Friday, January 25, 2008

Eksotika Hidangan Bali

Putih pasir pantai Kuta dan sejuk hijaunya pemandangan sawah di Ubud merupakan sebagian kecil daya tarik dari Bali. Kekentalan tradisi yang menghidupi masyarakat di Bali, selalu menjadi bahan yang tak habis menariknya untuk dinikmati dan dipahami.

Walaupun telah terjadi beberapa tragedi buruk yang memberikan pengaruh signifikan bagi terang redupnya industri pariwisata di Bali, namun mata rantai keindahan di sana seperti tak pernah berujung. Ketangguhan Bali sebagai pusat wisata Indonesia yang terkenal di seluruh dunia, telah banyak teruji. Strategi promosinya tak pernah surut berhenti.

Kegiatan promosi wisata yang diselenggarakan oleh Aryaduta Hotel Jakarta pada tanggal 13 s/d 17 Maret 2006 lalu, turut mengangkat salah satu sudut eksotik milik pulau Dewata ini. Acara “Promosi Makanan Bali” di JP Bistro Restaurant – Aryaduta Hotel Jakarta memberikan lebih dari 60 macam hidangan istimewa racikan “guest chef” Ketut Sukarta yang sengaja didatangkan dari Grand Hyatt Bali.

Secara garis besar, Ketut Sukarta membaginya dalam dua kelompok besar, yaitu hidangan yang berhubungan dengan berbagai upacara adat di Bali dan hidangan yang biasa dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat Bali.

Hidangan Pada Saat Upacara Adat di Bali

Tradisi yang melekat erat pada urat nadi kehidupan masyarakat Bali, tampak pada berbagai upacara adat yang acapkali dilaksanakan. Dari mulai upacara kelahiran bayi hingga pada acara rutin di tempat-tempat persembahyangan umat Hindu, orang-orang Bali telah terbiasa untuk menyajikan berbagai hasil bumi sebagai simbol dari rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa terhadap anugerah dan berkah yang mereka terima.

“Setiap saat jika kami ada upacara di pura, masyarakat Bali selalu memberikan persembahan yang berupa hasil-hasil bumi yang dirancang sedemikian rupa sehingga bentuknya menarik dan hati kita jadi senang untuk datang ke tempat persembahyangan. Setelah upacara adat, ada acara makan-makan bersama juga. Nah, kami membuat persembahan yang istimewa juga supaya ada yang bisa dikonsumsi setelah upacara. Makanan yang dimasak misalnya, lawar, sate lilit, dan babi guling, yang dimakan dengan nasi. Itu masuk ke menu utama/main course. Ada juga dessert nya yaitu pisang rai dan klepon yang juga kami sajikan untuk acara hajatan dan upacara adat lainnya,” papar Ketut Sukarta.

Menu utama yang biasa disajikan pada saat upacara adat, salah satunya yaitu lawar. Lawar sebenarnya adalah sebutan untuk sejenis racikan bumbu khas Bali yang biasanya dicampurkan dengan berbagai sayuran. Dari sana, muncul banyak kreasi masyarakat yang mulai mencampur lawar ini dengan daging sapi dan babi.

Mengenai lawar, Ketut berpendapat, “Basic dari lawar adalah sayuran yang kita inginkan sesuai selera, seperti kacang panjang, nangka, kelungah (buah kelapa yang paling muda). Selain itu juga ada lawar babi dan lawar sapi. Yang penting itu, bumbu lawarnya.”

Pada hari pertama “Promosi Makanan Bali” siang itu, dihidangkan jenis lawar yang terbuat dari sayuran. Lawar kacang panjang.

Cara memasaknya, kacang panjang yang telah matang direbus, diiris tipis-tipis. Sedangkan bumbunya dihaluskan lebih dahulu dan ditumis hingga matang. Setelah aromanya tercium harum, lalu didinginkan. Kemudian masukkan irisan kacang panjang dan aduk hingga merata dengan bumbu lawarnya, lalu tambahkan sedikit perasan jeruk limo. Rasanya memang menjadi lebih gurih dan wangi.

“Ciri khas masakan ini ada pada bumbu kencurnya yang dominan. Disamping itu, kemiri juga dipakai sebagai pelengkap,” ujar Ketut berbagi rahasia resep lawar kacang panjang.

Beralih ke deretan tungku kecil, tersaji menu Ayam Bakar Bali.

“Menu Ayam Bakar Bali selalu identik dengan celebration. Pada upacara kelahiran anak, atau sembahyang ke pura, kami selalu menyajikan ayam bakar ini. Bumbunya pakai kencur dan terasi. Daging ayamnya direndam dalam bumbu dulu, kemudian diberi olesan campuran bumbu kencur dan terasi itu,” ujar Ketut.

Selain itu, ada menu yang dikenal dengan sebutan Tum bebek. Ketut mendeskripsikan bahwa, “Hidangan ini ada hubungannya dengan upacara keagamaan. Karena selalu tersaji pada setiap upacara adat, masyarakat Bali tidak asing lagi untuk membuatnya. Menu ini dibuat dari daging bebek yang dicincang halus, kemudian dibubuhi bumbu genep Bali. Dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus hingga matang.”

Yang dimaksud dengan bumbu genep di sini adalah bumbu yang lengkap. Terdiri dari beberpa bumbu khas masakan Bali yaitu cabe, terasi, kencur, bawang merah, dan jahe. Selain itu ada pula lada, daun kemangi, daun jeruk, sereh (lemon grass), laos, dan bawang putih. Semuanya adalah rangkuman semua bumbu yang sering dipakai pada masakan Indonesia.

Pada meja yang sama, terhidang menu Babi Guling. Salah satu menu utama yang juga disajikan pada upacara-upacara adat Bali ini punya keunikan kombinasi rasa. Babi guling dipanggang utuh bersama bumbu daun singkong yang dimasukkan ke dalam rongga perutnya. Mengenai keunikan cara masaknya, Ketut memaparkan, “Tujuannya adalah agar kita tidak perlu repot memasak sayuran lagi. Cukup kita titipkan sayuran ini dalam perut babi guling. Jadi, sayurnya bisa matang bersamaan dengan daging babinya. Babi guling selalu disuguhkan dalam upacara keagamaan, upacara kelahiran anak, sampai ke tempat persembahyangan.”

