depan gerbang masuk Panggung Utama. "Belum boleh masuk," kata salah satunya. Alasan yang dibilang, karena koordinator bidang pers belum datang. Ada beberapa lelaki berbadan gembur berjaga-jaga di depan pagar masuknya itu. "Mau nunggu sampe shubuh, nih?" Saya mengerutu setelah aksi ngotot dari saya rada di cuekin oleh para lelaki berbadan gembur itu. Lalu saya berjalan ke arah mobil merah besar yang parkir tak jauh dari sana. DINAS PEMADAM KEBAKARAN.

Ada Pak Yasin yang temani saya ngobrol. Dari penuturannya, para kru yang terlibat dalam acara ini dapat fasilitas gratis berkunjung ke Jakarta Fair. "Tapi, teman saya yang anggota kepolisian dan bantu jaga di sini juga, beberapa hari yang lalu ajak istrinya yang lagi hamil gede datang ke sini. Niatnya memang mau ajak istrinya jalan-jalan. Tapi semua pintu menolak. Mereka berdua, "dilempar-lempar" dari pintu masuk yang satu ke pintu yang lain, sampai istrinya menyerah dan akhirnya mereka terpaksa harus bayar tiket masuk ke sini. Semuanya jadi sulit karena sebelum kejadian itu, ada beberapa kru lain yang bawa keluarganya 2 truk penuh dan masuk gratis ke sini. Sejak itu, pengawasan jadi lebih ketat. Ah, daripada dibuat jadi sulit begitu, lebih baik kami bayar tiket masuk aja deh."
Dibalik laporan "sukses" Jakarta Fair yang tahun ini mencatat raupan keuntungan hingga 560 miliar rupiah dengan data jumlah pengunjung sampai pada angka 2,51 juta orang, masih banyak sisi-sisi lain yang tak tersentuh.
Bagaimana dengan keluhan beberapa kru panitia tentang menu makan mereka (yang didapat dari jatah konsumsi panitia/kru), lebih sering dengan lauk tahu dan tempe? Bagaimana dengan sampah-sampah yang "diproduksi" selama acara ini berlangsung? Karena dari ratusan tong sampah, salah satunya bisa penuh hanya dalam waktu 10 menit. Bagaimana pula dengan keluhan Pak Yasin? Tak ada yang sampai ke telinga Ibu Ketua Panitia Jakarta Fair 2006. Semoga tulisan ini bisa terbaca.


Writer : Ayu N. Andini