Dalam deretan belanga-belanga kecil, terdapat aneka sambal sebagai sajian penambah aroma dan pembangkit selera makan para penikmat menu-menu makanan Bali. “Ini sambal mentah, sambal ini hanya ada di Bali. Sejarahnya, pada jaman dulu, ketika masyarakat Bali masih sulit mendapatkan daging hewan selain ikan, dan kehidupan sehari-harinya masih sangat sederhanan dan bergantung pada hasil pertanian dan kebun-kebun kecil yang ada dipekarangan rumah, muncullah inisiatif untuk membuat racikan sambal mentah ini. Sambal ini dibuat dari irisan-irisan cabe merah, bawang merah,dan sereh (lemon grass) kemudian diaduk rata sambil dibubuhkan sedikit garam. Menurut resep aslinya, menggunakan sedikit minyak kelapa yang beraroma daun papaya dalam campurannya. Tapi bisa juga pakai minyak goreng biasa. Terakhir, berikan juga sedikit perasan jeruk limo,” ucap Ketut bercerita panjang lebar. Sambal mentah, sambal cuka, sambal kecap, disiapkan untuk dinikmati dengan aneka pilihan menu utama.

Pada stole terpisah, dihidangkan aneka buah tropis yang dirangkai dalam sebuah gedogan setinggi ±50 cm. Ada pula aneka penganan manis yang disajikan di atas rangkaian janur dari daun kelapa. Ada Pisang Rai, Klepon, Dadar Gulung, Kue Apem, Onde-onde, Kue Lapis, dan lain-lain. Warna-warninya mengundang selera. Ketut yang siang itu menjadi pemandu wisata kuliner RESTO, menjelaskan, “Ini adalah jajan pasar. Termasuk sebagai suguhan dalam upacara agama. Selain buah yang dirangkai dalam satu gedogan, di atasnya ditaruh pula aneka jajan pasar ini. Tujuannya tidak lain adalah utk mengucap terima kasih pada Yang Maha Esa.”

Pisang Rai, penganan khas Bali yang dibuat dari pisang berbalut adonan tepung dan direbus dalam air mendidih hingga matang. Setelah itu, diberi baluran kelapa muda yang diparut. Cita rasanya manis dan gurih.

Hidangan Khas Bali yang Dikonsumsi Sehari-hari

Disamping menu yang berhubungan dengan upacara-upacara adat dan keagamaan, ada juga beberapa resep warisan yang diturunkan pada olahan-olahan makanan sehari-hari bagi masyarakat Bali. Tambusan be Pasih, adalah sajian lauk pauk yang dibuat dari daging ikan kakap dengan campuran daun kemangi dan daun jeruk. Dibungkus dengan daun pisang, lalu dimasak matang di atas bara api. Aroma yang menyeruak adalah wangi daun kemangi. Daging ikan menjadi lembut dan gurih, sedap disantap dengan nasi panas dan tambahan sambal mentah atau acar wortel.

Selain itu, menu klasik lainnya adalah Timun Mesanten. Mengenai menu sayuran ini Ketut menyatakan, “Ini resep klasik. Supaya buah ketimun bisa diolah bervariasi, dipakailah tambahan santan dan aneka bumbu didalamnya. Ketimun yang sudah dibuang bijinya, dibelah dua lalu diiris dan dimasak bersama bumbu dan santan kelapa. Hampir sama juga dengan menu Sayur Kacang Panjang, Cuma beda bahan baku sayurannya saja.”

Pencok Jagung, juga salah satu menu sayuran khas Bali yang disantap sebagai makanan sehari-hari. Ditinjau dari letak geografis, Bali memang tak berjauhan dengan bagian timur pulau Jawa. Hingga pengaruh pilihan makanannya pun mirip dengan jenis makanan utama yang ada di Madura. Menurut resep khas Bali, jagung sebagai bahan baku sayuran ini dimasak tumis dengan campuran bumbu kencur. “Karena ditinjau dari pendapatan masyarakat Bali pada waktu itu berasal dari hasil pertanian, maka aneka makanannya juga tidak luput dari apa yang dimiliki masyarakatnya,” ujar Ketut mengulas sedikit latar belakang resep warisan ini.

Eksotika wisata kuliner ini juga ada pada resep asli menu Kol Sejuk dan Ikan Asin. Hidangan ini dibuat dari daging ikan tuna yang dibakar dan campuran kuah pindang ikan dan saus yang terdiri dari irisan cabe, bawang putih goreng, bawang merah, dan perasan jeruk nipis.Cita rasa daging ikan tuna yang lembut dan gurih, dikombinasikan dengan kuah pindang, potongan sayuran kol putih dan sausnya yang asam pedas, dapat menggugah selera makan.

Deretan menu lainnya ada Ikan Kalas (sop ikan) yang dibuat dari campuran kuah bersantan dan daing ikan kakap merah. Ada pula Ayam Kelalah, suwiran daging ayam panggang yang dimasak dengan bumbu sambal terasi.

Terakhir, ada penganan manis yang disebut Bubur Injin. Terbuat dari ketan hitam hasil pertanian masyarakat Bali. Pada campurannya diberi gula dan disajikan dengan santan kental di tasnya. Begitu pula dengan Weton Bedil yang dibuat dari ubi jalar yang biasa tumbuh di kebun sekitar area rumah tinggal masyarakat Bali. Dua macam hidangan ini biasa disantap sehari-hari sebagai makanan penutup.

Ketut Sukarta berpendapat tentang hidangan Bali ini, “Dari tampilannya secara global, makanan yang berhubungan dengan upacara keagamaan itu yang cenderung dikategorikan sebagai hidangan eksotik. Karena penyajiannya yang unik. Memakai rangkaian daun pisang, atau pun janur. Itu yang bisa kita sebut dengan eksotik. Sedangkan dari segi cita rasanya, makanan Bali punya cita rasa eksotik dari cara memasak maupun campuran bumbu kencur dan sambal terasinya yang mendominasi pada hampir semua jenis makanan utamanya.”

Eksotika hidangan Bali sebagai kekayaan kuliner asli Indonesia, menjadi tawaran menarik bagi peminat wisata di seluruh penjuru dunia. Sebuah keindahan dan kenikmatan yang hanya berpulang pada selera setiap orang. Bagaimana dengan Anda?

Tulisan ini telah dimuat dalam sebuah majalah food and life style yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle: Bali Stole

Absolutely Korean



Korea, negara yang banyak dikenal sebagai tempat penyelenggaraan berbagai pertemuan dan turnamen olahraga tingkat dunia. Dari keindahan pemandangan dan warisan budayanya yang khas, Korea pun punya banyak tawaran istimewa untuk para turis yang datang ke sana.


Korea terletak di Semenanjung Korea, bagian timur laut dari benua Asia, dan berbatasan dengan bagian barat Pasifik. Sekitar 45 % wilayah Korea, ditetapkan sebagai wilayah yang subur dan dapat ditanami. Negara empat musim dengan banyaknya sungai panjang dan anak-anak sungai yang mengalir di daratan Korea, menjadi nilai tambah untuk tingkat kesuburan tanah dan kekhasan konsumsi makanan di sana.


Sedikit gambaran tentang Korea, dilukiskan oleh Hotel Borobudur dalam acara promosi masakan Korea dengan judul “Absolutely Korean”. Bekerja sama dengan J&S Indonesia, acara ini digelar di Bogor Café Hotel Borobudur Jakarta, pada tanggal 6 s/d 15 Maret 2006 lalu. Pada malam pembukaannya, dimeriahkan dengan suguhan tarian Korea dari para gadis berbusana hanbok. Busana tradisional Korea dari kain berwarna kuning, hijau, dan merah terang.


Dengan mengundang Park Su-Yong, seorang guest chef asli dari Korea, setidaknya akan mengantar Anda pada kenikmatan aneka menu makanan khas Korea. Sepanjang acara promosi ini, akan tersaji lebih dari 100 macam hidangan Korea di Bogor Café.


Dari deretan menu yang terhidang pada malam pembukaan tanggal 6 Maret lalu, tampak bahwa konsep yang akan diangkat oleh guest chef Park Su-Yong adalah empat kelompok besar menu populer dari Korea. Pertama, hidangan berbahan dasar ikan, kepiting, daging sapi dan ayam. Kedua, hidangan dari bahan dasar sayuran. Ketiga, hidangan dari bahan dasar ginseng. Dan terakhir adalah kelompok makanan manis dari olahan tepung beras dan kacang merah serta satu jenis minuman khas Korea.


Aneka Olahan Daging dalam Menu Spesial Korea

Dari resep rahasianya, Park Su-Yong menyajikan Steam Crab. Dibuat dari kepiting berbumbu yang direbus, diberi minyak wijen daan kecap konchou, serta taburan biji wijen di atasnya.


Ada pula Steamed Red Sea Bream. Dari ikan kakap merah segar yang di steam dan disajikan utuh dengan siraman racikan bumbu dari kecap kikoman dan minyak wijen. Terakhir, diberi taburan biji wijen pula di atasnya. Daging ikan kakap yang tebal, bertambah gurih dengan siraman saus khas Korea.


Untuk Beef Sweet and Sour Sauce, dibuat dari irisan daging sapi yang dimasak dengan dua macam saus. Saus asam dan manis, jadi kombinasi rasa yang unggul dari masakan ini. Racikan bumbu dari kaldu daging sapi, kecap kikoman, biji wijen, paprika, dan sedikit bawang putih, menambah aroma sedap masakan ini.


Hidangan utama lainnya adalah Sea Food Fried Rice Korean Style. Menu ini terbuat dari beras pilihan yang diolah dengan resep asli Korea. Terdiri dari campuran beberapa bahan dasar, antara lain telur, irisan cabe hijau dan cabe merah, bawang merah, potongan-potongan daging cumi dan udang. Menu nasi goreng memang sudah banyak dikenal di Indonesia, tapi ada aroma khas yang tidak bisa Anda temukan pada nasi goreng Indonesia, dan hanya ada pada nasi goreng bergaya Korea ini. Tercium aroma harum khas dari minyak wijen yang dipakai di dalam proses pematangannya.


Dry Archovies, jenis hidangan pengiring yang juga dinikmati dengan nasi hangat. Terbuat dari ikan-ikan teri kecil yang digoreng hingga matang dan ditumis bersama bumbu-bumbu lainnya. Tambahan paprika menambah sedap rasa dan kombinasi warna dari tampilan hidangan ini di meja makan.


Menu lainnya yang diolah dari bahan sea food adalah Fish Pa-Jun.


Adonannya terdiri dari campuran tepung, telur, baking powder, irisan daun kucai, dan potongan-potongan daging ikan, octopus (gurita kecil), serta udang. Cita rasanya yang gurih, cocok dinikmati dengan secangkir teh atau kopi panas. Agak mirip dengan rasa Bakwan Udang dari Indonesia. Tapi Fish Pa-Jun punya cita rasa sea food yang lebih dominan.


Variasi Menu Kimchi


Adat dan kebiasaan konsumsi makanan di Korea, beradaptasi dengan keadaan dan kondisi alam yang menghidupi mereka. Empat musim yang terus menerus berganti dalam setiap tahunnya, mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat di sana. Pada awalnya, Kimchi adalah sejenis makanan yang dibuat pada musim gugur dan dikonsumsi ketika musim dingin tiba. Kimchi, resep yang turun temurun terpelihara dan berjalan hingga sekarang. Sebuah teknik pengawetan makanan yang juga menghasilkan jenis makanan dan memberikan banyak keuntungan bagi kesehatan tubuh yang mengonsumsinya. Dari proses fermentasi yang terjadi pada saat pembuatan Kimchi, ada banyak zat bermanfaat yang terkandung di dalamnya. Ada beberapa peneliti yang mengatakan, bahwa semakin sering kita mengonsumsi Kimchi, maka akan semakin jarang orang yang akan berobat ke dokter. Ada beberapa dugaan, bahwa Kimchi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh seseorang bila mengonsumsi Kimchi secara teratur. Sebagian peneliti berpendapat pula bahwa Kimchi dapat mencegah serangan penyakit kanker.


Kimchi telah menjadi jenis makanan tradisional Korea yang terkenal ke seluruh dunia karena khasiat kesehatannya. Kimchi sebenarnya adalah sejenis campuran berbagai sayuran yang diasamkan. Biasanya sayuran yang diasamkan ini adalah ketimun oriental, daun bawang, kubis, dan lobak. Dalam acara promosi makanan Korea malam itu, Park Su -Yong menyajikan 4 jenis variasi olahan Kimchi. Sweet White Kimchi, varian Kimchi dari sawi putih. Kimchi Bar, juga saalah satu jenis Kimchi yang dibuat dari ketimun oriental. Spicy Cabbage Kimchi, dan Kimchi Zuchini ikut tersaji dalam deretan hidangan Kimchi malam itu.


Kimchi, biasa dikonsumsi bersama nasi putih dan lauk pauk. Bisa juga dimakan langsung tanpa tambahan makanan lainnya. Untuk kita yang tak terbiasa mengonsumsi Kimchi, akan sedikit terkejut dengan rasa kecut asamnya.


Makanan khas Korea dari bahan non hewani dan tergolong dalam deret menu utama adalah Jab Che. Ini jenis masakan yang juga menggunakan minyak wijen dalam proses pengolahannya. Memakai soun yang dibuat dari sari kacang hijau, dan dimasak dengan campuran paprika, dan sedikit bawang merah.

Appetizer dan Jus dari Ginseng Korea


Appetizer yang disajikan ini diolah dari bahan dasar ginseng putih asli Korea. Diberi nama, Ginseng Tempura. Dibuat dari ginseng putih Korea yang dicampurkan dengan adonan tempura, dan digoreng hingga matang. Disajikan lengkap dengan saus kecap manis bertabur biji wijen. Rasa ginseng yang agak pahit di lidah, dibuat menjadi gurih dan terasa lebih manis dengan racikan bumbu kecap penyertanya.


“We have many menu of ginseng. Ginseng tempura, ginseng satay, and ginseng salad,” ujar Park Su -Yong. Ginseng tak terlalu sering dipakai dalam olahan makanannya karena dianjurkan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi ginseng. Ginseng berfungsi untuk menghangatkan temperatur dalam tubuh. Biasanya lebih sering dikonsumsi pada saat musim dingin. Akan menjadi mabuk bila terlalu banyak menikmati ginseng di sini.


Seusai makan malam, para tamu disuguhkan Ginseng Juice. Minuman dingin yang dibuat dari sari ginseng dan ditambahkan sedikit madu untuk pemanis dan penambah aromanya. Rasanya malah jadi lebih mirip dengan susu kedele.


Penganan Manis Dari Korea


Bila dilihat dari tampilan-tampilannya, penganan manis asli Korea tak jauh berbeda dengan kue-kue tradisional dari Indonesia. Yang membedakannya hanya beberapa bahan dasarnya saja. Misalkan, untuk aneka Rice Cake yang tersaji, semuanya dibuat dari bahan yang sama yaitu tepung beras. Song Pyun, kue tepung beras berwarna hijau tua dan putih bersih ini dibuat dari adonan yang dibentuk setengah lingkaran dengan isi yang sama, kacang merah giling ditengahnya.


Kue tepung beras lainnya, berbentuk kubus-kubus kecil dengan baluran kacang giling halus dipermukaannya. Lalu, ada pula yang berwarna agak merah keunguan. Ini juga kue manis dari tepung beras yang dilumuri kacang merah tumbuk di atasnya.


Minuman manis yang dihidang dingin, juga tersedia di deret meja yang sama dengan penganan-penganan manis ini. Disebut, Cinnamon Punch. Minuman manis dengan aroma kayu manis yang dominan, semakin manis dengan taburan kacang dari biji bunga matahari di atasnya.


Sampai di sini, jelajah kuliner tak akan pernah berhenti mencoba segala cita rasa masakan dari berbagai negara. Korea, hanyalah salah satu dari untaian mutiara kekayaan kuliner dunia.


Tulisan ini telah dimuat dalam sebuah majalah food and life style yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle: Ginseng Juice

Tuesday, October 30, 2007

Turun ke Bumi


Tahukah kau?
Sayap yang sedang tumbuh itu,
sekarang harus kucabut dari punggungku.
Kini aku sedang membuang sebagian dari tubuhku.

Tahukah kau?
Dahulu...

Ketika tulang-tulang sayap itu baru menjadi tunas,
ada rasa sakit yang luar biasa.

Tahukah kau?
Helai-helai bulunya tumbuh
dari semua mimpi dan harapanku.

Tahukah kau?
Telah ada sebuah peta kugambarkan untuk perjalanan ini.

Tahukah kau?
Aku tetap memutuskan untuk terbang tanpa sayap.
Terbang meluncur tak berteman peta
bukan menuju langit.
Mencapai jurang gelap.
Meninggalkan semua kegelisahan dan
Berteman akrab dengan hasrat yang carut marut.

Bagiku, diammu adalah jawaban
atas semua kesia-siaan waktu dan musim.

Baiklah..
Kini aku pergi,
untukMu.


Writer: Ayu N. Andini
Image tittle: Tears of heaven..
(Taken from Talaria website)

Monday, September 24, 2007

My Progress

Setidaknya, belalang bisa tahu
mana rumput yang rasanya lebih manis di mulut.

Setidaknya, tikus tanah juga bisa merasakan
kapan matahari akan datang.

Setidaknya, kutu-kutu busuk
juga bisa memilih kursi mana yang empuk untuk didiami.


Setidaknya, alam mengenalku
walaupun kami tidak terlalu akrab.

Aku selalu punya cara sendiri untuk bisa merasakan cintanya,
yaitu dengan memberikan semua cintaku padanya.

Kepada Tuhan,
terima kasih atas semua berkahmu.

Aku tahu,
walaupun orang lain selalu bilang aku ini beruntung,
tapi aku bisa mengerti itu.

Mereka tak terlalu mengenalku...
cuma Kau yang mengenalku dengan sangat baik.
Sejak Kau tulis namaku dalam buku kehidupan dan kematian.

Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle: Into The Gate

Monday, September 17, 2007

Jika Insting yang Menang


Karunia yang diberikan, kadang tak jadi perhitungan
untuk disadari dan patut disyukuri..

Manusia diberi otak dengan jutaan jumlah sel.
Manusia dikaruniai insting yang hingga sekarang,
tak kutahu dimana tempatnya.

Apakah insting itu ada di otak,
atau dia hanya ada di hati..?

Insting banyak muncul ketika manusia berada dalam posisi terdesak...
Apakah karena lapar maka ia harus membunuh?
Apakah karena miskin tak berharta maka ia harus menipu?
Apakah karena cinta dan hasrat maka ia harus mulai belajar berdusta?

Jika jawabannya adalah : iya,
maka insting yang menang.
Kejujuran dan kebaikan,
boleh hengkang selamanya dari sini?

Kalau itu yang terjadi, maka akulah yang mati.




Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Photo Tittle : The Victim

Wednesday, September 12, 2007

Great Ramadhan Greetings



Image are designed by image trailer chef
Writer: Ayu N. Andini

Monday, September 10, 2007

Musim Bercinta



Musim kemarau,
membiarkan pohon mangga berbunga lebat
membiarkan matahari menari lebih lebih lama
kerlip sinarnya menyambar memedihkan pandangan mata
hinggap di atas tanah hingga mengeras membatu
datang ke ujung-ujung daun jagung yang menguning
mengundang serta musim meranggas singgah
di pohon akasia pingiran jalan.

Tak perlu kemarau berlama-lama mengundang angin pancaroba,
ia akan menyapa daun-daun pohon jati
melibas batang-batang tua pohon sekitar pantai
juga mengantarkan sakit flu ke setiap kulit yang dibelainya.

Awan abu-abu bergulung
membungkus dan menggelapkan bumi
mengusir matahari.

Hujan datang ke celah-celah tanah,
pada daun-daun perdu,
menyiksa batu-batu di sungai,
dan merontokkan kembang-kembang rambutan
yang sedang mekar.

Tak ada musim semi yang anginnya sejuk
dengan salju yang mencair, matahari hangat,
dan mekarnya bunga-bunga tulip dan crysant.

Kita cuma bisa bercinta di dua musim.
Ketika bumi basah dan ketika matahari marah.

Semoga,
kelak anak kita akan semanis musim semi,
sehangat dan seterang matahari,
juga setegar batu yang kerap disiksa hujan.


I Love You...M !

Writer : Ayu N. Andini
Photo by : Ayu N. Andini
Photo Tittle: The Full Colour of Banyuwangi

Sunday, September 09, 2007

Slowdown Baby...
















Baru tadi pagi kau ajak ku berkenalan
Lalu siang hari kau mulai ajak ku berkencan
Hingga waktu malam tiba,
kau ucapkan yang tak kuduga
Sungguh sulit ’tuk percaya,
kau nyatakan cinta !!

No! No! No ! No! Tunggu dulu!
Cinta jangan buru-buru
Karena kurasa terlalu cepat
Ku takut semua palsu!

No! No! No! No! Tunggu dulu
Cinta jangan buru-buru
Masih ada banyak waktu
Biarkan cinta mengalir!!

Slowdown baby..
Take it eazy,
Just let it flow !!!!

Ilustration text taken from SHE lyrics
Image Tittle : Slowdown baby...
Photo by Ayu N. Andini

Wednesday, September 05, 2007

Happy Birthday, Adhi


Live up your life!
And forget your age..!

Happy Birthday..Adhi
Being single is not your fault.

kamu tau, kan...
Matahari itu bukan pasangannya bulan...
Matahari dari dulu sampai sekarang juga sendirian.
seperti halnya bumi...!

Being single is the best time that you ever had...
Trust me!

Kepada teman lamaku, Adhi Pramudya
Lelaki bawel di Sastra Arab pada zamannya...


Writer : Ayu N. Andini
Image are creatred by image chef


Monday, September 03, 2007

A Thousand Miles


Making my way downtown
Walking fast faces pass
And I'm home bound
Staring blankly ahead

Just making my way
Making a way through the crowd
And I need you

And I miss you
And now I wonder....

If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
'Cause you know I'd walk a thousand miles
If I could just see you ..
tonight !

Ilustration taken from Vanessa Carlton lyrics.
Photo Tittle : Through My Feet
Photo by Ayu N. Andini

Thursday, August 30, 2007

Membumi


Untuk apa manusia dikaruniai mata yang indah?

agar ia mampu melihat segala yang juga buruk.


Untuk apa manusia dikaruniai hati yang busuk?

agar nanti ada manusia lain yang disakiti olehnya.


Mengapa Tuhan membiarkan manusia disakiti?

agar manusia bisa benar-benar menghargai apa artinya bahagia...



Writer: Ayu N. Andini
Tittle image: My Earth
Photo and design image by Ayu N. Andini

Friday, August 03, 2007

Plesiran


Tahukah ketika diri disergap banyak pertanyaan,
mencari jawaban, ternyata bukan jalan keluar terbaik.
Maka, bercerminlah sering-sering.

Tahukah ketika simpanan masa lalu dalam peti brankas
yang terkunci rapat dan kau tanam di tengah hutan perawan,
kau gali kembali?
Ternyata, tak akan masa depan yang kau lihat di sana.
Cuma ada carut marut luka lama yang kering dan sembuh,
dan luka, dan kering, dan sembuh...
begitu terus menerus...membuang sisa usiamu.

Tahukah kau ketika kau diserang rasa:
sauhmu menemukan laut dan samudera yang ingin kau arungi?
Maka masa depan sedang kau lukis di kedalamannya.

Jauhkan hidupmu dari rasa jengah kepada badai.
Karena badailah yang akan menjadi sahabat terdekat hati kalian berdua.


Ada tumpukan harapan dan doa terbaik saya, untuk pernikahan kalian.
(this poem is a wedding gift for my best friends : Abah Dony dan Noor)


Writer : Ayu N. Andini
Image by National Geographic

Thursday, August 02, 2007

Konyolisasi


Konyol kalau kubilang,
ketika masyarakat Indonesia kala itu menghargai para selir raja.

Konyol kalau kubilang,
ketika para Raja diijinkan punya permaisuri sekaligus selir-selir.

Konyol kalau ada yang bilang,
bahwa agama membolehkan para suami untuk berpoligami.

Konyol juga, kalau misalnya...
nasib sejarah Indonesia direpotkan oleh urusan selir, poligami, dan perceraian.

Hah!!!!!!!!
Hasrat memang sangat liar.
Tak ada tembok kokoh untuk membatasi yang satu ini.
Tak ada tirani untuk memenjarakan yang namanya birahi.
Tak ada yang bisa menahannya.

Karena yang namanya kesetiaan,
ia berwajah selembut ibu,
berperilaku semulia bidadari,
berkulit halus seperti permaisuri,
dan sedikit cengeng.
Sangat rentan dengan segala hal!
Sangat lemah di segala sisi!

Maka, akan sangat konyol kalau semua manusia,
juga masih menyalahkan setan iblis yang berbuat itu pada dirinya.
Berbuat tidak setia,
melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kecil,
dan pengingkaran terhadap keadaan-keadaan faktual dirinya.

Manusia memang konyol...
dan pembohong.


Writer: Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Exist

Sunday, July 29, 2007

Farewell Party


Waktu itu, aku lari-lari
di tengah pematang sawah
di belakang rumah nenekku
di Banjaran, Kabupaten Bandung sana. Haha..
Agak sulit menyusuri jalan pematang yang sekecil itu, dengan tubuh gempalku.
Kakiku masih mungil waktu itu. Usiaku, masih 3 tahun.

Waktu itu, ayahku memanggilku pulang,
tapi aku cengar cengir...sambil pegang-pegang ujung daun-daun padi..
Lalu ayahku berjalan mendekat...
Waaaaa..aku cepat-cepat berlari.. Kami tertawa sama-sama..
Lalu dia berhasil menangkap tubuh gempalku.
Dan ibuku memotret aku dan ayahku
di tengah pematang sawah..

Rinduku pada ayahku sudah memuncak...
Tak cukup lagi hanya memandang nisannya..
Tak henti doa kuucap untuknya...
Aku ingin memeluknya..
Kepada siapa aku menuntaskannya?
Bagaimana aku menuntaskannya?
Tuhanku,...berikan cara untukku!


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : Being Central

Saturday, July 28, 2007

Pesta Untukmu, Anak Indonesia


Perayaan puncak Hari Anak Nasional 2007 yang melibatkan sekitar 6.000 anak, digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.

HAN 2007 juga diperingati di berbagai tempat secara mandiri. Satu di antaranya, oleh Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Peringatan Hari Anak Nasional 2007 dirayakan di sana tanggal 19 Juli 2007. Panitianya nota bene para aktifis di lingkungan Komnas Perlindungan Anak, Jakarta. Tamu istimewa yang ditunggu-tunggu pada hari itu, tak lain adalah anak-anak jalanan yang diundang datang dari daerah Depok, Jawa Barat dan PKBM Kurnia di Kramat Jati, Jakarta. Jumlahnya ada 100 anak. Dari mulai yang usianya masih 5 tahun s/d 18 tahun. Kedatangannya ke tempat perayaan, tak sendiri-sendiri tapi berbondong-bondong, didampingi pembina/pembimbingnya masing-masing. Komnas Perlindungan Anak mendadak ramai hari itu.

Pagi itu acara dibuka dengan Ngopi Bareng Komnas Perlindungan Anak dan rekan-rekan dari berbagai media massa. Di sana, masalah-masalah anak Indonesia dikuak dan dibahas sekilas. Komnas Perlindungan Anak meninjau ulang tema Hari Anak Nasional versi pemerintah tahun 2007 ini. Dalam lembaran siaran persnya, disebutkan : bermaknakah Hari Anak Nasional (HAN) 2007 terhadap kompleksitas persoalan anak yang melanda negeri ini?

Bagaimanapun, Komnas Perlindungan Anak dengan segera melakukan upaya refleksi dan memilih merayakan HAN 2007 bersama selingkup kecil anak-anak jalanan. Sebagian anak yang kurang beruntung dan dimarginalkan ini, hingga kini tak mampu tertangani dengan baik oleh pemerintah.

Anak-anak Indonesia sesungguhnya dirundung berbagai masalah. Namun, bagaimana pun, anak-anak tetap anak-anak. Mereka tetap melompat riang, bernyanyi, tersenyum, dan tertawa lucu ketika Kak Seto naik ke panggung, memainkan boneka-bonekanya serta mengajak anak-anak jalanan ini bergembira sama-sama. Selain dihibur, anak-anak ini juga dapat ransum makan siang, kue-kue, dan bingkisan-bingkisan dari penyelenggara acara.

Walaupun hanya sebentar saja, tapi mereka diberi hak untuk itu. Untuk bergembira sebagai anak-anak. Esok, mereka kembali pada kehidupan keras di jalan. Menjadi penyapu kereta api, menjadi pengamen jalanan, tukang ojek payung, pemulung, penjual koran, dan banyak lagi.

Yusuf, anak jalanan yang putus sekolah. Usianya kini 18 tahun. Ia datang dari Depok untuk ikut rayakan HAN 2007 di Komnas Perlindungan Anak hari itu. Sekarang ia sedang meneruskan SMAnya di Yayasan Bina Insani Mandiri (YABIM), Depok. “Disini sekolah gratis. Saya juga jadi tukang bersihin sekolah saya sendiri di SMA YABIM Depok. Dulu, saya sempat jadi tukang sapu di kereta. Sekarang saya mau nerusin sekolah. Saya juga ingin, teman-teman saya sesama anak jalanan bisa menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mau jadi polisi, mbak,” ucapnya sambil senyum malu-malu.

Ia hanya segelintir kecil anak jalanan yang punya harapan. Walau sedikit yang termotivasi, tapi ini bisa jadi modal besar untuk mengajak anak-anak lainnya emnggantungkan cita-cita setinggi langit.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, dan berkantor di Jakarta.
Baca juga liputan lengkap Hari Anak Nasional 2007
Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Wings of Hope

Wednesday, July 25, 2007

Spektakuler tapi Tidak Terlalu Istimewa


Umurnya sudah kolot.
Sekitar 400an tahun lebih.
Udah banyak yang mati gara-gara kurang makan di sini.
Udah banyak yang kalah dan menyerah di sini.
Udah banyak yang dibunuh preman di kota ini.
Udah banyak yang diculik dan diperas di sini.
Udah banyak yang jadi korban perampokan di kota ini.

Mungkin karena keberatan nama dan status, Jakarta jadi begini.
Ibu kota negara. Tempat utama kunjungan kenegaraan, ya di sini juga.
Apakah mereka yang jadi penghuni asli Jakarta
juga bangga punya kota yang se-semrawut ini?
Nggak tau juga, aku belum pernah bikin angketnya.
Tapi kayaknya kalo ditanya betah atau nggak, mereka akan lebih banyak menjawab begini:
"Yaaaa..gimana ya? Saya lahir di sini, besar di sini, cari uang di sini.
Nyaman? yaaaa..gimana yaa?"
Haha...pasti mereka tak punya pilihan.

Apakah yang sekarang jadi penduduk Jakarta,
juga mengenal kota ini sebaik dia mengenal kota lainnya?
Jawabnya, belum tentu.
Jakarta, misterius.
Segala sesuatu bisa terjadi di sini.

Saya bisa bilang kota ini metropolis norak,
karena gayanya yang setengah-setengah.
Membuat image metropolis, tapi nanggung banget.
Jadi..mmmm..rasanya, seperti orang pacaran
yang cuman pandangan mata doang. Nggak ciuman, nggak pelukan.

Katakanlah...sepertinya kurang afdol.

Maka nya, gaya metropolisnya jadi norak.
Ya..maaf juga kepada para pendukung gerakan metropolis di kota ini.
Anda-anda ini memang pribadi yang urban.
Jadi..memang tak akan bisa jadi afdol.

Kota ini seharusnya menjadi kota tempat orang-orang pekerja keras.
Tapi budaya "anak titipan" dan sogokan untuk masuk ke sebuah perusahaan, woooo..di Jakarta, jangan di tanya. Buanyaaak...!!

Tapi buat yang masuk dan terseleksi resmi
untuk dipanggil dan bekerja di kota ini, ya..selamat!!!
Ini memang kota buat kalian. Buat kita.
Maka habiskan waktu kalian untuk jadi profesional jempolan.
Karena Jakarta sudah memanggilmu untuk datang menjelajahi tubuhnya.

Welcome to Jakarta!!!
Be Brave..!!!
Untuk Ojie dan Michael


Writer: Ayu N. Andini
Image are created by image chef

Wednesday, July 18, 2007

How can I pretend that I don't now what's going on?

Di Bandung, kota sejuk yang nyaman itu, masih juga banyak anak-anak gelandangan di setiap simpang jalan dan lampu merah pusat kotanya. Yang ngamen, yang minta-minta, yang nge-lap kaca mobil, banyak..!

Di Jakarta? Jangan tanya. Gelandangan yang kategorinya paling lengkap memang ada di sini. Dari manusia yang umur 1 hari sampai kakek nenek jompo juga ada.

Waktu hari Sabtu (14/7/2007) kemarin saya liputan di Ancol, banyak anak-anak yang tampak "bersih" penampilannya, dikawal lengkap oleh orangtua mereka, jalan-jalan di Pasar Seni. Lalu singgah buat ikutan lomba menggambar di sana. Antusiasnya bukan main! Saya tidak pernah lupa dengan binar matanya Beatrice, anak umur 3 tahun yang sibuk mewarnai waktu itu.

Sebenarnya, anak-anak gelandangan juga punya binar mata yang sama ketika mereka antusias menerima uang kertas ribuan rupiah dari tangan kita.
Kadar pola pikirnyanya sungguh seperti jurang dan pegunungan. jauuuuhhh..banget!

Penanganan pemerintah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung ini, memang terkesan terpenggal-penggal. Depsos sibuk ama kampanye hak kesejahteraan hidup bagi anak. Depdiknas sibuk sendiri dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dan program BOS nya. Departemen Kesehatan, sibuk sorangan ngurusan kebutuhan gizi anak-anak ini.

Bayangkan, ada 3 departemen yang mengurusi hak anak. Belum lagi, ditambah dengan LSM-LSM Perlindungan Anak. Hmmm..banyak ya! sayangnya, mereka sibuk sendiri-sendiri, berlomba-lomba bikin program unggulan supaya dapet perhatian presiden dan perhatian dunia. Biasaaalaahh..egoisme Departemen masing-masing kan pasti jadi motivator kuat untuk masalah ini.

Sementara itu, program bantuan yang datang luar negeri, udah pasti lebih bagus. Tapi banyak dicurigai juga mengambil keuntungan "terpendam". Jadi, mustinya cara paling jitu adalah kurangi angka kelahiran dan pikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup yang jadi hak anak itu. Jika belum bisa terpenuhi, jangan "bikin" anak duluuuuuu.

Jangan lagi pake semboyan ,"Banyak anak, banyak rejeki."
Kuno banget sih looo..!!! Pikirkan juga secara berimbang tentang hak anak-anak kalian nantinya. Supaya Indonesia tidak terlalu lama jadi negara konsumen dan negara produsen yang terjajah terus menerus.

Untuk anak-anak Indonesia, "Selamat hari Anak Nasional, semoga kalian menjadikan Indonesia lebih baik lagi, lebih trendy lagi, dan lebih berkuasa atas separuh lebih wilayah Asia Tenggara."

Catatan: yang disebut sebagai anak adalah (manusia usia 0 s/d 17 tahun).


Writer : Ayu N. Andini

Monday, July 16, 2007

Menjaga Diri dari Diriku Sendiri


Udah pasti kenal dengan yang namanya bahaya laten. Itu, bahaya yang datangnya dari dalam. Seperti musuh dalam selimut. Seperti duri dalam daging. Seperti cabe rawit yang ditaruh di dalam tahu goreng. Mulus dari luar, tapi sekali gigit, ah...pedas!

Ketika aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah membocorkan rahasia tentang potensi diri setiap manusia, aku mafhum. Karena jika semuanya terlalu sadar akan hal itu, akan terjadi perang dunia ke-3, ke-4, dan ke-5, mungkin yang ke-6 sekarang.


Iya!! Karena ketika semua manusia sangat sadar pada kelebihan-kelebihan yang ia miliki, ia akan dilahap mentah-mentah oleh instingnya sendiri. Manusia kan lekat dengan image "tak pernah puas". Ada sebagian efek positif yang akan terjadi, tapi akan terjadi peristiwa kanibalisme besar-besaran.

Lihat aja, toko-toko yang pasang tulisan besar-besar "DISKON 70%", tau kan, rekasi apa yang akan terjadi? belanja sepuasnya, sampe duitnya cekak, cuman cukup buat ongkos taksi pulang ke rumah.

Ketika setiap manusia sadar pada kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, itu letaknya seperti pada labirin tipis. Karena sesuatu yang sangat terkenal akan menjadi batas bahwa tak semua hal harus kita mengerti. Itu, namanya TAKDIR.

Ada banyak rahasia di sana. ketika kita sadar, kita bisamembaca, apa yang ada dipikiran kita? Akan ada banyak rahasia yang terungkap! Tapi tidak untuk yang satu itu. TAKDIR, jadi rahasia yang dipegang teguh Tuhan bagi semua ciptaannya. Aku percaya itu. Takdir itu penuh dengan rencana-rencana Tuhan, yang cuma diketahui Tuhan. Mungkin malaikat cuma bisa mengintip aja. Tidak benar-benar tahu persis.

Aku jadi paham, karena ternyata tak ada manusia yang diijinkan bisa membaca dan memahami dirinya sendiri. Tuhan hanya menginjinkannya sebanyak mmm... 50% kira-kira. Tidak bisa lebih. Sisanya, jadi tugas manusia lain untuk bisa membaca dan memahaminya. Itu sebabnya kita punya sahabat, teman dekat, pacar, istri, suami, ibu, ayah, anak, cucu, kakek, nenek kita sendiri. Bahkan mungkin ada sebagian kecil mmm..10% nya jadi jatah dukun-dukun dan paranormal yang dibayar utk meramal, membaca dan memahami.

Memang butuh cermin, untuk bisa paham tentang diri sendiri. Dulu, saya pernah dengar tentang Lacan, yang banyak bicara tentang mirror effect. Ah..tapi bisa gila, baca bukunya.

Masing-masing dari kita mungkin sadar potensi, setelah kita bekerja. Dan dikontrak secara profesional. Dibayar gajinya tiap bulan. Karya atau kerjaan dihargai dengan karir dan upah. Itu, pemahaman yang berjalan di sini. Di tempat yang fana ini.

Hmm...bagaimana kita bisa paham tentang kedalaman keinginan kita sendiri?
Aku merasakannya sekarang seperti menyelam ke kedalaman laut, lalu masuk ke palungnya yang entah....seperti tak pernah ada dasarnya yang bisa kuraba.

Apakah cita-cita menjadi batas dari semuanya? Lalu bagaimana dengan harapan-harapan orang yang menyayangi kita? Apakah itu juga menentukan dan membentuk keinginan-keinginan kita? Mau ditaruh dimana mereka?
Bagaimana membuat mereka mengerti aku? Bagaimana membuatku mengerti mereka? Karena ternyata, ada bahaya yang sedang mengancamku. Itu, diriku sendiri..!!! Aku butuh orang lain untuk membantuku mengendalikannya. Tapi tak ada yang kulihat menoleh padaku, saat ini. Semuanya sibuk dengan potensi dirinya masing-masing.


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

Tittle : Power of Nature 01

Friday, July 13, 2007

Improvisasi Kesuburan



Air mencacah batu menjadi belah
Akar menembus dinding menjadi retak
Daun tertidur di tanah, namun tak lantas merusaknya.

Aku datang ke sini, punya janji ketemu dengan daun-daun di pelataran parkir
Aku me-lap keringatmu, lantaran hatiku berjanji pada tubuh dan otakku.
Aku mengingat semua yang pernah kulupa,
karena aku tak ingin kembali ke masa lalu.

Walau aku menanti usia seperti pohon jati
Setelah cukup umur, akan ditebang.
Walau aku menanti usia seperti pohon karet
Setelah cukup umur, baru pantas ditoreh.

Aku menantimu seperti laut.
Yang rindu angin, bunyi kapal, tebaran jala nelayan, dan datangnya ribuan ikan di dalamku.

Aku menjelma menjadi samudera kecil.
Kosong dan sepi.
Menanti alam memberi dayanya padaku.

Sekarang, aku jadi merpati yang terbang padamu.
Cuma ingin sampaikan surat.
Katanya isinya penting, buatmu.
Surat ini dari masa lalu..
Tapi aku datang dari masa depanmu.
Lalu kutaruh surat untukmu ke dalam botol.
Kularungkan ke samudera.
Maaf, sudah kubuang.
Mungkin kamu sedang menungguku,
Maaf, aku tidak bisa datang.
Ada meeting merpati pos antar negara.

Pagi ini, aku jadi demonstran
bergerombol berjalan kaki ke istana negara.
Aku memakai penutup wajah supaya tak mudah dikenali
Aku membawa spanduk bertuliskan : SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Aku juga berteriak keras-keras :HAI..SEMOGA PANJANG UMUR YA!!! AKU SELALU BERDOA, TUHAN AKAN MELINDUNGIMU!!!

Tapi tak kulihat dirimu
yang kini masih senang menyapa masa lalumu.

Happy birthday, honey..
I really don't know about what you want from me..

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle : The Print of Nature

Thursday, July 12, 2007

Menjadi Rahasia


Aku pernah tak paham tentang rahasia.
Yang pertama kali aku tahu, ada sesuatu yang tak terpahami. Dan itu hanya dipahami orang lain di luar diri dan tubuhku.
Dan bagi yang tahu ini, tak juga ingin membaginya denganku.

Sejak itu, aku sering memuaskan pikiran-pikiranku dengan kegiatan "mencari tahu". Lalu, tiba-tiba aku menjelma menjadi anak kecil yang sangat banyak bertanya. Seperti ketika pertama kalinya aku mengintip ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar, sendirian. Kudekati dia, kupeluk dia, dan aku ikut menangis. Kutanya padanya, "Ada apa, ma?"

Tapi, tak pernah ada jawaban. Esoknya, aku tidak melihatnya menangis, tapi aku melihatnya tak bercakap-cakap lagi dengan ayahku. Wajah mereka, kecut bagiku. Tapi aku bertanya, "Kenapa, pa?
Dan tidak lama kemudian, ada bunyi piring pecah di ruang makan. Ibuku lari masuk ke kamar. Ayahku berdiri tegak, semua makanan di piringnya sudah berantakan di lantai.
Aku tidak paham, kenapa tak ada pertanyaanku yang ingin mereka jawab.

Tapi beberapa hari kemudian, kulihat mereka seperti hari-hari yang biasa. Bercakap-cakap saat makan siang dan makan malam, lalu ayahku menanyakan kegiatanku di sekolah. Dan kami tertawa bersama, waktu nonton video rekaman disko bola yang ayahku simpan di kaset VHS nya.

Akhirnya aku paham, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku hanya untuk mereka berdua saja.
Dan bukan buatku, perempuan kecil, usia sembilan tahun.

Itukah yang namanya rahasia? Apakah rahasia adalah sesuatu yang punya rasa, bau, dan dapat kurasakan halus kasar permukaannya? Bagaimana rupanya rahasia itu? Kapan aku bisa berahasia? Waktu itu, aku punya banyak pertanyaan. Tapi kusimpan saja, buatku. Apakah aku juga sudah berahasia? Apakah berahasia itu membuat dosa? Waktu itu, aku belum tahu.

Sekarang, aku menjadi si rahasia.
Yang digelapkan. Yang disembunyikan. Yang tak terkatakan.

Jangan tanya bagaimana rasanya menjadi si rahasia.
Karena aku akan menjawab:
rasanya seperti ditiup angin dingin musim kemarau.
rasanya seperti di tampar-tampar oleh gerimis.
rasanya seperti pohon karet yang ditoreh-toreh dan disadap getahnya,
lalu ditinggal jika getahnya mengering...

(karena menjadi rahasia, membuatku tak ingin melanjutkan hidupku terlalu lama..)


Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini
Tittle: Lonely